Kamis, 23 April 2026

Berita Aceh Besar

Pasar Hewan Sibreh Aceh Besar akan Diswastakan

“Rencana ini akan kita musyawarahkan dan kemungkinan dilaksanakan tahun ini.” MUHARRAM IDRIS, Bupati Aceh Besar

Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE SERAMBI BISNIS EDISI SELASA 20260106 

Ringkasan Berita:
  • Pemkab Aceh Besar berencana mengalihkan pengelolaan Pasar Hewan Sibreh, Kecamatan Sukamakmur, kepada pihak ketiga atau swasta
  • Pengoperasian kembali pasar tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan aktivitas ekonomi para peternak dalam menjual ternaknya
  • Pemkab Aceh Besar berencana mengembangkan embrio atau bibit sapi unggul guna meningkatkan produktivitas peternakan dan pendapatan masyarakat.

“Rencana ini akan kita musyawarahkan dan kemungkinan dilaksanakan tahun ini.” MUHARRAM IDRIS, Bupati Aceh Besar

SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar berencana mengalihkan pengelolaan Pasar Hewan Sibreh, Kecamatan Sukamakmur, kepada pihak ketiga atau swasta sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Hal tersebut disampaikan Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, usai meresmikan kembali Pasar Hewan Sibreh yang sudah selesai direhabilitasi, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, pengoperasian kembali pasar tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan aktivitas ekonomi para peternak dalam menjual ternaknya. “Insya Allah, mulai hari Rabu (7/12/2025) para pedagang hewan sudah dapat kembali menggunakan pasar ini,” ujar Syech Muharram.

Untuk sementara, Pasar Hewan Sibreh masih dikelola Pemkab Aceh Besar. Namun, Muharram menilai pengelolaan langsung oleh pemerintah kurang efektif karena banyak tugas lain yang harus ditangani. Akibatnya, sejumlah aspek pengelolaan pasar menjadi kurang optimal.

Oleh karena itu, Pemkab Aceh Besar berencana melakukan uji coba pengalihan pengelolaan pasar kepada pihak ketiga melalui mekanisme tender. “Pengelolaan oleh pihak ketiga diharapkan lebih profesional. Apalagi pembangunan pasar ini menggunakan anggaran daerah, sehingga harus mampu memberikan pemasukan bagi daerah. Rencana ini akan kita musyawarahkan dan kemungkinan dilaksanakan tahun ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, Jakfar, mengatakan, Pasar Hewan Sibreh merupakan salah satu pasar hewan tradisional terbesar di Aceh yang menjadi tempat berkumpulnya para peternak untuk menjual hewan ternak mereka. Pihaknya menargetkan pasar tersebut dapat dikembangkan menjadi pasar hewan modern.

Ia berharap dukungan penuh dari Bupati Aceh Besar serta DPRK dan DPRA agar pasar yang telah direhabilitasi tersebut dapat difungsikan secara maksimal. Selain itu, direncanakan penambahan lahan parkir di area belakang pasar guna menunjang aktivitas perdagangan. “Kami ingin menjadikan Pasar Hewan Sibreh sebagai pasar hewan modern dan salah satu yang terbesar di Aceh,” ujarnya.

Jakfar juga menyebutkan bahwa Aceh Besar memiliki tiga pasar hewan, yakni Pasar Hewan Sibreh, Cot Irie, dan Seulimeum, yang diharapkan dapat dioptimalkan fungsinya untuk mendukung sektor peternakan daerah.(iw)

Tingkatkan Produksi Ternak

BUPATI Muharram menambahkan, Pemkab Aceh Besar berencana mengembangkan embrio atau bibit sapi unggul guna meningkatkan produktivitas peternakan dan pendapatan masyarakat. Program ini diharapkan dapat mendorong para peternak sapi di kabupaten ini untuk tetap melakukan budidaya ternak, meski dengan pendekatan yang lebih terarah dan modern.

Muharram mengatakan, saat ini sudah tersedia berbagai model peternakan baru, seperti sistem penggemukan sapi serta pengembangan sapi pranakan untuk menghasilkan bibit unggul dan daging dalam jumlah besar. 

Beberapa jenis sapi unggul yang dimaksud antara lain sapi brahman, limousin, dan angus. Menurutnya, sistem tersebut cukup ekonomis karena masa pemeliharaan relatif singkat, yakni sekitar satu tahun.

Pemkab berencana mendatangkan embrio sapi unggul dari luar Aceh untuk dikembangkan di Aceh Besar. Embrio tersebut nantinya akan ditanam pada indukan sapi tertentu agar dapat tumbuh optimal. 

“Dengan demikian, bibit sapi unggul ini bisa berkembang di Aceh Besar dan menjadi salah satu pendukung peningkatan pendapatan masyarakat,” ujar Muharram.

Ia menjelaskan, proses pengembangan embrio akan dilakukan secara terpadu. Hal ini karena embrio sapi unggul berukuran besar sehingga tidak memungkinkan untuk dikawinkan dengan induk sapi Aceh. 

Oleh sebab itu, diperlukan indukan yang sesuai seperti Brahman atau Limousin. “Setelah jumlahnya mencukupi, barulah kita coba kembangkan ke kandang-kandang peternak,” pungkasnya.(iw)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved