Selasa, 14 April 2026

Timur Tengah

Presiden Iran Terluka saat Selamatkan Diri dari Serangan Israel

Serangan dilakukan sesaat sebelum tengah hari dalam pertemuan yang dihadiri oleh para kepala eksekutif, legislatif, dan

Editor: Ansari Hasyim
Stanislav Krasilnikov/Handout/brics-russia2024.ru
OGAH KETEMU TRUMP - Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada pertemuan KTT BRICS di kota Kazan, barat daya Rusia, pada Rabu (23/10/2024). Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa dirinya tak sudi berunding dengan Presiden AS Donald Trump soal nuklir meski mendapatkan ancaman. 

SERAMBINEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menderita luka ringan dalam serangan udara Israel pada pertemuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi di Teheran pada 15 Juni, kata seorang pejabat senior Iran.

Upaya pembunuhan itu menargetkan kepala tiga cabang pemerintahan dalam upaya untuk menggulingkannya, kata pejabat itu, berbicara dengan syarat anonim seperti dilansir jaringan berita Al Jazeera, Senin.

“Upaya ini tidak akan berhasil tanpa Israel membayar harganya,” katanya kepada Al Jazeera.

Serangan dilakukan sesaat sebelum tengah hari dalam pertemuan yang dihadiri oleh para kepala eksekutif, legislatif, dan yudikatif pemerintah bersama dengan pejabat senior lainnya.

Kantor berita semi-resmi Fars juga melaporkan rincian baru tentang upaya pembunuhan selama perang 12 hari Israel-Iran pertama kali diumumkan oleh presiden Iran dalam sebuah wawancara yang dirilis pada hari Senin.

Sesi itu berlangsung di tingkat bawah fasilitas pemerintah di Teheran barat ketika serangan dimulai, Fars melaporkan. 

Pintu masuk dan keluar gedung dihantam oleh enam rudal untuk memblokir rute pelarian dan memutus aliran udara.

Listrik terputus setelah ledakan tersebut, namun para pejabat Iran berhasil melarikan diri melalui pintu darurat yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk presiden, yang dikatakan menderita luka ringan di kaki saat dievakuasi.

Kantor berita tersebut mengatakan pihak berwenang meluncurkan penyelidikan terhadap kemungkinan kehadiran mata-mata Israel mengingat keakuratan intelijen yang dimiliki “musuh”.

Pekan lalu, Pezeshkian mengatakan dalam sebuah wawancara dengan tokoh media AS Tucker Carlson bahwa Israel berusaha membunuhnya. “Mereka memang mencoba, ya ... tapi mereka gagal,” katanya.

“Bukan Amerika Serikat yang berada di balik upaya pembunuhan saya. Itu adalah Israel. Saya sedang rapat... Mereka mencoba membombardir area tempat kami mengadakan rapat itu.”

Komentar itu muncul kurang dari sebulan setelah Israel meluncurkan 13 Juni yang belum pernah terjadi sebelumnya kampanye pengeboman terhadap Iran, membunuh komandan militer tertinggi dan ilmuwan nuklir.

Serangan Israel terjadi dua hari sebelum Teheran dan Washington ditetapkan untuk bertemu untuk putaran baru perundingan nuklir, mengulur-ulur perundingan yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan mengenai program atom Iran.

Setidaknya 1.060 orang tewas di Iran selama konflik, menurut Yayasan Urusan Martir dan Veteran Iran.

Serangan Israel memicu gelombang tembakan balasan drone dan rudal, menewaskan 28 orang di Israel, menurut pihak berwenang.

Iran menargetkan markas militer dan intelijen Israel dengan rudal balistik dan drone sebelum AS menengahi gencatan senjata.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved