Ekspor Minyak Nilam Aceh Umumnya ke AS
Minyak nilam atau atsiri dari Indonesia, termasuk Aceh, kini umumnya diekspor ke Amerika Serikat
BANDA ACEH - Minyak nilam atau atsiri dari Indonesia, termasuk Aceh, kini umumnya diekspor ke Amerika Serikat (AS) dan Perancis yang digunakan untuk industri pangan, parfum, maupun farmasi. Selain itu, minyak ini juga diekspor ke Jerman, Belanda, Spanyol, Jepang, India, Cina, dan Australia.
Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Atsiri Indonesia, Feri Agustian Soleh, menyampaikan hal ini dalam konferensi pers dalam rangka konferensi nasional minyak atsiri di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Rabu (19/10).
“Dari negara-negara tersebut, ekspor yang lebih dominan ke Amerika dan Perancis. Jumlah yang diekspor situasional, biasanya mereka membelinya sudah direncanakan setengah tahun atau setahun ke depan. Dan dalam periode tersebut pengirimannya tergantung permintaan,” kata Feri Agustian. Sementara itu, Ketua Panitia Konferensi Nasional Minyak Atsiri, Dr Mustafril mengatakan Aceh merupakan sentra penting atsiri di Indonesia dengan kontribusi nyata sebagai daerah penghasil nilam, minyak pala, sereh wangi, dan produk lainnya yang berpotensi dikembangkan seperti gaharu. Kekhasan minyak atsiri Aceh sudah mendapatkan penghargaan dari pemerintah RI dengan diterbitkannya pengakuan indikasi geografis untuk minyak nilam Aceh dan pala Aceh.
Ia menyebutkan ada dua kabupaten sebagai penghasil pala, yaitu Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan. Sedangkan nilam terdapat di Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Barat, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara, sementara sereh wangi hanya terdapat di Gayo Lues.
“Yang belum berkembang itu cengkeh di Simeulue dan Sabang, karena daun yang jatuh itu belum pernah diolah. Padahal apabila diolah juga bisa jadi minyak atsiri,” katanya.
Konferensi yang berlangsung sehari ini dilaksanakan untuk membahas berbagai persoalan berkaitan dengan industri atsiri, dan menemukan solusi dari berbagai pihak untuk kemajuan dan perkembangan atsiri Indonesia.
Pada kesempatan itu, Ketua Panitia Konferensi Nasional Minyak Atsiri, Dr Mustafril, juga mengatakan selama ini perhatian dari pemerintah belum maksimal terhadap pengembangan minyak atsiri, padahal apabila dikelola secara baik akan mendatangkan investor.
Maka dalam konferensi tersebut juga dilakukan deklarasi yang ditandatangani oleh pengusaha, pemerintah, petani untuk membangun industri atsiri secara berkelanjutan dengan tetap menjaga alam, serta bergerak di produksi yang bersih dan ramah lingkungan. (una)