Selasa, 16 Juni 2026

Video

VIDEO - Kakek Pemanen Nira Aren yang Bertahan di Masa Senja

Kini, ia sepenuhnya bergantung pada dua batang pohon joek miliknya bersama sang istri, Sulastri.

Tayang:
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: m anshar

Laporan Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, – Pohon aren, atau dikenal dengan sebutan joek dalam bahasa Aceh, memiliki potensi ekonomi tinggi. Hampir seluruh bagian pohon ini dapat dimanfaatkan, dari nira hingga seratnya. Namun, sayangnya, banyak masyarakat enggan membudidayakan pohon tersebut, terutama di Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur.

Namun, berbeda dengan Ngadiman, atau sapaan akrab Lek Ngadiman seorang kakek berusia 71 tahun di Gang Becek, Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu. Di usianya yang tak lagi muda, ia menggantungkan hidupnya dari dua batang pohon joek yang ia panen setiap hari.

Rutinitas pagi Lek Ngadiman setelah menunaikan salat subuh, bersiap dengan peralatan sederhana parang dan wadah penampungan nira. Saat matahari mulai naik, ia bergegas menuju pohon joek yang akan dipanennya.

Dengan tangga bambu seadanya, ia mendaki pohon tersebut dengan hati-hati, diawali dengan bacaan Bismillah dalam hati. Sesampainya di puncak, ia mengganti wadah penampungan nira yang telah dikumpulkan sejak sore sebelumnya dengan wadah baru untuk menampung hasil panen pagi itu.

Meski terlihat mudah, proses menyadap nira aren tidak bisa dilakukan sembarangan. Jika tidak memiliki keahlian, nira tidak akan keluar dari batang pohon. Bahkan, anak Lek Ngadiman sendiri telah mencoba beberapa kali, tetapi hasilnya nihil.

Lek Ngadiman mengaku sudah 20 tahun menjadi pemanen nira aren. Dahulu, pekerjaan ini hanya menjadi sampingan karena ia lebih banyak bekerja sebagai penderes getah karet (rambung). Namun, seiring berjalannya waktu, pohon karet tempatnya bekerja sudah tidak lagi produktif. 

Kini, ia sepenuhnya bergantung pada dua batang pohon joek miliknya bersama sang istri, Sulastri.

Setiap kali pulang dari memanen, Sulastri sudah menunggu di rumah, siap mengolah nira yang dikumpulkan suaminya. Dengan tungku sederhana berbahan bakar kayu, nira tersebut dimasak hingga mengental menjadi manisan. Setelah dingin, manisan ini dikemas dalam plastik berukuran satu kilogram dan dijual ke pasar Kedai Alue Ie Mirah dengan harga Rp20 ribu per kilogram.

Meski tetap berusaha bertahan dengan hasil panennya, Lek Ngadiman berharap adanya perhatian dari pemerintah terkait. Ia ingin mendapatkan pelatihan dalam pembuatan gula aren, yang kemungkinan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan manisan yang selama ini ia produksi.

Lek Ngadiman adalah satu dari sedikit orang yang masih bertahan dalam usaha ini. Di tengah minimnya minat masyarakat terhadap budidaya pohon aren, kisahnya menjadi bukti bahwa sumber daya alam lokal dapat dimanfaatkan secara optimal jika dikelola dengan baik.

Narator: Dara

Video Editor: M Anshar

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
1 - 1
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
Live
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved