Banjir Landa Aceh

Mahasiswa Tuntut DPRA Bersuara dalam 3x24 Jam

Mereka menuntut ditetapkannya status bencana banjir dan tanah longsong di Sumatera, khususnya Aceh, menjadi bencana nasional.

Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE SERAMBI INDONESIA EDISI RABU 20251231 
Ringkasan Berita:
  • Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Aceh Bergerak, menggelar aksi demonstrasi di Gedung DPRA, Banda Aceh
  • Aksi demonstrasi ini ditujukan sebagai bentuk ekspresi menyuarakan keresahan para mahasiswa dan masyarakat selama ini, sekaligus meminta DPRA bersuara ke pusat
  • Pihaknya juga menilai, Pemerintah Pusat kerap menghambat bantuan asing dengan alasan berbagai mekanisme

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Aceh Bergerak, menggelar aksi demonstrasi di Gedung DPRA, Banda Aceh, Selasa (30/12/2025). Mereka menuntut ditetapkannya status bencana banjir dan tanah longsong di Sumatera, khususnya Aceh, menjadi bencana nasional. Para mahasiswa yang berasal dari sejumlah kampus di Aceh ini berkonvoi dari titik kumpul Stadion Haji Dimurthala Lampineung, menuju titik aksi di Gedung DPRA menggunakan satu unit mobil bak terbuka dan puluhan sepeda motor.

Koordinator Aksi, Ali Hasyimi dalam orasinya menyampaikan, penetapan status ini sangat penting bagi Aceh dan Sumatera, karena kondisi pemulihan diperkirakan akan memakan waktu cukup lama, bisa lebih dari lima tahun bila tidak ditetapkan sebagai bencana nasional. “Kita sudah melihat rakyat Aceh tidur di tenda tengah lumpur, kekurangan makanan, sampai kapan kita biarkan kawan-kawan. Untuk itu, kami menuntut tetapkan segera status bencana nasional,” ujar Ali. 

Dalam petisinya, para mahasiswa mendesak DPRA segera menyurati Pemerintah Pusat agar bencana Aceh ditetapkan statusnya menjadi bencana nasional. “Kami beri waktu 3x24 jam, kalau dalam tiga hari ini tidak ditindaklanjuti, kami akan kembali dan membawa massa yang lebih banyak lagi,” teriak Ali. Ali Hasyimi juga menambahkan bahwa sekitar dua bulan lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan. 

Bila pemulihan ini tidak segera dilaksanakan melalui penetapan bencana nasional, kondisi penanganan korban bencana ini akan sulit dan lambat ke depannya. “Segera surati Pusat, tetapkan sebagai bencana nasional,” tegasnya lagi. Pihaknya juga menilai, Pemerintah Pusat kerap menghambat bantuan asing dengan alasan berbagai mekanisme. 

Untuk itu, aksi demonstrasi ini ditujukan sebagai bentuk ekspresi menyuarakan keresahan para mahasiswa dan masyarakat selama ini, sekaligus meminta DPRA bersuara ke pusat. “Dan sekarang kawan- kawan juga bisa melihat sendiri, DPRA belum membuka suara terkait Bencana Nasional ini,” ucap Ali. 

Petisi itu kemudian ditandatangani Anggota DPRA yang menyambut para demonstran terdiri dari Iskandar Ali, Hasballah, dan Arif Fadillah. Dalam sambutannya, Anggota Komisi III, Hasballah menyampaikan, apa yang dirasakan para mahasiswa juga turut dirasakan para dewan di DPRA. 

Bahkan dikatakannya, dari sebanyak 81 anggota DPRA, hanya tiga yang berada di Banda Aceh, karena semuanya berangkat ke daerah membantu para korban bencana. “Untuk itu, Aceh harus ditetapkan statusnya menjadi bencana nasional, ini akan kami sampaikan,” ucap Hasballah. Aksi demonstrasi yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB ini berlangsung damai. Massa membubarkan diri sekitar pukul 17.14 WIB sore usai pembacaan doa yang dipimpin Kapolsek Kuta Alam, AKP Suriya.(rn)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved