Rabu, 10 Juni 2026

Kupi Beungoh

Perempuan dan Pendidikan Tinggi, Musuh Agama?

Ada semacam anggapan bahwa peran perempuan cukup di ranah domestik, tidak perlu berlelah-lelah menuntut ilmu hingga ke jenjang...

Tayang:
Editor: Eddy Fitriadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Khairiatul Nurwanti, Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga asal Aceh Selatan, pernah menjadi pengurus Sumberpost UIN Ar-Raniry. 

Oleh Khairiatul Nurwanti, Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga asal Aceh Selatan

BUAT apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, nanti ujung-ujungnya juga di rumah. Gelar itu tidak bisa dibawa ke akhirat. Kalimat-kalimat seperti itu bukan hanya sering didengar, tapi penulis alami sendiri.

Ketika memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, sebagian orang di lingkungan saya justru meremehkan keputusan tersebut.

Bagi mereka, pendidikan tinggi bukan sesuatu yang layak diperjuangkan, apalagi jika pelakunya adalah perempuan. Ada semacam anggapan bahwa peran perempuan cukup di ranah domestik, tidak perlu berlelah-lelah menuntut ilmu hingga ke jenjang yang tinggi.

Pandangan ini tentu sangat mengkhawatirkan. Di lingkungan tempat saya tinggal, masih banyak orang yang memandang pendidikan formal sebagai sesuatu yang kurang penting. Sebagian besar hanya menyelesaikan sekolah hingga tingkat SMP atau SMA, bahkan ada yang berhenti di jenjang SD.

Bukan semata karena keterbatasan akses atau ekonomi, tetapi lebih karena adanya anggapan bahwa sekolah tidak memberi manfaat dunia maupun akhirat. Sebagai gantinya, banyak anak justru diarahkan untuk lanjut ke pondok pesantren. Bukan karena pesantren buruk, pesantren adalah hal yang sangat baik namun karena ada keyakinan bahwa hanya ilmu agama yang layak dikejar.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah munculnya anggapan bahwa pendidikan tinggi justru menjauhkan seseorang dari agama. Orang-orang yang memilih melanjutkan kuliah sering dicap terlalu mencintai dunia, haus status, atau merasa lebih pintar dari orang lain. Mereka dicurigai akan menjadi pribadi yang sombong dan melupakan ajaran agama.

Sementara itu, mereka yang tidak menempuh pendidikan tinggi dianggap lebih sederhana, lebih tawadhu, dan lebih “dekat dengan Tuhan.”

Saya mengenal banyak orang yang berasal dari pesantren dan kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi. Mereka tidak menjadi jauh dari agama. Justru mereka menjadi pengajar, penulis, bahkan pemimpin masyarakat yang membawa nilai-nilai keislaman ke ruang-ruang publik dengan cara yang lebih rasional dan humanis.

Mereka bisa berdialog dengan berbagai kalangan, menjembatani perbedaan, dan menghadirkan Islam sebagai agama yang ramah, bukan marah.

Masalah utamanya bukan pada lembaga pendidikan, melainkan pada cara pandang masyarakat terhadap pendidikan itu sendiri. 

Kita sering lupa bahwa menuntut ilmu adalah perintah agama. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” Ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada fikih atau tafsir, tetapi juga meliputi pengetahuan yang membantu umat Islam bertahan dan berkembang di tengah dunia yang terus berubah.

Kita dapat mengenang teladan Aisyah RA, istri Rasulullah Saw. Ia dikenal sebagai salah satu perempuan paling cerdas dalam sejarah Islam. Aisyah tidak hanya meriwayatkan lebih dari 2.000 hadis, tetapi juga menjadi rujukan para sahabat dalam hal fikih, sastra, hingga sejarah.

Ulama seperti az-Zurri bahkan menyatakan bahwa ilmu Aisyah melebihi seluruh perempuan pada zamannya. Ini bukti bahwa perempuan berilmu bukan hanya sah, tapi sangat dibutuhkan oleh umat.

Tak hanya itu, Aceh juga memiliki pahlawan perempuan luar biasa bernama Cut Nyak Dhien. Kita mengenalnya sebagai pejuang bersenjata, tapi tak banyak yang tahu bahwa beliau juga memiliki pendidikan agama yang kuat. Ia menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman, dan bekal intelektual itulah yang memperkuat daya juangnya. Ia menunjukkan bahwa ilmu bisa menjadi alat perlawanan terhadap ketertindasan, termasuk bagi perempuan.

Sayangnya, sebagian masyarakat kita masih terjebak pada dikotomi yang keliru seolah-olah pendidikan tinggi menjauhkan dari agama. Padahal, masalahnya bukan pada lembaga pendidikan, tapi pada cara pandang kita terhadap ilmu itu sendiri. Aceh memiliki banyak perempuan terdidik yang membawa dampak besar bagi daerah dan bangsa.

Sebut saja Prof Dr Nurjannah Ismail, seorang ahli oftalmologi yang juga aktif dalam pelayanan kesehatan berbasis syariah. Ia menunjukkan bahwa sains dan agama bisa saling menguatkan.

Ada juga Prof Dr Halimatussakdiah, guru besar bidang kimia di Universitas Syiah Kuala, yang terus mendorong perempuan muda untuk menekuni sains dan menjadi agen perubahan di sekolah-sekolah.

Sementara Prof Dr Asiah Mahdini adalah akademisi Islam yang banyak membahas integrasi keilmuan dan peran perempuan dalam pembangunan. Gagasannya sering dijadikan rujukan dalam diskusi keislaman dan pengembangan kurikulum pesantren.

Ketiga tokoh ini hanyalah sebagian dari banyak perempuan Aceh yang membuktikan bahwa pendidikan tinggi tidak menjauhkan dari agama, tetapi justru memperkuat kontribusi terhadap umat.

Saya tidak mengatakan bahwa semua orang harus bersekolah tinggi-tinggi. Tapi setiap anak, laki-laki maupun perempuan, berhak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar. Jangan sampai semangat dan potensi mereka terhenti hanya karena pandangan keliru yang diwariskan turun-temurun. 

Pendidikan bukan hanya soal gelar atau pekerjaan. Ia adalah pintu menuju kebebasan berpikir, kemampuan mengambil keputusan, dan sarana untuk membangun masa depan yang lebih baik di dunia, maupun di akhirat. 

Kita harus mulai mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Bukan hanya sebagai alat untuk mencari pekerjaan, tetapi sebagai bentuk ibadah, sebagai wujud syukur atas akal yang telah Allah Swt berikan. Pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak manusia yang pintar secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Jika agama dan pendidikan bisa berjalan berdampingan, maka kita akan memiliki masyarakat yang tidak hanya taat, tetapi juga cerdas dan berdaya. Kita akan melihat generasi muda yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga mampu menyumbangkan ide, karya, dan solusi nyata bagi berbagai persoalan umat dan bangsa.

Selain itu, penting juga untuk menyadari bahwa pendidikan adalah salah satu bentuk jihad zaman modern. Jihad bukan semata-mata perjuangan fisik, tapi juga perjuangan intelektual, sosial, dan spiritual. Melawan kebodohan, meluruskan informasi yang menyesatkan, serta menyebarkan ilmu yang bermanfaat adalah bentuk pengabdian yang tak kalah mulia.

Ketika kita menolak pendidikan, kita sesungguhnya sedang membiarkan umat ini tertinggal dan rentan diperalat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Justru dengan ilmu, kita bisa menjaga marwah agama, memperjuangkan keadilan, dan membela mereka yang lemah secara lebih efektif.

Di era modern seperti sekarang, kemampuan berpikir kritis, keterampilan komunikasi, dan pemahaman teknologi sangat dibutuhkan. Umat Islam tidak bisa terus-menerus tertinggal karena menolak belajar. Justru dengan pendidikan yang baik, kita bisa mencetak generasi Muslim yang cerdas, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Kita bisa melahirkan dokter yang religius, insinyur yang jujur, guru yang inspiratif, dan pemimpin yang adil semua itu hanya mungkin terjadi jika kita membuka akses pendidikan seluas-luasnya, tanpa memandang gender maupun latar belakang.

Sudah saatnya kita berhenti mempertentangkan pendidikan dan agama. Keduanya berasal dari sumber nilai yang sama, dorongan untuk mencari kebenaran dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Ketika seseorang belajar dengan niat yang lurus, ilmunya akan membimbingnya menjadi lebih bijaksana dan rendah hati. Ia tidak akan sombong karena tahu bahwa ilmu adalah titipan Tuhan yang bisa diambil kapan saja.

Saya percaya bahwa pendidikan yang baik justru akan membawa seseorang semakin dekat dengan Tuhannya. Ia akan mengenal ciptaan Tuhan melalui sains, menghargai keadilan melalui hukum, memahami kehidupan sosial melalui ilmu kemasyarakatan, dan tetap menjaga akhlak melalui ilmu agama. Semua itu akan melahirkan manusia seutuhnya yang berakal, berhati, dan beriman. Wallahu a'lam bishawab. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved