Berita Banda Aceh
BNPB Kembangkan Teknologi AR dan VR untuk Mitigasi Bencana
Simulasi-simulasi tersebut nantinya dapat membantu masyarakat meningkatkan kesadaran risiko bencana dan mengoptimalkan sistem evakuasi.
Laporan Rianza Alfandi | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai mengembangkan teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) sebagai upaya memitigasi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan cara kerja teknologi VR dan AR tersebut yakni dengan menyimulasikan berbagai jenis bencana, seperti gempa bumi, banjir, hingga tsunami. Termasuk cara menyelamatkan diri saat adanya malapetaka.
Simulasi-simulasi tersebut nantinya dapat membantu masyarakat meningkatkan kesadaran risiko bencana dan mengoptimalkan sistem evakuasi.
“Perangkat VR dan AR ini untuk mengajak masyarakat bagaimana bisa merasakan situasi meskipun secara virtual ketika terjadi gempa atau tsunami, jadi dia tahu harus ngapain. Karena ketika larinya ada visualnya di depan mata,” kata Abdul Muhari, kepada Serambinews.com, di Gedung Balee Meuseuraya Aceh (BMA), Kamis (10/10/2024).
Ia menjelaskan, simulasi mitigasi bencana melalui teknologi VR dan AR merupakan bagian dari metode edukasi yang dikembangkan BNPB bekerja sama dengan world bank data.
Di samping itu pengembangan teknologi VR dan AR untuk simulasi bencana juga bagian dari program Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) atau Proyek Prakarsa Ketangguhan Bencana Indonesia.
Baca juga: VIDEO - BNPB Tanam 2.600 Bibit Mangrove di Kuala Cangkoi Ulee Lheue Banda Aceh
Abdul menegaskan, pengembangan teknologi VR dan AR ini tidak digunakan pada saat adanya suatu kejadian melainkan hanya untuk simulasi dan edukasi bagi siswa sekolah serta masyarakat pada umumnya.
“Jadi kalau ada musibah masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan,” ucapnya.
Abdul mengungkapkan, saat ini penerapan teknologi tersebut baru hanya diproyeksikan untuk lima provinsi, di antaranya Maluku, Bali, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah. Di mana daerah-daerah ini dianggap masih rentan terhadap bencana.
Sementara untuk daerah lainnya termasuk Aceh, kata Abdul, bakal dipertimbangkan lebih lanjut sesuai kondisi pendanaan dan alokasi anggaran.
“Tidak hanya untuk Aceh, tapi seluruh daerah-daerah yang rawan tsunami bisa dilengkapi dengan perangkat mitigasi seperti ini, karena alatnya cukup mahal,“ ungkapnya.(*)
Baca juga: Update Terbaru Harga Emas di Banda Aceh Hari Ini per Mayam, Kamis 10 Oktober 2024
Baca juga: AKD Belum Dibentuk, DPR Aceh Masih Ikut Orientasi di Jakarta
Baca juga: Dewan Desak Pemko Lhokseumawe Bisa Segera Ambil Alih Aset Stadion Tunas Bangsa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kepala-Pusat-Data-Informasi-dan-Komunikasi-Kebencanaan-BNPB-Abdul-Muhari.jpg)