Opini
Menyoal Keberadaan HP Siswa di Sekolah
Semua impak kesehatan dari kecanduan HP di kalangan mereka, menjadi perhatian para pakar pendidikan saat ini di luar negeri.
Uniknya, di negara yang cukup canggih peradaban teknologinya, seperti Jepang, sama sekali melarang para siswa membawa HP ke sekolah. Ternyata orang tua pun setuju dengan aturan tersebut. UNESCO juga telah merekomendasikan untuk melarang anak-anak membawa HP ke sekolah, karena interaksi secara langsung lebih tepat dibandingkan dengan HP. Hal ini menunjukkan bahwa para ahli pendidikan memandang interaksi pendidikan yang baik adalah tanpa melibatkan HP di dalamnya.
Atas dasar ini, pemerintah Aceh sejatinya dapat meninjau kembali keberadaan HP di sekolah yang telah menjadi perhatian dunia internasional. Saat negara maju berpikir menjauhkan HP dari anak-anak di sekolah, kita yang baru saja berkenalan dengan teknologi digital ini, malah melakukan sebaliknya. Kita bangga ketika anak-anak kita memakai HP dengan merek tertentu di sekolah. Guru pun bangga kalau mereka dapat berinteraksi dengan peserta didik mereka melalui HP. Anomali dalam dunia pendidikan di Aceh sejatinya dapat terselesaikan dengan baik.
Kita menitipkan anak-anak kita pada sekolah, tidak hanya berharap pada peningkatan kecerdasan mereka, tetapi bagaimana perilaku mereka juga berubah. Karena itu, sangat naif jika pihak sekolah dan pemerintah tidak memikirkan bagaimana kondisi yang benar-benar kondusif bagi pembelajaran bagi anak-anak kita. Para ahli sudah menghubungkan gangguan mental anak-anak yang kecanduan HP, sementara kita masih duduk diam sambil mengatakan bahwa sekolah kami dibolehkan anak-anak untuk membawa benda. Tentu ini adalah perilaku yang kontraproduktif dalam dunia pendidikan di Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kamaruzzaman-Bustamam-Ahmad-OKEEE.jpg)