Rabu, 6 Mei 2026

Berita Aceh Timur

Harimau Sumatera Berkeliaran di Aceh Timur, Warga Peunaron Ketakutan

Ketua Forum Keuchik Peunaron, Samsul Bakhri, mengungkapkan bahwa bekas jejak harimau ditemukan di jalan yang biasa digunakan warga sehari-hari

Tayang:
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Muhammad Hadi
Kompas.id/Nikson Sinaga
Foto Ilustrasi - Harimau sumatera berada di kandang yang tidak layak di Kebun Binatang Medan, Sumatera Utara, Senin (8/1/2023). 

Laporan Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI - Teror harimau Sumatera kembali menghantui warga Kabupaten Aceh Timur

Kali ini, jejak macan loreng ditemukan di dekat permukiman warga Gampong Srimulya, Kecamatan Peunaron, Senin (26/1/2025). 

Penemuan tersebut semakin mempertegas keresahan masyarakat yang sebelumnya sudah diwarnai oleh kejadian serupa di wilayah lain.

Ketua Forum Keuchik Peunaron, Samsul Bakhri, mengungkapkan bahwa bekas jejak harimau ditemukan di jalan yang biasa digunakan warga sehari-hari. 

Baca juga: Harimau Mangsa Ternak Warga Aceh Timur, Masyarakat Makin Resah

“Jejak tapaknya cukup banyak di jalan lintas yang sering dilewati masyarakat. Bahkan, lokasinya sangat dekat dengan perumahan warga,” ujarnya kepada wartawan.

Akibatnya, rasa takut dan gelisah melanda warga setempat. 

Menurut Samsul, banyak warga yang kini enggan ke ladang atau kebun untuk mencari nafkah. 

Bahkan, untuk keluar rumah pada malam hari menuju pusat kecamatan, masyarakat merasa was-was. 

Ia pun mendesak pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi situasi ini.

“Kehadiran harimau yang mendekati permukiman membuat warga khawatir. Kami berharap petugas segera bertindak agar masyarakat bisa merasa aman,” tambahnya.

Harimau Keluar Habitat Akibat

Kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi di Aceh Timur

Sejak awal 2025, sejumlah kecamatan seperti Indra Makmur, Nurussalam, dan Pantee Bidari juga melaporkan kejadian serupa. 

Bahkan, harimau Sumatera tersebut telah memangsa beberapa ternak milik warga.

Pakar lingkungan menyebutkan bahwa konflik ini tak lepas dari perburuan liar yang mengancam populasi hewan mangsa harimau, seperti kambing hutan, kijang, dan babi hutan, yang kini hampir punah.

 Selain itu, perambahan hutan lindung dan pembukaan lahan yang masif semakin mempersempit habitat alami harimau, memaksa raja hutan keluar dari wilayahnya.

Baca juga: Dianggarkan Rp 3,3 Miliar untuk Beli Mobil Bupati dan Wabup Pidie, TOMPi Nilai Pemborosan Anggaran

Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah berupaya memasang box trap di Kecamatan Indra Makmur untuk menangkap harimau dan memindahkannya ke kawasan yang lebih aman.

Namun, setelah empat hari, upaya tersebut belum berhasil, sehingga kandang jebak ditarik kembali ke Banda Aceh.

Untuk mengatasi teror harimau ini, diperlukan langkah komprehensif dari pihak terkait. 

Selain upaya evakuasi, perlu ada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga konservasi untuk melindungi habitat harimau sekaligus memastikan keamanan warga.

Baca juga: Ini Identitas Dua Warga Aceh Ditembak di Perairan Malaysia, Terjadi Kejar-kejaran di Malam Gelap

“Penanganan konflik ini tidak bisa setengah-setengah. Diperlukan edukasi kepada masyarakat, pengawasan terhadap perburuan liar, serta penghentian perambahan hutan agar konflik manusia dan harimau tidak terus berulang,” tegas Samsul.

Hingga kini, warga Aceh Timur masih menanti langkah nyata untuk mengakhiri ketakutan yang mengintai mereka akibat keberadaan raja hutan di sekitar permukiman.

Baca juga: Harga Emas Turun Jelang Akhir Bulan, Cek Harga Emas Hari Ini, Segini Harga Emas Per Gram

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved