Idul Adha

Haji itu Arafah, Bagaimana Maksudnya? Ini Penjelasan Pembimbing KBIHU Raudhatul Qur'an Aceh Besar

Salah satu alasannya karena pada hari itu, umat Islam di seluruh dunia yang sedang menunaikan ibadah haji berkumpul di Arafah

Penulis: Jamaluddin | Editor: Nur Nihayati
IST
TGK SULFANWANDI HASAN - Abu Dr Tgk H Sulfanwandi Hasan MA, Pembimbing ibadah haji pada Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Raudhatul Qur’an, Tungkop, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, yang sekarang sedang melaksanakan ibadah haji memberikan sejumlah penjelasan Arafah. ISTIMEWA 

 

Salah satu alasannya karena pada hari itu, umat Islam di seluruh dunia yang sedang menunaikan ibadah haji berkumpul di Arafah

SERAMBINEWS.COM – Kamis (5/6/2025) hari ini bertepatan dengan 9 Zulhijjah 1446 Hijriah.

Di kalangan umat Islam, hari kesembilan pada bulan Zulhijjah--bulan terakhir dalam tahun Hijriah--ini dikenal dengan nama Hari Arafah.

Hari tersebut menjadi salah satu waktu yang sangat istimewa bagi umat muslim.

Salah satu alasannya karena pada hari itu, umat Islam di seluruh dunia yang sedang menunaikan ibadah haji berkumpul di Arafah untuk melakukan wukuf.

Seperti kita ketahui bahwa wukuf adalah puncak dari pelaksanaan ibadah haji.

Untuk umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, pada Hari Arafah dianjurkan untuk berpuasa.

Ibadah yang dikenal dengan Puasa Arafah itu sangat besar pahalanya, di mana orang yang melaksanakan puasa pada hari tersebut akan diampuni dosa selama dua tahun dengan rincian setahun ke belakang dan setahun ke depan.

Penamaan 9 Zulhijjah sebagai Hari Arafah juga dilatarbelakangi oleh sejumlah peristiwa yang terjadi di hari tersebut pada zaman nabi dan rasul.

Di antara peristiwa tersebut adalah:

Pertama, hari itu merupakan momentum pertemuan Nabi Adam as dan Siti Hawa yang sudah lama tak bersua setelah diturunkan ke bumi dari surga.

Allah swt mempertemukan keduanya pada hari kesembilan Zulhijjah di Arafah, Mekkah.

Pertemuan itu membuat keduanya menjadi tahu (arafa) antara satu dengan lainnya.

Di Hari Arafah juga, Nabi Adam as memahami tatacara peribadatan haji atas pengajaran Malaikat Jibril.

Ketika sampai di Padang Arafah, Jibril berkata kepada Nabi Adam, “Apakah engkau sudah tahu?”

Nabi Adam as menjawab, “Iya, tahu.”  

Karena itulah, hari tersebut dikenal dengan Hari Arafah (tahu).

Kedua, selain dua peristiwa Nabi Adam as, ada juga sejumlah kejadian yang dialami Nabi Ibrahim as.

Di hari itu, Nabi Ibrahim as mengetahui (Arafah) kebenaran mimpi menyembelih putranya Nabi Ismail as, yang dialaminya dan membingungkannya itu.

Pada hari yang sama, Nabi Ibrahim as juga mengetahui pelaksanaan ibadah haji atas petunjuk dari Malaikat Jibril.

Ia pun dibawanya menuju Arafah.

Sesampainya di sana, Jibril bertanya, “Apakah engkau tahu tentang cara tawaf dan di mana tawaf dilakukan?” Nabi Adam as menjawab, “Iya, tahu.”

Allah swt kembali mempertemukan Nabi Ibrahim as dengan istrinya Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail as pada Hari Arafah.

Pertemuan itu terjadi setelah mereka tidak bertemu selama beberapa tahun karena kepergian Nabi Ibrahim ke Negeri Syam.

Terkait dengan Hari Arafah tahun 1446 Hijriah yang jatuh pada Kamis (5/6/2025) hari ini, Abu Dr Tgk H Sulfanwandi Hasan MA, Pembimbing ibadah haji pada Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Raudhatul Qur’an, Tungkop, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, yang sekarang sedang melaksanakan ibadah haji memberikan sejumlah penjelasan.

Menurut Tgk Sulfanwandi, saat ini seluruh jamaah haji Aceh yang berjumlah 12 kelompok terbang (kloter) dan jutaan jamaah lain dari berbagai belahan dunia sudah berada di Padang Arafah untuk mengikuti puncak pelaksanaan ibadah haji 1446 Hijriah/2025 Masehi.

Puncak ibadah haji itu, sebut Tgk Sulfanwandi, yakni melaksanakan wuquf di Arafah, lalu bermalam di Muzdalifah, dan mabit di Mina.

Ketiga ibadah itu dikenal dengan Armusna.

Sebelumnya, jamaah haji asal Aceh di bawah KBIHU Raudhatul Qur'an bimbingan Dr Tgk H Sulfanwandi Hasan MA, sudah dibekali dengan pengetahuan rangkaian puncak ibadah haji.

Rangkaian itu dimulai dari niat ihram haji di hotel, lalu dilanjutkan wuquf di Padang Arafah pada 9 Zulhijjah (5 Juni 2025), kemudian disambung dengan bermalam di Muzdalifah dan Mina (Nafar Tsany), serta diakhiri dengan tawaf haji dan sa'i.

“Jamaah Haji KBIHU Raudhatul Qur’an Alhamdulillah menjelang keberangkatan ke Arafah semua dalam keadaan sehat.

Para jamaah setiap malam selama masa penantian menunggu keberangkatan ke Arafah di Hotel Abeer Al Fadhilla mengerjakan ibadah-ibadah sunat, seperti shalat Taubat, shalat Tasbih, shalat Hajat, shalat Tahajjud, dan shalat Witir, serta dirangkai dengan zikir-zikir berjamaah,” lapor Tgk Sulfanwandi seraya menyebutkan suhu di Tanah Suci saat ini mencapai 50 derajat Celsius.

Abu Sulfanwandi mengingatkan para jamaah haji bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda yang maksudnya ‘Haji itu adalah Arafah.

Dan, semua rangkaian ibadah haji yang menjadi puncak kesempurnaannya adalah wuquf di Arafah.’

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ قَالَ شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ نَاسٌ فَسَأَلُوهُ عَنْ الْحَجِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ عَرَفَةَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Abdur Rahman bin Ya'mar, ia berkata; ‘Saya menyaksikan Rasulullah SAW didatangi orang-orang, kemudian mereka bertanya perihal haji, lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Inti Haji adalah wukuf di Arafah, siapa pun yang mendapatkan malam Arafah sebelum terbit fajar dari malam jam' (waktu sore pada hari Arafah) maka hajinya telah sempurna’.” (HR An-Nasa’i)

Rasulullah saw juga bersabda dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِعَرَفَةَ فَسَأَلُوهُ فَأَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى الْحَجُّ عَرَفَةُ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ أَيَّامُ مِنًى ثَلَاثَةٌ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ya'mar, bahwa beberapa orang dari Najd menemui Rasulullah SAW saat beliau sedang berada di Arafah.

Mereka bertanya tentang haji, lalu beliau memerintahkan orang dan dia berseru; ‘Haji adalah Arafah, siapa pun yang datang pada malam Arafah sebelum terbit fajar, maka dia telah mendapatkan haji.

Hari Mina adalah sebanyak tiga hari. Siapa pun yang tergesa-gesa kembali pada hari kedua, maka dia tidak berdosa. Siapa pun yang mengakhirkan dengan kembali pada hari ketiga juga tidak berdosa’.” (HR At-Tirmidzi)

Tgk Sulfanwandi menjelaskan, yang dimaksud dengan Haji itu Arafah adalah wuquf menjadi ibadah yang sangat penting dan utama dalam rangkaian ritual haji.

“Sehingga, jamaah yang melaksanakan ibadah haji dan memenuhi rukun berupa wukuf di Arafah, kemungkinan besar ibadah hajinya akan sempurna dan haji akan batal apabila wuquf di Padang Arafah terlewatkan,” jelas Tgk Sulfanwadi yang juga dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh ini.

Lebih lanjut, Tgk Sulfanwandi mengungkapkan, wuquf di Arafah bukanlah sekedar ibadah formalitas, tapi Arafah adalah tempat yang penuh dengan keberkahan.

“Arafah juga puncak seorang hamba menggapai makrifat dan pengetahuan.

Sebagaimana dulu para nabi dan kekasih Allah Swt mendapatkannya,” ungkap Tgk Sulfanwandi yang merupakan alumni Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan, dan Dayah Budi, Lamno, Aceh Jaya.

Di Padang Arafah inilah, sebutnya, jutaan umat Islam hadir dan berkumpul untuk melaksanakan  satu rukun haji yaitu wukuf yang artinya berhenti.

Bahkan, para jamaah haji yang sedang sakit tetap harus dibawa dengan ambulans untuk menghadiri di Arafah--walau sebentar--demi menyempurnakan ibadah haji yang sedang dilaksanakan oleh jamaah tersebut.

“Arafah juga merupakan tempat yang paling mustajab untuk berdoa, bermunajat, dan meminta ampun kepada Allah SWT.

Di Arafah inilah, dulu Nabi Adam as melakukan pengakuan atau i'tiraf atas dosa kepada Allah Swt. Dan, di tempat ini pula Nabi Ibrahim as mendapat Ilham dan mengetahui bahwa mimpi menyembelih anaknya Nabi Ismail as merupakan wahyu dari Allah Swt.

Di Arafah juga, para nabi dan kekasih Allah mampu mencapai puncak pengetahuan atau ma'rifah,” urai Mutawif (Pembimbing) Utama Travel Umrah PT Al Azhar Laris Banda Aceh ini.

Tgk Sulfanwandi juga mengingatkan kepada umat Islam untuk mengisi puncak haji pada Hari Arafah ini dengan berpuasa.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية 

Artinya: "Puasa Hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, serta puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas" (HR Muslim)

“Maka sangatlah besar pahala berpuasa di Hari Arafah ini. Kita berharap, semua umat Islam dapat mengisi Hari Arafah tahun ini dengan berbagai ibadah sunat,” tutup Tgk Sulfanwandi Hasan. (*)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved