Jurnalisme Warga
Dalam Hikayat Aceh Nama Sultan Iskandar Muda Tak Tersebut Sekali pun
NAMA Sultan Iskandar Muda pertama kali dapat kita lihat dalam Kitab Bustanus Salatin karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry.
T.A. Sakti, penulis tesis “Historiografi Lokal di Aceh: Studi terhadap Hikayat Malem Dagang”, Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh tahun 2015, melaporkan dari Gampong Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar
NAMA Sultan Iskandar Muda pertama kali dapat kita lihat dalam Kitab Bustanus Salatin karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Dalam Hikayat Malem Dagang, turut kita jumpai namanya dalam dialek bahasa Aceh: Iseukanda (r) Muda. Menurut para ahli, kedua karya ini ditulis pada abad 17 Masehi.
Teuku Iskandar dalam buku “Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad” yang terbit tahun 1996 menyebut, Nuruddin Ar-Raniry datang ke Aceh pada tahun 1047 H/1637 M. Setelah mangkatnya Sultan Iskandar Muda tahun 1636 M dan Sultan Iskandar Tsani baru saja naik tahta di Kerajaan Aceh. Dalam buku tersebut juga disebutkan, sewaktu Sultan Iskandar Muda masih hidup, Nuruddin Ar-Raniry pernah hendak singgah ke Aceh, tetapi Sultan Iskandar Muda menolak kehadirannya.
Dalam menghadapi kondisi demikian, akhirnya Ar-Raniry memutuskan untuk tidak kembali ke negeri asalnya di Gujarat, India. Namun, ia terus berlayar ke Semenanjung Tanah Melayu (sekarang Malaysia) dan menetap di Kerajaan Pahang; negeri asal Sultan Iskandar Tsani. Nama Sultan Iskandar Muda dalam Kitab Bustanus Salatin antara lain disebutkan: ”Syahdan adalah diilhamkan Allah ta’ala dalam hati Raja Iskandar Muda memileh Sultan Mughal (nama remaja Sultan Iskandar Tsani) akan gantinya itu seperti Nabiullah Daud memileh dalam antara segala anaknya Nabiullah Sulaiman akan gantinya.”
Dalam Hikayat Malem Dagang, nama Sultan Iskandar Muda juga banyak disebutkan. Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda termasuk orang pertama yang mengkaji hikayat tersebut. Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan berjudul “Aceh di Mata Kolonialis”, pada jilid 2 buku tersebut Snouck Hurgronje menuliskan, Hikayat Malem Dagang disusun tidak lama setelah peristiwa terjadi, yakni dalam kurun waktu abad ke-17 M. H.K.J. Cowan adalah penulis disertasi tentang Hikayat Malem Dagang pada tahun 1937. Dalam kajiannya yang berjudul “De Hikajat Malem Dagang”, Cowan turut menegaskan bahwa Hikayat Malem Dagang dikarang pada abad 17 M.
Keterangan mengenai tahun keberadaan hikayat tersebut juga dikuatkan oleh Prof. A. Hasjmy. Sastrawan lokal tersebut mengatakan, Hikayat Malem Dagang mulai ditulis pada hari Senin tanggal 27 Rajab 1055 H/1645 M, pada masa pemerintahan Ratu Tajul Alam Safiatuddin Syah tahun 1641–1675.
Nama Sultan Iskandar Muda dalam Hikayat Malem Dagang baris 1039-1042, tertulis pada salah satu penggalannya, sebagai berikut: ”Jinoe meuhaba Meukuta Alam, raja jimeunan Eseukanda Muda. Adak kuthee meunoe tungang, Malem Dagang han kuboeh panglima. Jikalee kuboeh Panglima Pidie, mangat meusie mita bicara. Nyoeka kuboeh Malem Dagang, keureuna biek tungang rukon mubaka”, (Lalu berkata Mahkota Alam, raja bernama Iskandar Muda. “Kalau kutahu amat pembangkang, Malem Dagang tak kujadikan panglima. Andai kuangkat Panglima Pidie, mudah dicari akal bicara. Kini sudah kuangkat Malem Dagang, karena pemberani, keturunan ternama.”)
Jika menilik biografi Sultan Iskandar Muda secara mendalam, terlihat bahwa sosok Sultan Iskandar Muda adalah seorang Raja Mahabesar bagi Kerajaan Aceh Darussalam alias Raja Diraja. Di pihak ayah, ia merupakan cicit dari Sultan Alaiddin Riayat Syah al-Kahar, Sultan Aceh yang paling gigih menyerang Portugis ke Melaka berkali-kali. Di pihak ibu, Iskandar Muda adalah cucu dari Sultan Saidil Mukammil, raja yang memakmurkan negeri Aceh. Dalam masa pemerintahan Saidil Mukammil, Aceh bersahabat dan damai dengan Portugis.
Dalam menelusuri kisah-kisah dalam naskah Hikayat Aceh yang sudah diakui Unesco sebagai Memory of the World (memori warisan dunia), kita mendapati peran kakek, yaitu Sultan Saidil Mukammil dalam kehidupan Iskandar Muda amat besar pengaruhnya.
Dapat dikatakan, sejatinya Saidil Mukammil yang bergelar Syah Alam yang menempa jiwa dan raga sosok Iskandar Muda menjadi sultan agung di Kerajaan Aceh Darussalam. Sejak masa anak-anak hingga umur 16 tahun, peran ibu dan ayah sama sekali tidak disinggung lagi dalam manuskrip Hikayat Aceh. Selama periode itu, lebih lima puluh halaman dalam Hikayat Aceh hanya menceritakan keakraban antara kakek dan cucunya saja. Nama cucunya pun sering berganti sebagai pertanda kasihnya. Pada umur di bawah tiga tahun, oleh Saidil Mukammil diberi nama Raja Zainal. Namun, saat berumur tiga tahun, berganti nama menjadi Raja Silan.
Ketika beranjak empat tahun, Iskandar Muda kembali berganti nama menjadi Abangta Raja Munawar Syah. Setiap pergantian nama tersebut tertulis jelas dalam Hikayat Aceh, sebagai berikut, “Maka sabda Syah ‘Alam kepada Yang Dipertuan (gelar untuk kepala pengawas istana) ‘Bahwa cucunda ini janganlah disebut Raja Zainal dan Raja Silan itu. Maka yang dijatuhkan Allah subhanahu wata’ala ilham ke dalam hati hamba, baik kita sebut Raja Munawar Syah, karena cucu hamba ini pilihan Allah Ta’ala lagi terlalu lebih bahagianya’.”
Selain Raja Zainal, Raja Silan, dan Raja Munawar Syah, masih banyak lagi nama kecil dari Sultan Iskandar Muda yang dianugerahkan dari kakeknya, seperti: Pancagah, Darma Wangsa Tun Pangkat, Johan ‘Alam, dan Perkasa Alam.
Nampaknya, setelah mendapat nama Raja Munawar Syah, Pancagah, dan Perkasa Alam, ketiga nama itulah yang sering digunakan oleh pengarang Hikayat Aceh. Misalnya: ”Maka tatkala sampailah umur Abangta Raja Munawar Sya , yang bertimang-timangan (nama kesayangan) Perkasa Alam itu sepuluh tahun, pada masa Syah Alam bertahta kerajaan, maka pada suatu masa datang antusan (utusan) daripada raja Pertugal dua orang, seorang bernama Dong Dawis dan seorang bernama Dong Tumis.”
Dalam disertasi mengenai Hikayat Aceh, Teuku Iskandar menuliskan ”...Teks aslinya sebenarnya adalah Hikayat Iskandar Muda, dengan catatan di sini, bahwa di dalam seluruh teks itu tidak disebut-sebut nama Iskandar Muda. Penulisnya menyebut pahlawan itu sekali dengan panggilan Pancagah dan Johan Alam dan lain kali dengan panggilan Perkasa Alam. Nama Iskandar Muda untuk pertama kali dinyatakan di dalam Bustanus Salatin dan Hikayat Malem Dagang.”
Kemudian, Denys Lombard dalam disertasinya berjudul “Kerajaan Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)” menulis tentang Hikayat Aceh, sebagai berikut: ”Akan tetapi perlu dicatat bahwa nama Iskandar Muda sendiri yang tidak disandangnya sebelum ia naik tahta, tiada termuat dalam bagian yang tersimpan sampai sekarang. Raja itu berturut-turut dinamakan Pancagah, Johan Alam, dan Perkasa Alam.”
Dapat disimpulkan, dalam seluruh isi naskah Hikayat Aceh; tidak satu kali pun pernah disebut nama Sultan Iskandar Muda. Sebab, seperti pendapat kebanyakan sejarawan yang mengkaji sejarahnya bahwa nama Iskandar Muda merupakan gelar yang disahkan setelah beliau naik tahta sebagai pemimpin tertinggi di Kerajaan Aceh Darussalam. Sayangnya, manuskrip bagian itu sudah hilang!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TA-Sakti-BARU-OKE.jpg)