Selasa, 7 April 2026

Cegah Korupsi

Moral dan Gaya Hidup Jadi Faktor Penyebab Korupsi

Alfian mengatakan, persoalan moral yang rendah dan tuntutan gaya hidup membuat seseorang bertindak korup. Katanya, gaya hidup bukan hanya soal penampi

Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Tiga narasumber yaitu Koordinator Bidang Pidsus Kejati Aceh, Ibnu Firman Ide Amin, Koordinator MATA Alfian, dan Korwil Sumatera AJI Indonesia, Adi Warsidi hai dalam dalam talkshow “Melawan korupsi, menyelamatkan masa depan bangsa”, yang dipandu oleh News Manager Serambi Indonesia, Bukhari M Ali, Jumat (8/12/2023) di Studio Serambi Indonesia, Banda Aceh. 

Laporan Muhammad Nasir I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Faktor moral dan gaya hidup menjadi penyebab seseorang melakukan korupsi . Sehingga kedua hal itu yang juga harus menjadi perhatian dalam melawan korupsi.

Koordinator MATA Alfian mengatakan itu dalam talkshow “Melawan korupsi, menyelamatkan masa depan bangsa” Jumat (8/12/2023) di Studio Serambi Indonesia, Banda Aceh.

Podcast yang diselenggarakan dalam rangka Hari Anti Korupsi Sedunia ini juga menghadirkan dua narasumber lainnya yaitu Koordinator Bidang Pidsus Kejati Aceh, Ibnu Firman Ide Amin dan Korwil Sumatera AJI Indonesia, Adi Warsidi, dipandu News Manager Serambi Indonesia, Bukhari M Ali.

Baca juga: Pj Bupati Tantang Putera dan Puteri Aceh Jaya Ikut Seleksi Direktur Bumdesma

Alfian mengatakan, persoalan moral yang rendah dan tuntutan gaya hidup membuat seseorang bertindak korup. Katanya, gaya hidup bukan hanya soal penampilan tapi juga cara ia menguasai kekayaan.

Karena dalam kultur sosial Aceh saat ini, jika seseorang memiliki gaya hidup dan kekayaan maka ia bisa dihormati oleh orang lain.

“Itu adalah faktor yang paling kuat untuk terjadinya korupsi. Bahkan tidak hanya dana APBA atau APBK, tapi dana keagamaan juga ikut disasar,” ujar Alfian.

Ia mencontohkan korupsi di salah satu kabupaten di Aceh yang secara berjamaah “mengeroyok” dana Baitul Mal untuk dikorupsi.

Menurut Alfian, kondisi seperti itu memiliki dampak yang besar, lembaga publik tidak lagi mendapatkan kepercayaan dari masyarakat akibat penyimpangan ini.

Selain itu, Alfian juga menyoroti soal penegakan hukum yang harus diperbaharui dan diperkuat. Mulai dari tahapan penyelidikan, tuntutan, hingga putusan pengadilan.

Salah satu kelemahan yang selama ini ia lihat, orang yang memiliki kekuasaan tidak tersentuh hukum.

“Dalam kasus beasiswa misalnya, ini jelas memberikan pesan jika anda memiliki kekuasaan maka hukum tidak bisa menyentuh anda. Itu pesan yang saya tangkap,” ujar Alfian.

Ia menambahkan koordinasi antara polisi, jaksa, dan pengadilan tipikor harus berjalan dengan baik. Karena selama ini trend vonis bebas untuk terdakwa korupsi sangat tinggi.

Tentu kondisi itu akan membuat kecewa para penyidik atau penegak hukum yang bekerja dengan ikhlas.

Sementara Koordinator Sumatera AJI Indonesia, Adi Warsidi mengakui jika peran media dalam mencegah dan mengawasi korupsi semakin lemah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved