UAS ke Aceh
Tiba di Aceh, UAS Tinjau Progres Museum Harun Keuchik Leumiek
Museum Harun Keuchik Leumiek dirancang sebagai pusat sejarah dan peradaban Islam Aceh dengan berbagai koleksi artefak bernilai tinggi.
Ringkasan Berita:
- Ustaz Prof Dr H Abdul Somad Lc DESA PhD beserta rombongan tiba di Aceh, Kamis (25/12/2025) dan meninjau progres Museum Harun Keuchik Leumiek.
- UAS akan mengisi tausiah Refleksi 21 Tahun Tsunami Aceh di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Jumat (26/12/2025).
- UAS juga akan mengantar bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana banjir bandang di sejumlah wilayah di Aceh.
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Ustaz Prof Dr H Abdul Somad Lc DESA PhD (UAS) beserta rombongan tiba di Aceh, Kamis (25/12/2025).
Kedatangan UAS dalam rangka mengisi tausiah Refleksi 21 Tahun Tsunami Aceh yang dijadwalkan berlangsung 26 Desember 2025 di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Selain itu, UAS juga akan mengantar bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana banjir bandang di sejumlah wilayah di Aceh.
Informasi diperoleh Serambinews.com, begitu tiba di Banda Aceh, UAS langsung meninjau progres atau kemajuan pembangunan Museum Harun Keuchik Leumiek (MHKL) di tepi Krueng Aceh Gampong Lamseupeung, Kecamatan Luengbata, Kota Banda Aceh.
Kunjungan ini memiliki makna tersendiri bagi UAS, sebab ia yang meletakkan batu pertama pembangunan museum tersebut tahun lalu.
Di museum, UAS disambut Tgk H Muhammad Kamaruzzaman HKL SE (Tgk. Memed), Muhammad Zawir Ghivary dan Muhammad Kasfil, serta seluruh pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Keuchik Leumiek.
“UAS yang mengawali, semoga UAS pula yang mengakhiri seraya menunggu peresmian dan merindukan gunting pita pembukaan museum ini untuk masyarakat Aceh,” ujar Tgk Memed dalam siaran pers yang diterima Serambinews.com malam ini.
Baca juga: UAS Kembali Saweu Aceh, Isi Tabligh Akbar 21 Tahun Tsunami & Salur 1 Ton Rendang untuk Korban Banjir
Tgk Memed menyebutkan, progres pembangunan fisik Museum Harun Keuchik Leumiek saat ini telah mencapai sekitar 80 persen.
Adapun tahapan yang masih memerlukan waktu lebih panjang meliputi registrasi dan kurasi artefak, persiapan teknologi multimedia, serta penguatan jaringan virtual museum.
“Untuk aspek pendirian awal dan izin operasional, alhamdulillah hampir seluruhnya rampung. Kami berharap peresmian MHKL dapat dilakukan lebih cepat,” katanya.
Museum Harun Keuchik Leumiek dirancang sebagai pusat sejarah dan peradaban Islam Aceh dengan berbagai koleksi artefak bernilai tinggi.
Selain pameran fisik, museum ini juga direncanakan menghadirkan pameran virtual dan ruang edukasi berbasis teknologi yang dapat diakses secara bertahap oleh masyarakat luas.
Untuk Nusantara dan Internasional
Sementara itu, UAS menyampaikan apresiasi dan kekaguman atas pesatnya progres pembangunan museum tersebut.
Ia berharap kehadiran MHKL dapat menjadi simpul penting dalam memperkuat peradaban Islam Aceh, tidak hanya untuk Nusantara, tetapi juga bagi dunia internasional.
“Dengan koleksi seni dan artefak Islam yang dimiliki, museum ini akan membuka ruang kolaborasi bagi para peneliti, filolog, arkeolog, sejarawan, serta berbagai disiplin ilmu lainnya,” ujar UAS yang didampingi oleh sejumlah tokoh Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT).
UAS juga menyarankan agar seluruh koleksi MHKL dilengkapi dengan sistem barcode atau QR code yang terintegrasi langsung dengan jaringan website resmi museum.
Melalui sistem tersebut, setiap artefak dapat diakses secara digital oleh pengunjung, baik dalam bentuk narasi tertulis maupun audio, yang memuat penjelasan sejarah, konteks budaya, serta nilai peradaban dari masing-masing benda koleksi.
Menurut UAS, pemanfaatan teknologi ini akan menjadikan MHKL sebagai museum berbasis digital heritage yang edukatif, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus memudahkan generasi muda dan kalangan akademisi memahami sejarah Islam Aceh secara lebih mendalam.
Usai meninjau sejumlah area utama, UAS bersama rombongan naik ke lantai III bangunan MHKL yang masih dalam tahap pengerjaan.
Di lantai ini, Tgk. Memed menjelaskan rencana ruang sentral multimedia yang akan difungsikan sebagai pusat kreativitas pelajar, mahasiswa, dan peneliti.
Ruang tersebut juga akan mendukung kegiatan pameran tematik, diskusi ilmiah, serta pengembangan konten edukasi sejarah dan budaya Aceh.
Museum Harun Keuchik Leumiek diharapkan menjadi ruang hidup bagi memori kolektif, ilmu pengetahuan, dan peradaban Aceh, sekaligus menjadi jembatan antara warisan masa lalu dan generasi masa depan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/UAS-Tinjau-Museeum-Harun-Keuchik-Leumik-Banda-Aceh-01.jpg)