Konflik Palestina dan Israel

Warga Palestina: kerusakan Gaza Utara Sangat Luas, Beberapa wilayah Tidak Bisa Dihuni Lagi

"Kerusakan sebelum 5 Oktober 2023 sudah sangat besar, tetapi apa yang terjadi dalam sebulan terakhir tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/AFP
Pasukan Israel telah menyebabkan kerusakan yang sangat luas di distrik-distrik palestina selama serangan ofensif yang sudah berlangsung. 

SERAMBINEWS.COM- Warga Palestina yang terpaksa meninggalkan Gaza utara mengungkapkan bahwa, pasukan Israel telah menyebabkan kerusakan yang sangat luas di distrik-distrik mereka selama serangan ofensif yang sudah berlangsung selama enam minggu.

Sebuah laporan dari kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa Israel mungkin menjadikan beberapa daerah tersebut sebagai zona yang dilarang untuk dihuni secara permanen.

Dilansir dari kantor berita Reuters, beberapa area yang terdampak besar adalah Jabalia, salah satu kamp pengungsi terbesar di Gaza, serta kota-kota Beit Lahiya dan Beit Hanoun, yang menjadi target pertama serangan darat Israel pada Oktober 2023 setelah serangan Hamas ke Israel.

 Tank-tank Israel kembali masuk beberapa kali untuk melaksanakan operasi yang mereka klaim untuk melawan militan yang masih menjadi ancaman.

Baca juga: Viral Orang Maori Anggota Parlemen Selandia Baru Marah atas RUU Kontroversial, Tamsilkan Tarian Haka

Abu Raed, seorang mantan kontraktor yang mengungsi dari Jabalia, mengatakan bahwa pasukan Israel meledakkan bangunan-bangunan dari jarak jauh, menggunakan perangkap atau robot.

"Kerusakan sebelum 5 Oktober 2023 sudah sangat besar, tetapi apa yang terjadi dalam sebulan terakhir tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sebagian besar kamp hancur kali ini," kata Abu Raed, melalui aplikasi pesan.

Ia juga mengungkapkan bahwa di Beit Hanoun dan Beit Lahiya, hampir tidak ada bangunan yang masih berdiri.

"Saya punya teman dan keluarga di Beit Hanoun, hampir tidak ada bangunan yang berdiri di sana, begitu juga di Beit Lahiya," tambah pria berusia 75 tahun itu.

Rekaman video yang menunjukkan orang-orang yang melarikan diri dari daerah tersebut memperlihatkan banyak bangunan yang hancur, tetapi karena terbatasnya akses bagi jurnalis, sulit untuk memverifikasi seberapa parah kerusakan yang terjadi.

Pejabat Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan serangan udara terbaru Israel menewaskan setidaknya 15 orang di seluruh Gaza, termasuk empat orang di Sekolah Salahudeen yang digunakan sebagai tempat perlindungan bagi pengungsi. Israel belum memberikan komentar resmi mengenai hal ini.

Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, Hussam Abu Safiya, mengungkapkan bahwa tidak ada ambulans yang beroperasi di Gaza utara.

 "Saya menerima banyak panggilan darurat dari orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan rumah mereka, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka," katanya.

 "Keesokan harinya, suara mereka sudah hilang, dengan rumah mereka menjadi kuburan mereka. Adegan ini terulang setiap hari."

Sebuah laporan dari Human Rights Watch (HRW) memperingatkan bahwa pemindahan paksa di Gaza telah berlangsung secara luas dan sistematis, serta merupakan bagian dari kebijakan negara Israel.

 HRW menilai bahwa tindakan ini bisa termasuk dalam kategori kejahatan terhadap kemanusiaan dan bahwa pemindahan ini kemungkinan direncanakan untuk menjadi permanen di zona penyangga dan koridor keamanan.

 HRW juga menuduh Israel telah melakukan pembersihan etnis dengan meratakan seluruh kawasan tertentu.

Meskipun Israel membantah tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa pemindahan penduduk dilakukan untuk melindungi warga sipil dari pertempuran, banyak warga Palestina, seperti Abdel-Hadi dari Beit Lahiya yang kini mengungsi di Gaza City, meragukan klaim tersebut.

 "Mereka telah membakar sekolah dan tempat perlindungan sebelum memerintahkan orang-orang untuk pindah ke selatan. Apa yang Anda sebut itu kalau bukan pembersihan etnis?" katanya.

Layanan Darurat Sipil Palestina memperkirakan bahwa sekitar 10.000 mayat mungkin terjebak di bawah reruntuhan, yang akan menambah jumlah korban tewas yang diperkirakan lebih dari 50.000 orang.

 Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa 43.736 orang telah dipastikan tewas sejak 7 Oktober 2023, hari yang sama dengan serangan Hamas yang menewaskan sekitar 1.200 orang Israel dan mengambil sekitar 250 sandera, menurut catatan Israel.

Israel juga melaporkan bahwa bantuan dari UAE telah berhasil masuk ke Gaza utara, namun banyak pihak, termasuk warga Palestina, menganggap pernyataan Israel mengenai bantuan ini menyesatkan.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved