Minggu, 31 Mei 2026

Citizen Reporter

Belajar Penguatan Kapasitas Tata Kelola Publik di India

Awal tahun 2026, kami perwakilan dari Pemerintah Aceh, peroleh kesempatan mengikuti Short Course Indian Technical and Economic Cooperation

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
RAHMAT HIDAYAT, S.E., ASN Dinas Perhubungan Aceh, melaporkan dari India 

RAHMAT HIDAYAT, S.E., ASN Dinas Perhubungan Aceh, melaporkan dari India

Kesempatan untuk belajar dan bertukar pengalaman di tingkat internasional merupakan anugerah sekaligus tanggung jawab besar bagi setiap aparatur sipil negara (ASN).

Pada awal tahun 2026, kami, perwakilan dari Pemerintah Aceh, memperoleh kesempatan mengikuti Short Course Indian Technical and Economic Cooperation (ITEC) yang diselenggarakan oleh Pemerintah India melalui Ministry of External Affairs dengan tema “Mid Career Training Programme on Public Policy and Governance for Civil Servants of South-East Asian and IOR Countries.”

Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan dinas biasa, melainkan sebuah proses pembelajaran intensif yang dirancang untuk memperkuat kapasitas aparatur dalam merumuskan kebijakan publik serta meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan.

Keikutsertaan kami dalam program ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Aceh untuk terus beradaptasi dengan perkembangan global, memperluas wawasan, dan menghadirkan pelayanan publik yang lebih efektif dan responsif.

Antusiasme peserta

Pekan pertama awal tahun 2026, rasa syukur dan senang berpadu dengan rasa haru dan duka, karena kami termasuk di antara peserta yang mendapatkan rekom dari Pemerintah Aceh untuk mengikuti kursus singkat (short course) di India.

Di sisi lain, rasa berkabung akibat duka akhir tahun yang menimpa hampir seluruh Aceh tidak terkecuali juga masih memenuhi hati dan pikiran kami. Terlebih lagi saat-saat proses pendaftaran kursus ini, saya dan kawan kantor sedang bertugas ke Terminal Tipe B Aceh Tamiang, salah satu lokasi terparah saat banjir terjadi. Saya bertahan di sana selama sepuluh hari dengan segala keterbatasan logistik, air, listrik, dan BBM sebelum akhirnya bisa menembus jalur darat ke Langsa dan bisa menyelesaikan proses ‘submit’ dokumen untuk keperluan kursus di India ini.

Ekspektasi kelulusan sempat memudar, semangat yang dulu menggebu turun landai. Namun, takdir dan rezeki memang sungguh mengetahui alamat empunya. Beberapa hari kemudian surat elektronik masuk dari Pemerintah India berisi pernyataan diterimanya berkas aplikasi saya berikut lampiran ‘letter of acceptance’ (LoA). Dukungan keluarga dan dorongan rekan kerja begitu bermakna dan mendasari keputusan saya mengambil kesempatan ini, selaras dengan ‘quote’ motivasi “Opportunity never knocks twice; take it or leave it.”

Perjalanan dimulai dengan berbagai persiapan administratif, mulai dari pengurusan dokumen perjalanan ke Konsulat India di Medan, koordinasi antarinstansi, hingga pembekalan internal mengenai tujuan dan manfaat program.

Rasa antusias menyertai setiap tahap persiapan, mengingat program ITEC yang kami ambil merupakan pelatihan bergengsi yang diikuti peserta dari berbagai negara di Asia Tenggara dan Indian Ocean Region (IOR).

Setibanya di India, kami disambut dengan suasana berbeda, tetapi penuh keramahan. India sebagai negara dengan sejarah panjang dalam sistem pemerintahan dan demokrasi modern memberikan kesan mendalam sejak hari pertama.

Perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan justru menjadi warna tersendiri yang memperkaya pengalaman kami sebagai peserta.

Pusat pembelajaran National Center for Good Governance (NCGG) menjadi lokasi utama pelatihan. Institusi ini dikenal sebagai salah satu pusat unggulan dalam pengembangan kapasitas aparatur pemerintahan di India.

Fasilitas yang tersedia sangat mendukung proses pembelajaran, mulai dari ruang kelas modern, perpustakaan digital, hingga akses terhadap berbagai sumber referensi kebijakan publik internasional.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi yang komprehensif, mencakup perumusan kebijakan publik, reformasi birokrasi, ‘digital governance’, transparansi dan akuntabilitas, pelayanan publik berbasis teknologi, serta strategi kepemimpinan dalam pemerintahan modern.

Setiap sesi diisi oleh akademisi, praktisi pemerintahan, dan pakar kebijakan publik.

Metode pembelajarannya tidak hanya teoretis, tetapi juga interaktif melalui diskusi kelompok, studi kasus, dan simulasi perumusan kebijakan. Pendekatan ini mendorong peserta untuk aktif berbagi pengalaman dari negara masing-masing, sehingga tercipta pertukaran ide yang konstruktif dan aplikatif.

Salah satu nilai utama dari program ini adalah kesempatan untuk berinteraksi dengan sesama ASN dari berbagai negara, mulai dari Vietnam, Kamboja, Tailan, Sri Lanka, dan peserta dari Afrika, yakni Mauritus dan Tanzania.

Kami berdiskusi mengenai tantangan yang dihadapi dalam tata kelola pemerintahan. Mulai dari isu pelayanan publik, transparansi anggaran, hingga transformasi digital di sektor pemerintahan.

Perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan dalam membangun pemahaman lintas budaya dan sistem pemerintahan.

Kami menyadari bahwa meskipun setiap negara memiliki karakteristik dan regulasi yang berbeda, tujuan akhirnya tetap sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kebijakan yang tepat sasaran dan pelayanan yang berkualitas.

Bagi kami dari Aceh, diskusi ini membuka perspektif baru tentang pentingnya kolaborasi internasional serta penerapan praktik terbaik yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan daerah.

Penguatan kompetensi 

Program Mid Career Training ini dirancang khusus bagi ASN yang telah memiliki pengalaman kerja di pemerintahan.  Materi yang disampaikan lebih menekankan pada penguatan kompetensi strategis, analisis kebijakan, dan kepemimpinan birokrasi. Kami juga diajak merefleksikan peran sebagai pelayan publik, bukan sekadar pelaksana administrasi.

Salah satu pelajaran penting yang kami peroleh adalah pentingnya ‘good governance’ yang berlandaskan transparansi, partisipasi publik, efektivitas, dan akuntabilitas. Pemerintahan yang baik tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada integritas aparatur dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. 

Selain itu, transformasi digital dalam pemerintahan menjadi topik yang sangat relevan. India sebagai negara dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat memberikan contoh nyata bagaimana digitalisasi mampu meningkatkan efisiensi layanan publik serta memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat.

Diplomasi lunak 

Di luar kegiatan akademik, kami juga berkesempatan mengenal budaya India melalui kunjungan ke beberapa lokasi bersejarah dan pusat pemerintahan. Interaksi sosial dengan masyarakat setempat memperkaya pemahaman kami mengenai keberagaman budaya dan nilai-nilai toleransi.

Program ini secara tidak langsung juga menjadi sarana diplomasi lunak (soft diplomacy) antarnegara.

Hubungan baik yang terjalin antarpeserta diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk kerja sama profesional di masa depan. Jaringan internasional yang terbentuk menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Dampak bagi Pemerintah Aceh Keikutsertaan kami dalam program ITEC memberikan dampak positif yang signifikan bagi pengembangan kapasitas sumber daya manusia  (SDM) di lingkungan Pemerintah Aceh.

Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh tidak berhenti pada tingkat individu, melainkan diharapkan dapat ditransformasikan menjadi inovasi kebijakan dan peningkatan kualitas pelayanan publik di daerah.

Kami menyadari bahwa setiap ilmu yang diperoleh merupakan amanah untuk diterapkan secara nyata.

Oleh karena itu, sepulang dari India, komitmen untuk berbagi pengetahuan dengan rekan kerja serta mendorong perbaikan sistem menjadi langkah penting yang harus dilakukan.

Penutup Ikut Short Course ITEC di India menjadi pengalaman yang tidak hanya memperluas wawasan profesional, tetapi juga memperkaya sudut pandang sebagai ASN. 

Program ini menegaskan bahwa pembelajaran tidak mengenal batas geografis dan bahwa peningkatan kapasitas aparatur merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan daerah.

Bagi kami, kesempatan ini adalah momentum untuk terus berbenah, memperkuat integritas, dan menghadirkan tata kelola pemerintahan yang lebih baik bagi masyarakat Aceh. Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi bagi ASn lainnya untuk terus belajar, berinovasi, dan berkontribusi dalam membangun pelayanan publik yang semakin berkualitas dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved