Kamis, 14 Mei 2026

Konflik Palestina vs Israel

Israel Ancam Bunuh Pemimpin Hamas Yahya Sinwar

Israel menyatakan akan menghabisi Yahya Sinwar, pemimpin baru Hamas yang ditudingnya menjadi otak di balik serangan pada 7 Oktober.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
AFP/MAHMUD HAMS
Hamas menetapkan Yahya Sinwar sebagai pemimpin biro politik kelompok itu pada Selasa (6/8) menggantikan Ismail Haniyeh yang tewas dalam serangan di Iran. 

SERAMBINEWS.COM, TEL AVIV Israel menyatakan akan menghabisi Yahya Sinwar, pemimpin baru Hamas yang ditudingnya menjadi otak di balik serangan pada 7 Oktober. 

Seperti yang diketahui, Sinwar ditunjuk sebagai pemimpin Hamas setelah pendahulunya, Ismail Haniyeh, dibunuh di Teheran, Iran pada 31 Juli 2024.

Iran dan Hamas menuding Israel berada di balik pembunuhan Haniyeh. Sementara Israel tidak secara terbuka membantah maupun mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan Haniyeh.

Namun, The Washington Post pada Rabu (7/8/2024) melaporkan, Israel mengaku membunuh Haniyeh kepada Amerika Serikat (AS) yang dilaporkan berang setelah mendengar pengakuan tersebut.


Kematian Haniyeh meningkatkan kekhawatiran di Timur Tengah di mana Israel berpotensi mendapatkan serangan balasan dari Iran.

Meski begitu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan siap menghadapi segala ancaman baik secara defensif maupun ofensif. 

Di hadapan rekrutan baru militer pada Rabu, Netanyahu menekankan Israel akan mempertahankan diri dengan tegas.

"Kami siap bertahan dan menyerang," ujar Netanyahu, dikutip dari Al Arabiya.

Baca juga: VIDEO Menlu Israel Langsung Buat Seruan Penyingkiran usai Yahya Sinwar Jadi Pemimpin Baru Hamas

Sementara Kepala Staf Angkatan Darat Israel Letnan Jenderal Herzi Halevi menyatakan akan memburu Sinwar. 

"Kami akan menemukan dan menyerangnya. Hamas akan dipaksa untuk mencari pemimpin baru," katanya.


Sinwar, yang telah memimpin Hamas di Gaza sejak 2017, dianggap memiliki hubungan lebih dekat dengan Iran dibandingkan Haniyeh, yang selama ini tinggal di Qatar. 

Para analis menilai Sinwar cenderung lebih keras dan kurang bersedia untuk menyepakati gencatan senjata di Gaza.

“Jika kesepakatan gencatan senjata sudah sulit tercapai di bawah kepemimpinan Haniyeh, maka hal ini akan menjadi semakin sulit di bawah Sinwar,” ujar Rita Katz, Direktur Eksekutif SITE Intelligence Group, lembaga konsultan AS dengan spesialisasi intelijen kontraterorisme. 

Katz menilai Hamas kini semakin mengandalkan strategi militan garis keras.

AS dan Prancis telah mengimbau Israel dan Iran untuk menahan diri guna menghindari eskalasi lebih lanjut. 

Presiden AS Joe Biden dan Menteri Luar Negeri Antony Blinken menyampaikan pesan serupa kepada kedua negara tersebut.

Di pihak lain, sekutu Hamas yang berbasis di Lebanon, Hizbullah, berjanji akan membalas kematian Haniyeh dan komandan militernya, Fuad Shukr, yang tewas dalam serangan Israel di Beirut.

Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, menyatakan kelompoknya akan merespons serangan tersebut baik secara sendiri maupun bersama sekutu Iran lainnya di kawasan. 

 

 

Baca juga: Daftar Khatib dan Imam Shalat Jumat di Aceh Barat pada 9 Agustus 2024, Tak Salat Jumat Bisa Dicambuk

Baca juga: Kasus Pembangunan Rusun PNL Senilai Rp 14 Miliar Naik Status ke Tahap Penyidikan, 11 Orang Diperiksa

Baca juga: VIDEO - Langit Israel Terancam Bergemuruh, Jet F-22 AS akan Duel Udara dengan Su-35 Rusia

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved