Senin, 25 Mei 2026

Opini

Bencana dan Reinterpretasi Maksiat

Peristiwa memilukan yang datang pada penghujung tahun 2025 ini kembali mengingatkan kita pada memori kolektif yang belum sepenuhnya pulih,

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
IST
Khairil Miswar, Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry, dan penulis buku “Demokrasi Kurang Ajar” 

Dalam konteks formalisasi syariat Islam yang telah berlangsung lebih dari dua dekade di Aceh, saya memaksa diri untuk sepakat bahwa event-event hiburan seperti konser musik, yang dalam praktiknya berpotensi membuka ruang bagi terjadinya ikhtilath (meskipun secara teknis hal itu masih dapat diatur dan disesuaikan)—digolongkan sebagai sesuatu yang terlarang dalam syara’, setidaknya sebagaimana termaktub dalam qanun-qanun yang berlaku.

Namun, ketika tafsir tunggal semacam ini justru menelan dan menyingkirkan tafsir lain yang lebih luas serta lebih substantif, di situlah saya, dan kita semua, harus mulai berpikir ulang: maksiat yang dimaksud Tuhan tidaklah sekerdil itu.

Di era digital seperti sekarang, ketika ChatGPT dan Gemini sudah sukses “menampar” Google yang dulunya diberhalakan, saya tentu tidak perlu mengurai terlalu banyak data untuk menumbuhkan keyakinan kita semua bahwa kerusakan alam yang melibatkan tangan manusia merupakan faktor langsung sekaligus nyata dalam melebarkan sayap bencana.

Dalam lanskap informasi yang begitu terbuka hari ini, bukti-bukti mengenai degradasi ekologis, salah urus tata ruang, dan tindakan manusia yang mengabaikan prinsip-prinsip keberlanjutan sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa banyak musibah tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari pola intervensi kita sendiri terhadap alam.

Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM dalam rilis resmi ugm.ac.id menegaskan bahwa bencana ini lahir dari kombinasi faktor alam dan ulah manusia. Cuaca ekstrem hanyalah pemicu awal; daya rusaknya membesar karena rapuhnya benteng ekologis di kawasan hulu. Pernyataan tersebut segera mengingatkan kita pada bagaimana hutan-hutan ditebang dan gunung-gunung dikeruk—dijajah dan “diperkosa” oleh para pelaku maksiat yang, ironisnya, tidak jarang tampil dengan jubah religius.

Berbeda dari pelaku “maksiat kecil” yang dosa terbesarnya hanya memamerkan tubuh, para pelaku “maksiat besar” yang melibatkan korporasi dan individu-individu kapitalistik bukan sekadar merusak alam, tetapi juga menghancurkan kemanusiaan.

Dalam kondisi demikian, naifnya, dengan amarah yang menyala-nyala kita hanya sibuk mengutuk konser musik dan pakaian perempuan, tetapi lupa, atau mungkin justru sengaja membiarkan para perusak alam berleha-leha bersama eskavator dan buldoser yang saban hari menebas hutan, seakan-akan batang-batang kayu itu adalah Belanda yang harus diusir dan dibunuh.

Ironisnya, ketika banjir dan longsor menghantam tanah kita, para korporat perusak hutan itu justru wira-wiri di media sosial. Kamera profesional dengan kualitas gambar yang memukau menampilkan mereka berdiri gagah di samping alat berat, membawa sedikit bantuan untuk para pengungsi, sembari menobatkan diri sebagai pihak yang paling peduli.

Padahal, bantuan yang mereka jinjing dengan langkah penuh pencitraan itu sama sekali tidak sebanding dengan kerusakan ekologis dan sosial yang telah mereka lakukan. Uniknya lagi, kita menyambut mereka dengan senyum mengembang selebar periuk, tanpa pernah berani menyebut bahwa merekalah pelaku maksiat terbesar yang dikutuk kitab suci.

Saya kira, pada titik inilah kita harus berhenti sejenak, menatap reruntuhan di sekitar kita, dan dengan jujur mengakui betapa besar peran kita dalam luka tanah ini. Mungkin di sinilah saatnya kita melakukan satu-satunya hal yang masih tersisa: taubat kolektif, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan keberanian mengubah arah sejarah yang sedang kita rusak dengan tangan kita sendiri.
 
 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved