Sabtu, 9 Mei 2026

China Peringatkan Negara Lain, Akan Balas Negara-negara yang Bekerja Sama dengan AS

China memperingatkan akan membalas negara-negara yang bekerja sama dengan AS dengan cara yang membahayakan kepentingan Beijing.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Faisal Zamzami
China's Ministry of Foreign Affairs
PERANG DAGANG - Lin Jian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China 

SERAMBINEWS.COM, NEW YORK - China memperingatkan akan membalas negara-negara yang bekerja sama dengan AS dengan cara yang membahayakan kepentingan Beijing.

China memperingatkan negara-negara lain agar tidak membuat kesepakatan ekonomi dengan Amerika Serikat jika hal itu justru merugikan.

Peringatan ini muncul di tengah memanasnya perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia itu mengancam akan melibatkan negara-negara lain.

Dikutip dari CNBC, Senin (21/4/2025), peringatan China itu muncul ketika pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan berencana untuk menggunakan negosiasi tarif untuk menekan mitra-mitra AS agar membatasi transaksi perdagangan dengan China.

Trump pada bulan ini menunda kenaikan tarif utama di negara-negara lain selama 90 hari, sementara menaikkan bea lebih lanjut atas barang-barang dari China menjadi 145 persen.

“China dengan tegas menentang pihak mana pun yang mencapai kesepakatan dengan mengorbankan kepentingan China. Jika ini terjadi, China tidak akan menerimanya dan akan dengan tegas mengambil tindakan balasan timbal balik,” kata Kementerian Perdagangan China.

Kementerian itu memperingatkan tentang risiko bagi semua negara begitu perdagangan internasional kembali ke “hukum rimba.”

Pernyataan itu juga berusaha untuk menggambarkan China sebagai pihak yang bersedia bekerja sama dengan semua pihak dan mempertahankan keadilan dan kewajaran internasional.

Kementerian Perdagangan China menggambarkan tindakan AS sebagai "penyalahgunaan tarif" dan "perundungan sepihak."

Baca juga: VIDEO Amerika Tuduh Perusahaan Satelit China Beri Akses Ke Houthi untuk Serang Kapal Perang

China membalas tarif AS dengan mengenakan pungutan sebesar 125 persen atas impor barang-barang dari AS.

Beijing juga telah membatasi ekspor mineral penting dan memasukkan beberapa perusahaan AS yang sebagian besar lebih kecil ke dalam daftar hitam yang membatasi kemampuan mereka untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan China.

Analis tidak memperkirakan AS dan China akan mencapai kesepakatan dalam waktu dekat, meskipun Trump pada pekan lalu mengatakan ia memperkirakan kesepakatan dapat dicapai dalam tiga hingga empat minggu ke depan.

Presiden China Xi Jinping minggu lalu mengunjungi Vietnam, Malaysia, dan Kamboja dalam perjalanan luar negeri pertamanya tahun 2025.

Dalam pernyataan resmi China tentang pertemuannya dengan para pemimpin ketiga negara, Xi menyerukan upaya bersama untuk menentang tarif dan "perundungan sepihak."

Sejak Trump mengenakan tarif impor pada China selama masa jabatan pertamanya, China telah meningkatkan perdagangannya dengan Asia Tenggara, yang kini menjadi mitra dagang terbesar China di tingkat regional.

 AS tetap menjadi mitra dagang terbesar China di tingkat satu negara.

Minggu lalu, Kementerian Perdagangan China mengganti negosiator perdagangan internasional utamanya dengan Li Chenggang, yang juga menjadi wakil menteri dan telah menjadi duta besar negara tersebut untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

China telah mengajukan gugatan terhadap AS ke WTO atas kenaikan tarif terbaru Trump.

 

Tekanan dari Pemerintahan Trump

Sumber yang dikutip Bloomberg menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump tengah menyusun strategi untuk menekan negara-negara yang meminta pengecualian tarif.

Negara-negara itu diminta menurunkan volume perdagangannya dengan China.

Jika tidak, mereka bisa dikenai sanksi, termasuk dalam bentuk denda atau pembatasan dagang.

Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan keras Trump terhadap mitra dagang yang dinilai tidak mendukung posisinya dalam menghadapi China.

Awal bulan ini, Perwakilan Dagang Amerika Serikat Jamieson Greer menyebut hampir 50 negara telah menghubungi pemerintah AS untuk membahas tarif tinggi yang diberlakukan Trump.

Sejumlah pembicaraan bilateral telah berlangsung.

Jepang, misalnya, mempertimbangkan menambah impor kedelai dan beras dari Amerika Serikat.

Sementara Indonesia dilaporkan berencana meningkatkan pembelian komoditas dan produk pangan asal AS, sembari mengurangi pesanan dari negara lain.  

China Jadi Target Utama Trump pada 2 April mengumumkan tarif impor untuk puluhan negara, tapi hanya China yang benar-benar dikenai beban tarif terbesar.

Negara itu menjadi target utama dalam kebijakan tarif pemerintahannya.

Di saat yang sama, Presiden China Xi Jinping justru memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara.

Ia mengunjungi tiga negara di kawasan ini minggu lalu dan mengajak negara-negara mitra untuk menolak tekanan dari satu negara tertentu.

 “Tidak ada pemenang dalam perang dagang dan perang tarif,” kata Xi dalam artikel yang dimuat di media Vietnam.

Baca juga: Kronologi Warga Tebet Ditembak Maling Saat Kejar Motor yang Dicuri, Korban Tertembak di Pinggul

Baca juga: Sosok Mulyana, Pelaku Mutilasi Pacar yang Hamil, Saat Kecil Jualan Opak hingga Pernah Masuk Acara TV

Baca juga: Hari Ini, Dua Eks Anggota Parlemen Bertarung di Pemilihan Keuchik Neulop Pidie

Artikel ini telah tayang di Kompas.com 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved