Berita Aceh Utara

Ribuan Hektare Sawah di Aceh Utara Kekeringan, Petani Terdampak Proyek Perbaikan Irigasi

Menurut Koordinator BPP Seunuddon, kekeringan ini terjadi di 29 dari 33 desa yang memiliki lahan persawahan.

Penulis: Jafaruddin | Editor: Saifullah
Foto BPP Seunuddon
SAWAH KEKERINGAN - Seribuan hektare areal sawah yang sudah mulai disemai dan ditanami padi di Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara mengalami kekeringan. 

Laporan Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Sekitar 75 persen dari total 1.778 hektare lahan persawahan di Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara mengalami kekeringan, sejak 15 hari terakhir.

Kondisi ini membuat para petani merugi, terutama karena perbaikan saluran irigasi dilakukan saat masa tanam sedang berlangsung.

"Kami mendapat informasi dari petani bahwa sawah mereka mengalami kekeringan,” ujar Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Seunuddon, Mahyuddin kepada Serambinews.com, Minggu (15/6/2025).

Setelah ditelusuri, ternyata ada penutupan pintu air Cot Bada, Jambo Aye yang berada di wilayah Langkahan, sebagai bagian dari perbaikan di Daerah Irigasi Jambo Aye.

Menurut Koordinator BPP Seunuddon, kekeringan ini terjadi di 29 dari 33 desa yang memiliki lahan persawahan.

Mahyuddin menyatakan, pihaknya mengetahui kondisi ini setelah menerima keluhan dari para petani.

Dari petugas Komisi Irigasi, petani mendapat informasi bahwa perbaikan saluran irigasi tersebut dilakukan karena kondisi tanggul yang sudah dangkal dan perlu segera dibenahi.

Namun, ia mengakui bahwa waktu pelaksanaan perbaikan tidak ideal.

"Sayangnya, perbaikan dilakukan ketika para petani sudah melakukan penyemaian,” papar dia. 

“Akibatnya, banyak benih padi yang mati karena kekeringan, bahkan beberapa benih sudah lewat umur dan harus melakukan pengolahan tanah ulang," katanya.

Kondisi di lapangan membuat Satuan Tugas Swasembada Pangan turun langsung ke Kecamatan Seunuddon pada Minggu (14/6/2025).

Tim mengaku terkejut melihat dampak kekeringan yang luas di lahan petani dan menyatakan perlunya langkah cepat untuk mengurangi kerugian petani.

Sementara itu, Keuchik Matang Lada, Muhammad Nasir menyayangkan, waktu pelaksanaan perbaikan tanggul yang tidak mempertimbangkan kalender musim tanam.

“Perbaikan dilakukan saat petani sudah turun ke sawah. Padahal, ini bisa dijadwalkan sebelum masa tanam,” beber dia. 

"Rapat memang sudah dilakukan antara petugas irigasi dan petani, tapi akibatnya tetap petani yang rugi,” ungkapnya.

Muhammad Nasir berharap, adanya bantuan dari pemerintah, seperti benih baru dan biaya pengolahan tanah agar petani bisa kembali menanam setelah lahan mereka pulih.(*)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved