Kamis, 9 April 2026

Bireuen

Petani Cot Teube dan Blang Guron Gelar Kenduri Blang, Ini Pesan Kadistanbun

Petani warga Desa Cot Teube dan Blang Guron menggelar kenduri blang sebagai tradisi dimulainya turun ke sawah musim tanam tahun ini.

Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Taufik Hidayat
Serambinews.com
Para petani dan masyarakat Desa Blang Guron, Gandapura Bireuen, Minggu (28/4/2024) sedang melakukan doa bersama rangkaian kegiatan kenduri blang di meunasah setempat. 

Laporan Yusmandin Idris | Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Para petani warga Desa Cot Teube dan Blang Guron, Kecamatan Gandapura, Bireuen, Minggu (28/4/2024) menggelar kenduri blang sebagai tradisi dimulainya turun ke sawah musim tanam tahun ini di desa masing-masing dihadiri puluhan warga, Camat Gandapura, penyuluh pertanian dan juga Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Bireuen, Mulyadi SE MM dan juga undangan lainnya.

Kenduri turun ke sawah ini merupakan tradisi masyarakat dengan harapan mendapat berkah, tanaman padi subur, jauh dari serangan hama dan juga hasil panen bagus nantinya.

Amatan Serambinews.com, dalam kenduri blang di meunasah Desa Cot Teube Gandapura, Bireuen, kenduri blang diawali masak memasak di meunasah atau di areal sawah mereka, namun di Desa Cot Teube belum ada saung tani atau jambo dan juga cuaca cukup panas maka masak memasak dilakukan di komplek meunasah.

Sedangkan kaum bapak, remaja dan juga anak-anak serta para undangan hadir ke meunasah melakukan doa bersama. Doa bersama di Meunasah Desa Cot Teube dipimpin Abah Rasyidin pimpinan Dayah Darussa'adah Cot Teubee.

Usai doa bersama, Keuchik Cot Teube, M Husin SH mengatakan, tujuan kenduri blang selain melestarikan tradisi lama, juga agar saat memulai turun ke sawah mendapat berkah dari Allah SWT, jauh dari serangan hama, hasil panen juga melimpah.

“Dengan kenduri blang dan berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari serangan hama dan hasil panen bagus nantinya,” ujarnya.

Di Cot Teube katanya, luas areal sawah tadah hujan sekitar 35 hektar dengan sumber air pompanisasi dengan sumber air di Desa Pante Sikumbong jaraknya sekitar 2 km. Petani dikenakan iuran untuk air dan sudah disepakati bersama sebesar 26 kilogram padi untuk areal satu rante atau 20 x 20 meter untuk biaya mesin pompa air dan juga operasional lainnya.

Menyangkut jadwal turun ke sawah, kata keuchik sama-sama menunggu turunnya hujan, ketika hujan sudah turun maka sama-sama memulai bajak sawah dan lainnya dan nantinya ada pengumuman dari desa.

Kadistanbun Bireuen, Mulyadi SE MM dalam pertemuan di meunasah setempat mengawali dengan memperkenalkan para penyuluh pertanian di Gandapura yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Pemerintah katanya, telah menempatkan para penyuluh pertanian, para penyuluh harus mampu bekerja dan melaporkan berbagai persoalan pertanian dan dinas ingin semakin dekat dengan para petani.  Kemudian kelompok tani yang sudah dibentuk di masing-masing desa  apakah masih aktif atau tidak.

Kehadiran para penyuluh katanya diharapkan menjadi tempat bagi petani untuk berkonsultasi dan juga berbagai kegiatan menyangkut pertanian dan berbagai pesan lainnya. Dalam pertemuan tersebut juga mendengar berbagai informasi dan harapan para petani setempat menyangkut bidang pertanian.

Usai pertemuan di Cot Teubee, Kadistanbun Bireuen juga menghadiri kenduri blang di Desa Blang Guron, Gandapura Bireuen dan juga melakukan pertemuan serta diskusi dengan para petani menyangkut percepatan tanam padi musim tanam dalam waktu dekat.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved