Selasa, 28 April 2026

Berita Langsa

AWF dan KPH III Aceh Usung Pemanfatan Kawasan Hutan Mangrove Model Silvofishery 

Sosialisasi ini dihadiri tokoh adat dan masyarakat pesisir di wilayah Kota Langsa, serta sejumlah pejabat terkait di lingkungan Pemerintah Kota Langsa

Penulis: Zubir | Editor: Muhammad Hadi
For Serambinews.com
Aceh Wetland Foundation (AWF) bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah III Aceh menggelar sosialisasi pemanfaatan tambak dalam kawasan hutan mangrove. Acara ini berlangsung di Pangeran Coffe Kota Langsa, Selasa (19/12/2023) 

Sosialisasi ini dihadiri tokoh adat dan masyarakat pesisir di wilayah Kota Langsa, serta sejumlah pejabat terkait di lingkungan Pemerintah Kota Langsa.

Laporan Zubir | Langsa

SERAMBINEWS.COM, LANGSA - Aceh Wetland Foundation (AWF) bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah III Aceh menggelar sosialisasi pemanfaatan tambak dalam kawasan hutan mangrove.

Acara ini berlangsung di Pangeran Coffe Kota Langsa, Selasa (19/12/2023).

Sosialisasi ini dihadiri tokoh adat dan masyarakat pesisir di wilayah Kota Langsa, serta sejumlah pejabat terkait di lingkungan Pemerintah Kota Langsa.

"Pemanfaatan hutan berkelanjutan saat ini menjadi kewajiban mendesak di tengah krisis iklim global," ujar Direktur AWF, Yusmadi Yusuf, saat memberikan materi pada kegiatan itu.

Dalam pemanfaatan hutan mangrove ke depan ini, terang Yusmadi, AWF dan KPH Wilayah III Aceh akan mengusung model silvofishery atau tambak paritan untuk diterapkan oleh mayarakat pengelola tambak.

Artinya, tambak masyarakat harus tetap menanam atau menjaga pohon mangrove di area sekitar masih dalam kawasan tambak, dengan tujuan untuk menutup kembali hutan yang telah terbuka. 

Baca juga: Aceh Timur Sambut PON XXI Aceh-Sumut Dengan Segala Kesiapan

"Ini menjadi solusi inovatif dalam pengelolaan tambak di kawasan hutan mangrove yang nantinya wajib dipraktikan oleh pemilik tambak," sebutnya.

Dikatakannya, model silvofishery menjadi langkah positif untuk memanfaatkan tambak secara berkelanjutan, dengan menggabungkan aspek ekonomi masyarakat dan pelestarian ekologi.

Pemanfaatkan tambak model silvofishery ini menjadi wadah peningkatan penghasilan ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem mangrove di kawasan.

Maka, sosialisasi ini menjadi forum penting bagi para peserta, terutama tokoh adat dan masyarakat pesisir, maupun pejabat pemerintah bidang terkait untuk saling berinteraksi dan mendiskusikan implementasi model silvofishery. 

"Pada sosiasialisasi ini langkah-langkah konkret dalam pengelolaan tambak dan pelestarian hutan mangrove menjadi fokus utama pembicaraan," paparnya.

Sambung Yusmadi, kerja sama antara AWF dan KPH Wilayah III Aceh di kegiatan ini menggaris bawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor guna mencapai tujuan keberlanjutan dalam pelestarian tambak dan hutan mangrove.

Baca juga: Pecah Ban dan Hilang Kendali, Pajero Sport Tabrak Tiang Baliho di Lampisang

Pelestarian tambak dan hutan mangrove menjadi agenda bersama yang juga melibatkan Pemko Langsa sebagai upaya menghadapi tantangan perubahan iklim. 

Kemudian keberhasilan model silvofishery diharapkan dapat memberikan inspirasi dan contoh bagi kawasan lain untuk menggandeng masyarakat dalam menjaga kelestarian alam.

Sosialisasi ini menjadi langkah konkrit menciptakan pemahaman bersama akan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan. 

"Semangat kolaborasi AWH dan KPH Wilayah III Aceh berkomitmen akan terus mendorong praktik-praktik berkelanjutan demi masa depan kawasan hutan lebih baik," tutup Yusmadi. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved