Rabu, 10 Juni 2026

Internaisonal

Saman Gayo Getarkan Busan

"Saya menerima begitu banyak apresiasi dari penonton setelah pertunjukan selesai," katanya. M Aris,Ketua Lesbuga

Tayang:
Editor: mufti
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Penampilan Tim Saman Gayo Provinsi Aceh di Busan 

Apresiasi itu tidak hanya datang dalam bentuk tepuk tangan. Seorang penonton mendatangi salah seorang pemain Saman dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. "Apakah Saman memiliki hubungan dengan spiritualitas?"

Pertanyaan itu menunjukkan bahwa publik tidak hanya menikmati keindahan visual pertunjukan, tetapi juga tertarik memahami nilai-nilai yang hidup di baliknya.

Seorang penari dari Kanada bahkan mengaku sangat menikmati pertunjukan tersebut. "Beautiful," katanya singkat.

Bagi masyarakat Gayo, Tari Saman memang bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah warisan peradaban yang memuat nilai persaudaraan, penghormatan, pendidikan, dakwah, serta semangat gotong royong yang diwariskan turun-temurun.

Karena itu, ketika Tari Saman tampil di panggung internasional, yang hadir bukan hanya gerakan tubuh para penari. Yang hadir adalah sejarah, identitas, dan cara pandang sebuah masyarakat terhadap kehidupan.

Busan International Dance Festival 2026 yang diikuti 13 negara menjadi ruang perjumpaan budaya dunia. Di antara berbagai ekspresi seni yang hadir, Saman tampil membawa kekhasan yang sulit ditemukan pada tradisi lain.

Tanpa alat musik pengiring. Tanpa properti panggung yang rumit. Tanpa tata cahaya yang berlebihan. Saman hanya mengandalkan suara manusia, tepukan tangan, gerak tubuh, dan kekompakan.

Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir daya magis yang mampu menembus batas bahasa dan kebangsaan.

Penampilan di Haeundae Beach Stage hanyalah awal dari rangkaian misi budaya Aceh di Korea Selatan. Tim Saman  kembali tampil pada 7 Juni di panggung yang sama, menggelar Workshop Saman di Chungriyeoul Elementary School pada 8 Juni, serta tampil pada acara penutupan BIDF di Geoje Arts Centre Grand Theater pada 9 Juni 2026.

Keikutsertaan Aceh mewakili Infonesia dalam festival ini merupakan bagian dari perjalanan panjang diplomasi budaya yang selama ini dilakukan para pegiat seni Aceh di berbagai negara.

Di Busan, Tari Saman sekali lagi membuktikan dirinya sebagai bahasa universal.Bahasa yang tidak memerlukan penerjemah.

Bahasa yang dipahami melalui rasa. Bahasa yang membuat penonton Korea, Kanada, Indonesia, dan berbagai bangsa lainnya duduk bersama dalam kekaguman yang sama.

Dari dataran tinggi Gayo hingga tepian Laut Busan, Saman kembali menegaskan satu hal: warisan budaya yang lahir dari sebuah kampung kecil dapat berbicara kepada dunia, selama ia dijaga dengan cinta dan dipersembahkan dengan sepenuh hati.(dan/rel

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved