Banjir Landa Aceh

PascaBanjir, BBM Kritis dan Harga Telur Melambung

Telur dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi barang langka, sementara harga melambung tinggi, menambah penderitaan warga

Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/Nur Nihayati
ANTRE BBM - Warga rela antre berjam-jam sejak pasca subuh untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Jalan Prof A Majid Ibrahim Sigli, Pidie, Minggu (30/11/2025). 

Telur dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi barang langka, sementara harga melambung tinggi, menambah penderitaan warga

SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Pascamusibah banjir melanda Aceh termasuk di Kabupaten Pidie mengakibatkan masyarakat kian terjepit.

Betapa tidak, untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) warga harus rela antra berjam-jam sejak Subuh agar bisa terisi bensin kendaraannya.

Sementara, musibah banjir menerjang Kabupaten Pidie sejak beberapa hari terakhir tidak hanya merendam rumah warga dan ruas jalan, tetapi juga memicu kelangkaan kebutuhan pokok. 

Telur dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi barang langka, sementara harga melambung tinggi, menambah penderitaan warga di tengah musibah.

Di pasar-pasar dan titik terdampak banjir, kondisi stok telur tampak kritis. Telur yang biasanya dijual Rp 46.000 per papan kini tembus Rp 75.000–Rp 90.000, sementara harga per butir melonjak menjadi Rp 2.500–3.000. Warga terpaksa membeli sangat terbatas atau mengurangi konsumsi sama sekali.

Di Pidie telur habis diborong dan harga sudah naik gila-gilaan. Jalan rusak karena banjir membuat distribusi dari luar daerah terhenti. 

"Masyarakat kian terjepit sudah musibah, Harga telur naik, bbm sulit.Kami benar-benar terjepit," ujar Usman, seorang warga Sigli. 

Kelangkaan juga terjadi di Kecamatan Indra Jaya, Peukan Baro, Simpang Tiga dan Tangse. Banyak warung dan kios eceran kosong dari telur maupun beberapa kebutuhan pokok lainnya. 

Harga BBM, terutama Premium, ikut melambung. Di kios eceran, satu liter dijual Rp 20.000. Warga terpaksa antre berjam-jam demi mengisi tangki kendaraan. 

“Kendaraan harus bisa jalan, anak-anak sekolah dan mau ujian, pekerjaan, semuanya butuh kendaraan. Sekarang semua mahal. Banjir sudah bikin pusing, sekarang kebutuhan pokok ikut naik,” kata Cut Beti, warga Pidie. 

Dampak banjir juga dirasakan oleh pedagang Mie Aceh dan pemilik warung kopi di Sigli dan sekitarnya. Telur sebagai bahan utama mie Aceh kini langka, sementara permintaan masyarakat tetap tinggi.

Nazarudin alias Cek Dat, penjual Mie Aceh di New PCC Kuphie, Sigli, mengatakan dengan nada khawatir, “Saat ini telur susah didapat, kalau pun ada harganya sudah naik drastis. Kami harus berpikir dua kali setiap mau masak mie. Kalau harga terus naik, kemungkinan kami akan kurangi porsi atau naikkan harga jual,” katanyanya. 

Banjir juga merusak sejumlah ruas jalan lintas Sumatera (Jalinsum) Aceh–Medan, menghambat pasokan dari luar daerah. Di Gampong Blang Pandak, jalan kabupaten amblas dan hanyut, membuat truk pengangkut barang tidak bisa melintas. Warga berharap pemerintah segera mengerahkan alat berat untuk membuka akses.

BPBD Kabupaten Pidie mencatat, sejumlah gampong terdampak banjir mengalami isolasi sementara. Selain bantuan makanan siap saji, warga berharap distribusi bahan pokok dan BBM segera normal kembali. 

Maka itu, masyarakat berharap pemerintah segera menstabilkan pasokan, tidak hanya untuk menjaga kelangsungan usaha mereka, tetapi juga untuk mencegah warga jatuh dalam kesulitan lebih besar. 

"Jangan membuat warga kian sulit dan panik, seharusnya kehadiran pemerintah bisa membantu masyarakat agar bisa hidup dengan tenang setelah ditimpa musibah," pungkas warga Pidie. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved