Senin, 27 April 2026

Banjir Landa Aceh

Soal Penanganan Banjir, Ampon Man: Negara Seperti Ada dan Tiada untuk Aceh

Penanganan bencana banjir dan tanah longsor  yang melanda Aceh sejak akhir November lalu menuai kritik keras....

Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/Rianza Alfandi
PENANGANAN BANJIR ACEH – Jubir Pemerintah Aceh Teuku Kamaruzzaman alias Ampon Man, mengkritisi remehnya  penanganan bencana di Aceh oleh Pemerintah Pusat, Minggu (14/12/2025). 

 

Ringkasan Berita:
  • Penanganan banjir dan longsor di Aceh menuai kritik keras karena jutaan warga bertahan tanpa listrik, komunikasi, dan logistik memadai selama lebih dari dua pekan.
  • Jubir Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman (Ampon Man), menilai kehadiran negara nyaris tidak terasa, dengan lemahnya respons darurat, distribusi bantuan, serta pemulihan listrik dan BBM.
  • Ia menegaskan Aceh harus berjuang dengan kekuatan sendiri menghadapi bencana, seraya menyebut kondisi ini sebagai ujian besar bagi rakyat Aceh.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Penanganan bencana banjir dan tanah longsor  yang melanda Aceh sejak akhir November lalu menuai kritik keras. Selama lebih dua pekan, jutaan rakyat Aceh harus bertahan hidup tanpa listrik, jaringan telekomunikasi, serta akses logistik memadai. 

Kondisi tersebut telah membuat Aceh seolah kembali ke zaman purba, sementara kehadiran negara dinilai nyaris tidak terasa bagi masyarakat Tanah Rencong. 

“Negara seperti ada dan tiada untuk Aceh,” kata Jubir Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman alias Ampon Man, kepada Serambinews.com, Minggu (14/12/2025). 

Mantan Sekretaris BRR Aceh-Nias itu menggambarkan, berhari-hari bahkan berminggu-minggu masyarakat Aceh hidup tanpa listrik dan komunikasi. Peralatan masyarakat modern seperti gadget, komputer, mesin cuci, televisi, AC, hingga lemari pendingin tidak dapat digunakan. 

Ironisnya, kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah terdampak langsung, tetapi juga di daerah yang relatif aman seperti Banda Aceh, Aceh Besar, dan sekitarnya.

Selain itu, kelangkaan BBM dan Elpiji semakin memperparah situasi. Dampak ekonominya meluas ke 5–6 juta rakyat Aceh, karena melumpuhkan industri rumah tangga dan UMKM. 

“Serta melonjaknya bahan kebutuhan pokok karena distribusi yang terkendala transportasi,” ujarnya. 

Menurut Ampon Man, kemampuan penanganan bencana oleh lembaga dan organisasi pemerintahan terlihat sangat terbatas. Ia menilai tidak tampak kehandalan maupun kualifikasi humanitarian workers pada unit-unit penyelamatan milik negara.

“Di beberapa daerah terisolir rakyat korban mungkin makan apa saja yang ada karena nasi dan makanan lainnya  telah berhari hari tidak dapat ditemui. Mereka harus menempuh jalan puluhan kilometer dan bahkan berhari-hari untuk dapat mendapatkan makanan bagi diri dan keluarganya yang bisa selamat,” ungkapnya.

Keterisolasian berkepanjangan, lanjut Ampon Man, juga berdampak pada terhambatnya pencarian dan evakuasi korban, baik yang masih bisa diselamatkan maupun yang perlu ditemukan.

Di sisi lain, Ampon Man, menyoroti tidak adanya dropping logistik besar-besaran melalui udara ke wilayah terisolir, sebagaimana yang pernah dilakukan saat Bencana Tsunami 2004. 

“Saat itu, evakuasi dan distribusi bantuan dilakukan secara masif ke seluruh Aceh, termasuk daerah yang tidak terdampak langsung, demi memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Aceh tanpa pertimbangan lain selain penyelamatan nyawa manusia. Hal serupa tidak terlihat pada bencana hidrometeorologi atau Siklon Senyar 25 ini,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menilai tidak tampak pengerahan komponen cadangan negara secara masif untuk pencarian dan penyelamatan korban, baik di darat, sungai, laut, maupun kemungkinan korban yang tertimbun lumpur.

Sementara itu, PT PLN dinilai hanya melakukan perbaikan jaringan listrik dengan mekanisme normal pascabencana, yang tentu memerlukan waktu lama. Hal ini terjadi meski disebutkan telah dikerahkan puluhan ribu teknisi dari seluruh Indonesia.

“Namun tidak terlihat Emergency Respon seperti adanya pengadaan generator listrik untuk kota-kota terdampak bencana sebagai alat aktivitas dan jalur komunikasi vital untuk seluruh Aceh,” jelasnya. 

Lebih lanjut, Ampon Man juga menyoroti distribusi BBM dan elpiji oleh Pertamina yang baru mulai lancar pada hari ke-10 pascabencana, setelah sebelumnya terkendala persoalan kuota.

“Yang patut diberi apresiasi hanya Badan Pangan Nasional dan Bulog yang memiliki stok pangan yang cukup. Untuk berapa saja keperluan bagi korban dan dapat diambil kapan saja oleh posko kebencanaan yang ada. Malah akan ditambah lagi ribuan ton beras sesuai permintaan Pemerintah Aceh,” katanya. 

Lebih jauh Ampon Man menegaskan, bahwa perlakuan pemerintah pusat yang acuh tak acuh ini sama halnya meremehkan penyelematan korban bencana Aceh.

Baca juga: Status Bencana Dipertanyakan, Akademisi Unimal: Negara Jangan Hanya Bilang Parah, Segera Putuskan

Menurutnya, Aceh memang telah terlahir dan ditakdirkan selalu dalam episode perjuangan, baik berjuang dalam konflik antarmanusia (konflik politik atau senjata) maupun perjuangan dalam menghadapi bencana alam secara mandiri.

“Bencana tsunami telah memberi Aceh perdamaian untuk konflik selama hampir 30 tahun. Dalam bencana Hidrometeorologi ini Allah SWT mungkin punya rencana lain untuk rakyat Aceh. Allah SWT adalah perencana terbaik,” tegasnya. 

“Untuk itu, Aceh harus bisa dan berani berjuang dalam bencana dengan berdiri di atas kaki sendiri, dengan semua kekuatan serta kemampuan yang ada dalam masyakarat Aceh karena ‘Kita Aceh Meutaloe Wareeh’,” pungkasnya.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved