Selasa, 9 Juni 2026

Banda Aceh

Lewat MENTOR, Mahasiswa Psikologi Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Mental dan Kesiapsiagaan Bencana

Kegiatan ini juga menyasar generasi muda yang merupakan kelompok rentan dalam menghadapi dampak psikologis dari bencana alam....

Tayang:
Editor: Eddy Fitriadi
For Serambinews.com
PSIKOEDUKASI - Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran USK menyelenggarakan kegiatan psikoedukasi bertajuk MENTOR: Mental Education for Natural Threats and Ongoing Readiness. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan edukasi terkait pentingnya kesehatan mental, terutama dalam menghadapi bencana, kepada siswa-siswi kelas X-1 MAN 3 Rukoh, Banda Aceh, 6 Mei 2025 lalu. 

SERAMBINEWS.COM - Dalam upaya meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan mental terhadap bencana alam, mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran USK menyelenggarakan kegiatan psikoedukasi bertajuk MENTOR: Mental Education for Natural Threats and Ongoing Readiness.

Kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan edukasi terkait pentingnya kesehatan mental, terutama dalam menghadapi bencana, kepada siswa-siswi kelas X-1 MAN 3 Rukoh, Banda Aceh, 6 Mei 2025 lalu.

Acara ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada remaja mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental, serta meningkatkan kesiapan mereka dalam menghadapi potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Kegiatan ini juga menyasar generasi muda yang merupakan kelompok rentan dalam menghadapi dampak psikologis dari bencana alam.

Indonesia, khususnya Aceh, merupakan daerah yang rawan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan banjir. Selain itu, berdasarkan penelitian terbaru, remaja yang tinggal di daerah rawan bencana sering kali menghadapi gangguan psikologis seperti stres pasca-trauma, kecemasan, dan depresi.

Oleh karena itu, kegiatan psikoedukasi ini penting untuk meningkatkan ketahanan mental di kalangan generasi muda agar mereka dapat menghadapi dan mengelola dampak psikologis dari bencana.

“Kegiatan psikoedukasi ini dirancang untuk memberikan pengetahuan yang lebih mendalam kepada siswa-siswi tentang kesehatan mental, terutama kaitannya dengan bencana, dan bagaimana cara menghadapi krisis tersebut dengan mental yang tangguh. Kami juga mengenalkan teknik-teknik relaksasi yang dapat digunakan untuk menjaga ketenangan dalam situasi bencana,” jelas Resti Andini, pemateri yang mengisi kegiatan tersebut.

Kegiatan ini mencakup berbagai sesi, mulai dari pengenalan tentang kesehatan mental, jenis-jenis bencana alam dan dampaknya terhadap individu, hingga pengenalan Psychological First Aid (PFA) yang merupakan pertolongan pertama psikologis yang dapat diberikan kepada korban bencana. Peserta juga dilatih dalam teknik relaksasi berbasis rasa syukur yang dapat membantu mereka mengelola emosi dan menjaga ketahanan psikologis, khususnya dalam menghadapi situasi darurat.

Siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ini juga diberikan instrumen evaluasi berupa pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman mereka sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman peserta, dengan nilai rata-rata meningkat dari 6,93 pada pre-test menjadi 9,29 pada post-test. Kenaikan nilai ini menunjukkan bahwa metode yang digunakan dalam kegiatan ini efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta.

Kegiatan yang berlangsung selama 90 menit ini dimulai dengan pengisian pre-test oleh peserta, dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh pemateri, kemudian dilanjutkan dengan sesi relaksasi sederhana. Setelah sesi relaksasi, peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya mengenai materi yang telah disampaikan.

Di akhir acara, dilakukan pengisian post-test untuk menilai hasil dari kegiatan ini, diikuti dengan pembacaan doa dan foto bersama sebagai penutupan acara.

“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya ingin memberikan pengetahuan tentang kesehatan mental dan bencana, tetapi juga ingin memberikan keterampilan praktis bagi siswa agar mereka dapat lebih siap menghadapi bencana di masa depan. Kami juga berharap mereka bisa menjadi agen perubahan di komunitas mereka, membantu teman-teman dan keluarga yang mungkin terdampak bencana,” tambah Fadilah Amanda Putri, salah satu anggota kelompok yang bertanggung jawab sebagai MC selama kegiatan.

Selain itu, kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi penyelenggara, yang mendapatkan pengalaman berharga dalam merancang dan melaksanakan kegiatan psikoedukasi. “Kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga, baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi. Kami belajar banyak tentang pentingnya kerja sama tim, manajemen waktu, dan keterampilan komunikasi yang baik,” kata Muhammad Raffi Filhayati Akbar, anggota kelompok yang bertanggung jawab atas penyusunan pre-test dan post-test.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, Kelompok 9 berharap agar kegiatan psikoedukasi serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan dengan cakupan yang lebih luas, baik di tingkat sekolah maupun di komunitas lainnya. Hal ini sangat penting untuk membangun ketahanan mental di kalangan generasi muda, khususnya di daerah-daerah yang rawan bencana, sehingga mereka bisa lebih siap dan tangguh dalam menghadapi bencana yang mungkin terjadi.

Kegiatan psikoedukasi ini juga menjadi contoh nyata penerapan ilmu psikologi dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks mitigasi bencana. Dengan adanya program seperti ini, diharapkan dapat terbentuk generasi yang lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental serta lebih siap secara psikologis dalam menghadapi krisis bencana di masa depan.(rel/*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved