Breaking News
Senin, 1 Juni 2026

Citizen Reporter

Ketika Haji Menjadi Puncak Pengorbanan yang Sesungguhnya

Musim haji kembali tiba. Bulan pengujung yang menandai genap berakhirnya satu tahun Hijriah, Zulhijah, kini telah tampak hilalnya

Tayang:
Editor: mufti
For Serambinews.com
TEUKU ALFIN AULIA,  Founder Halaqah Aneuk Bangsa, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Al Azhar, Kairo, melaporkan dari Kairo, Mesir 

TEUKU ALFIN AULIA,  Founder Halaqah Aneuk Bangsa, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Al Azhar, Kairo, melaporkan dari Kairo, Mesir

"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)

Musim haji kembali tiba. Bulan pengujung yang menandai genap berakhirnya satu tahun Hijriah, Zulhijah, kini telah tampak hilalnya. Jiwa-jiwa yang beriman sontak menyambut bulan ini dengan penuh haru dan kerinduan. Ada di antara mereka yang mulai mempersiapkan jiwa dan raganya karena mendapat kehormatan dipanggil berhaji tahun ini. Ada pula yang sedang khusyuk menyimpan niat serta memanjatkan doa terbaik agar giliran mereka tiba di tahun-tahun mendatang.

Tak sedikit bukti pengorbanan nyata yang terlihat dari mereka yang kini mendapat kesempatan menginjakkan kaki di tanah suci. Kisah-kisah haru penuh inspirasi kerap menghiasi ruang telinga kita, menceritakan tentang bagaimana seorang tukang bubur, pemungut sampah, hingga pedagang asongan keliling mampu melunasi biaya perjalanan ibadah ini. Hasil keringat yang dikumpulkan dari mengepul barang bekas selama puluhan tahun atau dari sisa keuntungan dagangan yang tak seberapa, menjelma menjadi sebuah tiket menuju Baitullah.

Secara taklif, haji memang hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu. Namun, sejarah dan realita berulang kali mengajarkan kita bahwa kemampuan di sini bukan sekadar tentang tebalnya dompet atau bugarnya raga, melainkan juga tentang kesiapan ruhiyyah (jiwa) yang telah remuk redam dalam pasrah.

Di sinilah puncak pengorbanan itu mewujud. Menunaikan haji berarti bersiap untuk melepaskan segalanya. Para jemaah harus merelakan kehangatan pelukan anak dan istri, menanggalkan jubah kebesaran berupa jabatan dan status sosial, lalu berjalan ribuan kilometer hanya dengan berbalut dua lembar kain putih tanpa jahitan. Di hadapan Ka'bah, sang raja dan sang jelata tak dapat dibeda, semuanya melebur baur dalam rupa yang sama.

Jika menengok ke belakang, tantangan perjalanan haji di masa lalu tentu jauh lebih berat dan sarat pertaruhan nyawa dibandingkan dengan kemudahan akomodasi modern saat ini. Pada masa ketika pesawat terbang belum ada, jemaah haji harus bertaruh nasib di atas kapal laut selama berbulan-bulan, bahkan hingga setahun lamanya. Samudra Hindia menjadi saksi bisu sekaligus kubur abadi bagi tidak sedikit jemaah haji yang gugur dan syahid di tengah ombak besar sebelum sempat menatap Ka'bah.

Kain ihram yang mereka bawa dari rumah, seketika berubah menjadi kain kafan yang menemani jasad mereka tenggelam ke dasar laut. Namun, segala bahaya yang mengintai di tengah lautan itu telah mereka ikhlaskan sejak pertama kali hati memantapkan niat untuk memenuhi seruan-Nya.

Keluarga yang melepas di dermaga pelabuhan juga sudah tentu tahu betul bahwa lambaian tangan hari itu mungkin saja menjadi perpisahan terakhir di dunia.

Menengok lebih dalam, esensi pengorbanan dalam ibadah haji sejatinya berakar dari tapak tilas sejarah keluarga Nabi Ibrahim a.s. Betapa teteguhnya hati Sayyidah Hajar yang ditinggalkan di lembah tandus Bakkah tanpa bekal memadai, lalu harus berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah demi mencari seteguk air untuk bayinya, Ismail. Pengorbanan fisik dan mental yang luar biasa inilah yang kini kita kenang dalam ritual sa'i.

Puncaknya adalah ketika perintah penyembelihan Ismail turun, sebuah ujian cinta tertinggi yang mengikis habis ego kebapakan Nabi Ibrahim demi ketaatan mutlak kepada Sang Khalik. Padahal, tak terhitung berapa puluh tahun Ibrahim menanti kehadiran seorang anaknya yang bernama Ismail.

Allah menguji ketulusan Ibrahim a.s. dalam menjalankan perintah-Nya. Ibrahim pun menyahut segala perintah Allah dengan tunduk patuh. Sehingga, sempurnalah keislaman (ketundukpatuhan) Ibrahim di hadapan Allah, Sang Khalik. Ibrahim dan keluarganya sudah membuktikan kerelaan mereka dengan mengorbankan segala yang mereka cintai dan miliki, demi kecintaan kepada Tuhan semata.

Tunduk, patuh, dan pasrah kepada Tuhan semesta, adalah sifat yang harusnya dimiliki oleh setiap pribadi muslim. Pengorbanan yang demikian luar biasa dibutuhkan saat melaksanakan haji, merupakan bentuk puncak dari pembuktian keislaman (ketundukan) seorang hamba di hadapan Sang Khalik.

Di dalam menyahut panggilan-Nya, jemaah haji disunahkan untuk mengucapkan kata; Labbaikallahumma..labbaik…( Telah kami jawab panggilan-Mu, dengan patuh dan tunduk duhai Allah). Kumpulan

kata yang cukup menggambarkan bagaimana segala kesulitan dan kepayahan, dikorbankan dengan tunduk patuh pada Rabbul 'alamin.

Secara logika matematis manusiawi, jika ibadah haji hanya digerakkan oleh kalkulasi materi, niscaya akan banyak orang yang enggan melaksanakannya. Modal yang dikumpulkan dengan susah payah selama berpuluh-puluh tahun tentu terasa lebih logis jika digunakan untuk modal usaha, memperluas aset, atau sekadar meningkatkan taraf hidup di tanah air. Namun, di hadapan cinta kepada Allah, logika itu luruh. Semuanya dikorbankan dengan penuh keikhlasan.

Begitu pula ketika mereka sampai di tanah suci. Ritual tawaf, sai, hingga wukuf di Arafah adalah syiar yang membutuhkan ketahanan fisik dan kelapangan sabar yang luar biasa. Tanpa fondasi keikhlasan yang kokoh, semua keletihan dan pengorbanan materi tersebut akan menguap sia-sia menjadi sekadar perjalanan wisata religius tanpa makna.

Mengenai hakikat cinta dan kepasrahan total ini, seorang sufi pernah bergumam di dalam syairnya yang menggetarkan jiwa,

"Hanya kepada-Mu rindu ini melangkah; jika tidak, untuk apa lelah bersiap menempuh perjalanan?

Hanya dari-Mu segala karunia mengalir; jika tidak, sirnalah sudah seluruh dambaan.

Hanya pada-Mu harapan ini bersandar; jika tidak, merugilah jiwa yang menggantungkan impian.

Hanya tentang-Mu kebenaran itu nyata; jika tidak, setiap cerita hanyalah bualan belaka.

Hanya untuk-Mu seluruh cinta dipersembahkan; jika tidak, sia-sialah segala rasa di dalam dada.

Hanya cahaya-Mu yang menerangi semesta; jika tidak, indahnya purnama pun tak ubahnya malam yang gulita."

Ketika musim haji kembali memanggil, kita yang hari ini masih menatap Ka'bah dari balik layar kaca hanya bisa melangitkan pinta dengan hati yang patah. Kita sadar diri betapa berlumurnya jiwa ini dengan dosa, betapa tidak pantasnya diri ini bertamu ke rumah-Nya yang suci. Kita sering kali mengaku rindu, tetapi hati kita masih sibuk dengan kesenangan duniawi yang fana.

Namun, ya Rabb, Penguasa tiap-tiap hati yang merindu. Jika di musim haji kali ini nama kami belum tertulis di papan panggilan-Mu. Jagalah iman ini agar tidak padam dalam penantian.

Panggillah kami, ketuklah pintu hati kami, dan izinkan seluruh raga, harta, serta sisa usia ini kami korbankan demi bisa bersimpuh, bersujud di bawah naungan ampunan-Mu pada musim haji berikutnya. Amin ya Rabbal 'alamin.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved