Minggu, 7 Juni 2026

Berita Aceh Besar

Diskusi Buku Sastra Bedah Novel Paya Nie yang Ditulis Perempuan Aceh asal Bireuen

Diskusi buku sastra bertajuk Paya Nie yang ditulis perempuan Aceh asal Bireuen, Ida Fitri, di perpustakaan Sophie’s Sunset Library, Lampuuk

Tayang:
Editor: mufti
FOR SERAMBINEWS.COM
FOTO BERSAMA - Peserta diskusi sastra foto bersama usai bedah novel bertajuk Paya Nie yang ditulis perempuan Aceh asal Bireuen, Ida Fitri di perpustakaan Sophie’s Sunset Library, Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, Jumat (12/9/2025). 

 

SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Diskusi buku sastra didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk penguatan komunitas sastra 2025, membedah novel bertajuk Paya Nie yang ditulis perempuan Aceh asal Bireuen, Ida Fitri, di perpustakaan Sophie’s Sunset Library, Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, Jumat (12/9/2025). 

Novel ini tidak sekadar dibedah sebagai karya sastra, tetapi juga dimaknai sebagai ruang refleksi bersama. Diskusi buku ini menegaskan, sejarah tidak hanya dapat dibaca lewat buku sejarah, tapi juga bisa diketahui lewat buku-buku sastra.

“Tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini memiliki karakteristik yang kuat, tangguh, dan berani mengambil risiko. Mereka merasa mempunyai tanggung jawab untuk merawat kehidupan, dan itu karakteristik khas perempuan Aceh. Ketika konflik, karakteristik itu terlihat sangat tebal, dan setelah konflik usai hal tersebut tetap ada,” ujar Ida.

Sementara penulis perempuan lainnya dari Aceh, Raisa, menekankan, perempuan juga mempunyai peran krusial dalam merawat perdamaian di Aceh. Menurutnya, novel ini juga memberi perspektif penting tentang peran perempuan di tengah konflik yang kerap kali terlupakan dan dianggap remeh di Aceh. “Sehingga jarang kita temui narasi tentang perempuan di masa konflik dan juga di masa perdamaian ini,” ungkapnya.

Dikatakan, novel yang menyabet juara tiga pada sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2023 silam dan masuk dalam nominasi ajang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 ini, tidak hanya menyajikan sebuah rekaman peristiwa keseharian yang pernah dialami perempuan di Aceh pada suatu masa, tapi juga menawarkan sebuah setting landscape baru berupa rawa atau di Aceh dikenal dengan istilah paya.

“Setting lokasi yang menjadi salah satu lokasi kisah di buku ini berada di paya atau rawa, sesuatu yang baru bagi sastra Aceh juga sastra Indonesia karena biasanya setting-nya selalu tentang kota, desa, gunung. Rawa sendiri bagi orang Aceh adalah landscape yang sangat dekat karena seperti Banda Aceh, juga kota dengan banyak rawa,” lanjutnya.

Sementara Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, mengatakan, program yang digagas untuk penguatan komunitas sastra ini adalah upaya pihaknya menjembatani antara karya sastra dengan pembaca. 

Karena selama ini menurutnya, diseminasi atau penyebaran buku sastra masih belum optimal. “Komunitas sastra diharapkan berperan sebagai ujung tombak yang akan menyebarluaskan karya sastra, dengan cara mendiskusikannya dan mengalihwahanakannya,” ujar Ahmad.

Diketahui Sophie’s Sunset Library merupakan sebuah perpustakaan umum yang berada di Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, salah satu komunitas sastra di Indonesia yang mendapat dukungan penguatan komunitas sastra 2025 dari Kementerian Kebudayaan.

Selain mendiskusikan novel Paya Nie, acara yang dipandu oleh Maulia Iska Novita ini dibuka dengan seni tutur hikayat yang dibawakan Fuadi S Klayu. Fuadi melantunkan syair-syair tentang pentingnya literasi. Walaupun Ida Fitri berhalangan hadir, tetapi acara ini tetap berlangsung dengan lancar. 

Salah satu pendiri Sophie’s Sunset Library, Raihan Lubis, mengatakan, kegiatan diskusi buku sastra seperti ini telah rutin mereka lakukan dalam tiga tahun terakhir dengan swadaya. Dukungan Kementerian Kebudayaan menurutnya patut diapresiasi, karena memperluas jangkauan yang dapat dilakukan komunitas-komunitas, sehingga semakin banyak yang menyukai sastra. 

Dikatakan, bagi yang tidak hadir pada diskusi ini masih dapat menonton jalannya diskusi di channel youtube Sophie’s Sunset Library. “Melalui acara-acara seperti ini, kita bisa punya kesadaran baru yang hadir secara kolektif tentang pentingnya literasi dan juga sastra,” pungkas Raihan.(rn)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved