Amerika Rusuh, Media Israel Sebut Iran, Turki, China, dan Rusia 'Happy' dengan Kekacauan Itu

ILUSTRASI - Demo membela George Floyd di New York, Amerika Serikat.

"Malam ini, aktivitas media sosial tentang # protes & reaksi balasan dari akun media sosial terkait dengan setidaknya 3 musuh asing. Mereka tidak membuat divisi ini. Tapi mereka aktif memicu & mempromosikan kekerasan & konfrontasi dari berbagai sudut."

Sejumlah lembaga nirlaba pendukung AS justru menyalahkan kritikan yang datang dari Iran, Turki, China, dan Rusia. Mereka kerap mengabaikan upaya intervensi AS ke negara-negara lain di dunia jika terjadi unjuk rasa di negara tersebut.

Mantan Menhan AS: Trump Ingin Memecah Belah

Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Jim Mattis pada Rabu (3/6/2020), mengkritik mantan bosnya Donald Trump, dengan sebuah pernyataan yang menuduh presiden AS itu berusaha menabur perpecahan di AS.

“Donald Trump adalah presiden pertama dalam hidup saya yang tidak sedikitpun berusaha menyatukan warga Amerika, berpura-pura mencoba pun tidak,” kata Mattis dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan secara online oleh majalah The Atlantic.

“Dia malah mencoba memecah belah kita,” tambahnya.

Mattis mengkritik keputusan Trump yang menggunakan kekuatan militer untuk menindak aksi unjuk rasa yang berlangsung atas tindakan kepolisian yang menyebabkan kematian seorang pria kulit hitam, George Floyd.

Mattis juga menyatakan bahwa Trump sedang menyiapkan “konflik palsu” antara militer dan masyarakat sipil.

Mattis juga lontarkan kritik pedas terhadap aksi Trump yang berpose dengan sebuah alkitab di sebuah gereja bersejarah pada Senin (01/06).

Untuk melanggengkan aksi Trump ini, para penegak hukum disebut secara paksa mengosongkan Lafayette Square, yang berada di seberang Gedung Putih, dari para demonstran yang melakukan unjuk rasa secara damai.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Sumber: Tribunnews

Berita Populer