Opini
Menyoal Keberadaan HP Siswa di Sekolah
Semua impak kesehatan dari kecanduan HP di kalangan mereka, menjadi perhatian para pakar pendidikan saat ini di luar negeri.
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Guru Besar Antropologi Agama pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry
BARU-baru ini, saya terlibat diskusi yang cukup alot mengenai kebolehan siswa membawa HP ke sekolah. Hal ini disebabkan ada sebagian orang tua yang menginginkan anak-anak mereka membawa HP ke sekolah. Tentu saja dengan berbagai alasan, seolah-olah anak-anak cukup jauh dari sisi mereka. Namun ada juga yang tidak menginginkan anak-anak mereka membawa benda digital ini ke sekolah. Dalam artikel singkat ini, saya akan mengulas sedikit banyak pengaruh HP ini terhadap pelajar yang menginjak pubertas yang mengalami kecanduan dengan media sosial.
Studi terkini yang ditulis oleh Jonathan Haidt (2024) mengatakan bahwa untuk mengubah gangguan mental pada anak-anak, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan menjadikan sekolah bebas dari handphone.
Temuan riset ini menunjukkan bahwa epidemik baru yang dialami oleh anak-anak adalah gangguan mental yang cukup akut. Mereka kadang gelisah tidak menentu. Selalu ingin tampil sempurna di media sosial. Kecanduan dengan memfoto diri sendiri di media sosial.
Bagi mereka yang hobi main game, maka perilaku agresif, tidak dapat dinafikan. Terkadang mereka juga tidur di atas jam 12 malam, dimana jam istirahat berkurang, sehingga menyebabkan kebugaran mereka terganggu. Semua impak kesehatan dari kecanduan HP di kalangan mereka, menjadi perhatian para pakar pendidikan saat ini di luar negeri. Hal ini kemudian ditambah dengan konsumsi jajanan yang jauh dari kata sehat, yang dijual di pinggir jalan.
Saat ini, ruang anak-anak atau remaja tampaknya hanya di rumah dan sekolah. Selama di sekolah, mereka akan berinteraksi dengan guru dan sesama mereka. Hampir dapat dikatakan bahwa mereka yang masuk ke sekolah menengah atas saat ini adalah kelahiran 2009 dan 2010. Mereka adalah generasi yang benar-benar dikondisikan menjadi setengah manusia, setengah robot.
Pengaruh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) pada diri mereka sudah demikian parah. Sehingga generasi ini diprediksi akan mengganggu gangguan mental yang cukup parah dalam beberapa tahun ke depan. Tentu saja, para pendidik di Aceh tidak setuju dengan temuan penelitian di atas. Sebab, orang tua masih tunduk pada anak-anak mereka untuk mengakrabkan HP pada putra-putri mereka.
Bahkan, di sekolah tertentu, para siswa mengalami gangguan mental, ketika orang tuanya tidak mampu membelikan HP dengan merek tertentu – Iphone misalnya. Istilah yang paling sering dikatakan adalah kena mental. Ketika ke sekolah tidak menggunakan merek HP tertentu tersebut, sementara teman-temannya menggunakan merek tersebut, maka tingkat kepercayaan diri anak tersebut mulai terganggu.
Perilaku kena mental ini telah merambat di beberapa sekolah. Dalam hal ini, pihak sekolah sama sekali tidak menganggap penting akan dampak kejiwaan pada anak-anak didik mereka di sekolah. Sebab sekolahnya menjadi pelaku industri pendidikan. Anda suka ke sekolah kami, maka ikutilah aturan sekolah kami. Jika tidak, silahkan angkat kaki dari sekolah kami! Keengganan pihak sekolah menyadari perubahan perilaku anak yang semakin terganggu jiwa mereka, membuktikan bahwa pendidik di negeri kita adalah ibarat mesin pendidik semata, tanpa memiliki beban nurani tentang moral dan etika sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Sampai saat ini pun, pemerintah belum melihat perilaku anak-anak membawa HP ke sekolah sebagai masalah besar. Hemat penulis, keberadan HP di tangan pelajar sekolah merupakan akibat dari pola pembelajaran pada Covid-19 yang lalu. Hingga sekarang, alasan untuk mengikuti perkembangan zaman, merupakan azimat sosial, untuk mengatakan bahwa anak-anak boleh membawa HP ke sekolah mereka.
Pola pembelajaran seperti ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang menunjukkan sudah maju atau canggih sama sekali. Saat itu, tuntutan keadaanlah yang menjadikan situasi mendesak kehadiran HP di tangan pelajar, baik di rumah maupun di sekolah. Adapun mengenai alasan orang tua yang ingin anak-anak mereka tetap memakai HP di sekolah juga dapat dipahami. Sebab logika anak yang dekat dianggap jauh oleh para orang tua, sehingga diperlukan perangkat untuk selalu mengontak mereka.
Tentu pola pikir ini tidak dapat disalahkan, khususnya di kalangan generasi orang tua yang kelahiran 1980-an ke atas. Pola pikir anak jauh dan mudah dihubungi, menjadikan seolah-olah HP-lah yang bisa menyatukan mereka, kendati berpisah dalam kadar beberapa jam saja dan masih tinggal dalam satu kawasan.
Gangguan mental
Kemunafikan sosial ini ternyata tidak berbanding lurus dengan perilaku orang tua yang juga jarang berkomunikasi langsung dengan putra-putri mereka. Fenomena makan di warung, dimana seluruh anggota keluarga sibuk dengan gawai masing-masing, menjadi fakta yang tidak terelakkan. Dengan kata lain, saat mereka dekat pun, ternyata mereka sangat berjauhan dalam berkomunikasi dua arah. Anak sibuk main game. Orang tua sibuk scroll di IG, Tik Tok, dan Shorts Youtube. Jadi, kemunafikan sosial ini kemudian memperkuat landasan bahwa para orang tua juga menjadi kontributor aktif anak-anak mereka mengalami gangguan mental.
Kontribusi guru dan orang tua inilah yang kemudian membentuk generasi yang tidak sehat di Aceh. Guru yang melakukan transfer pengetahuan ternyata tidak menyadari bahwa keengganan mereka untuk melarang HP di sekolah, telah merusak generasi muda Aceh di masa yang akan datang. Pola pembelajaran yang memakai HP ini seolah-olah memudahkan, walau dalam hal tertentu memberikan impak yang cukup membahayakan. Beberapa sekolah masih menganggap bahwa fenomena ini tidak bermasalah. Hal ini sangat boleh jadi dipicu oleh perilaku para pendidik yang juga mengalami kecanduan yang sama terhadap gawai.
Akibatnya, ketika kita berharap banyak pada dunia pendidikan untuk mampu menjadi tempat pembelajaran yang mampu menyehatkan lahir dan batin siswa, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Sebab, pihak sekolah akan “cuci tangan” ketika anak-anak mengalami gangguan mental dalam kehidupan sosial mereka. Bahkan orang tua yang ingin mengobati penyakit gangguan mental ini cenderung dipandang sebagai “musuh” sekolah yang harus dicurigai. Pola kerja sama untuk membuat penyakit gangguan mental ini tampaknya terjadi di dalam ruang pembelajaran di sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kamaruzzaman-Bustamam-Ahmad-OKEEE.jpg)