Selasa, 9 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Saat Seudati Kalah dari ‘Dance Challenge’ TikTok, Masa Depan Seni Aceh Berangsur Punah?

Pertanyaannya, apakah ini sekadar fenomena perubahan zaman atau ada yang salah dalam cara kita melestarikan seni tradisional?

Tayang:
Editor: mufti
IST
UMUL AIMAN, M.Pd., Dosen dan Ketua Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) Bireuen, melaporkan dari Bireuen 

Banyak faktor yang menyebabkan seudati dan seni tradisional lainnya semakin ditinggalkan. Salah satunya adalah kurangnya inovasi dalam cara seni ini diajarkan dan dipertunjukkan kepada masyarakat. Jika seni tradisional tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman, maka generasi muda akan semakin sulit untuk mengapresiasinya.

Di sisi lain, kurangnya kontrol terhadap konsumsi digital anak muda juga menjadi faktor utama. TikTok tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menghadirkan konten yang bisa berbahaya bagi mental dan moral remaja, termasuk budaya ‘live streaming’ demi mendapatkan ‘give’ dari orang yang bahkan tidak dikenal.

Budaya ini sangat jauh dari nilai-nilai yang diajarkan dalam seni tradisional Aceh seperti seudati yang menjunjung tinggi martabat dan etika.

Menyelamatkan seudati

Meskipun seudati mulai kalah populer dibandingkan ‘dance challenge’ di TikTok, bukan berarti tarian ini tidak bisa bangkit kembali. Justru, era digital bisa menjadi peluang untuk mengenalkan kembali seudati kepada generasi muda dengan cara yang lebih kreatif dan inovatif.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membawa seudati ke dunia digital itu sendiri. Misalnya, membuat tantangan seudati di TikTok, mengemasnya dalam format yang menarik dan mudah diikuti oleh anak muda.

Jika ‘dance challenge’ dari luar negeri bisa viral, mengapa tidak coba membuat ‘Seudati Challenge’ agar anak muda Aceh kembali mengenal dan mencintai budayanya sendiri?

Selain itu, seniman dan komunitas budaya juga bisa memanfaatkan media sosial untuk mengedukasi masyarakat tentang sejarah dan makna seudati. Video pendek, vlog, atau dokumenter ringan bisa dibuat untuk menarik minat anak muda agar mereka lebih memahami dan menghargai seni tradisional Aceh.

Pemerintah dan institusi pendidikan juga harus lebih aktif dalam mendukung pelestarian seni ini. Program ekstrakurikuler di sekolah, festival budaya, serta kolaborasi antara seniman dan ‘influencer’ media sosial dapat menjadi strategi yang efektif untuk menghidupkan kembali minat terhadap seudati.

Lebih dari itu, pengawasan terhadap konten yang dikonsumsi oleh anak muda juga perlu diperketat agar mereka tidak semakin jauh dari nilai-nilai budaya dan agama.

Harus bangkit kembali

Perubahan zaman memang tidak bisa dihindari, tetapi bukan berarti budaya lokal harus tersingkir begitu saja. Seni tradisional seperti seudati harus terus dijaga dan dikembangkan agar tetap relevan di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.

Generasi muda Aceh seharusnya tidak hanya menjadi konsumen budaya luar, tetapi juga bangga dan aktif dalam melestarikan budayanya sendiri. Jika TikTok dan media sosial bisa mengubah tren dengan cepat, maka seudati juga bisa dihidupkan kembali dengan strategi yang tepat.

Masa depan seudati ada di tangan kita semua seniman, akademisi, pemerintah, dan tentu saja, generasi muda Aceh. Jika kita ingin seudati tetap hidup dan berkembang, maka kita harus mencari cara agar seni ini tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan kebanggaan anak muda Aceh di masa depan.

Jangan sampai suatu hari nanti, kita hanya bisa mengenang seudati sebagai bagian dari sejarah yang sudah punah, sedangkan ‘dance challenge’ yang mempertaruhkan harga diri terus mendominasi layar anak-anak muda kita. Saatnya bangkit, saatnya menghidupkan kembali seudati di era digital! (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved