Banjir Landa Aceh
Mahasiswa Tuntut DPRA Bersuara dalam 3x24 Jam
Mereka menuntut ditetapkannya status bencana banjir dan tanah longsong di Sumatera, khususnya Aceh, menjadi bencana nasional.
Ringkasan Berita:
- Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Aceh Bergerak, menggelar aksi demonstrasi di Gedung DPRA, Banda Aceh
- Aksi demonstrasi ini ditujukan sebagai bentuk ekspresi menyuarakan keresahan para mahasiswa dan masyarakat selama ini, sekaligus meminta DPRA bersuara ke pusat
- Pihaknya juga menilai, Pemerintah Pusat kerap menghambat bantuan asing dengan alasan berbagai mekanisme
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Aceh Bergerak, menggelar aksi demonstrasi di Gedung DPRA, Banda Aceh, Selasa (30/12/2025). Mereka menuntut ditetapkannya status bencana banjir dan tanah longsong di Sumatera, khususnya Aceh, menjadi bencana nasional. Para mahasiswa yang berasal dari sejumlah kampus di Aceh ini berkonvoi dari titik kumpul Stadion Haji Dimurthala Lampineung, menuju titik aksi di Gedung DPRA menggunakan satu unit mobil bak terbuka dan puluhan sepeda motor.
Koordinator Aksi, Ali Hasyimi dalam orasinya menyampaikan, penetapan status ini sangat penting bagi Aceh dan Sumatera, karena kondisi pemulihan diperkirakan akan memakan waktu cukup lama, bisa lebih dari lima tahun bila tidak ditetapkan sebagai bencana nasional. “Kita sudah melihat rakyat Aceh tidur di tenda tengah lumpur, kekurangan makanan, sampai kapan kita biarkan kawan-kawan. Untuk itu, kami menuntut tetapkan segera status bencana nasional,” ujar Ali.
Dalam petisinya, para mahasiswa mendesak DPRA segera menyurati Pemerintah Pusat agar bencana Aceh ditetapkan statusnya menjadi bencana nasional. “Kami beri waktu 3x24 jam, kalau dalam tiga hari ini tidak ditindaklanjuti, kami akan kembali dan membawa massa yang lebih banyak lagi,” teriak Ali. Ali Hasyimi juga menambahkan bahwa sekitar dua bulan lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan.
Bila pemulihan ini tidak segera dilaksanakan melalui penetapan bencana nasional, kondisi penanganan korban bencana ini akan sulit dan lambat ke depannya. “Segera surati Pusat, tetapkan sebagai bencana nasional,” tegasnya lagi. Pihaknya juga menilai, Pemerintah Pusat kerap menghambat bantuan asing dengan alasan berbagai mekanisme.
Untuk itu, aksi demonstrasi ini ditujukan sebagai bentuk ekspresi menyuarakan keresahan para mahasiswa dan masyarakat selama ini, sekaligus meminta DPRA bersuara ke pusat. “Dan sekarang kawan- kawan juga bisa melihat sendiri, DPRA belum membuka suara terkait Bencana Nasional ini,” ucap Ali.
Petisi itu kemudian ditandatangani Anggota DPRA yang menyambut para demonstran terdiri dari Iskandar Ali, Hasballah, dan Arif Fadillah. Dalam sambutannya, Anggota Komisi III, Hasballah menyampaikan, apa yang dirasakan para mahasiswa juga turut dirasakan para dewan di DPRA.
Bahkan dikatakannya, dari sebanyak 81 anggota DPRA, hanya tiga yang berada di Banda Aceh, karena semuanya berangkat ke daerah membantu para korban bencana. “Untuk itu, Aceh harus ditetapkan statusnya menjadi bencana nasional, ini akan kami sampaikan,” ucap Hasballah. Aksi demonstrasi yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB ini berlangsung damai. Massa membubarkan diri sekitar pukul 17.14 WIB sore usai pembacaan doa yang dipimpin Kapolsek Kuta Alam, AKP Suriya.(rn)
Banjir dan Longsor di Aceh
Banjir Landa Aceh
Demo Tuntut Bencana Nasional
Massa Tuntut Status Bencana Nasional
Tetapkan Bencana Nasional
Bantuan Luar Negeri
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Tegas, Napi yang tidak Kembali ke LP Kualasimpang Berpotensi Ditetapkan DPO |
|
|---|
| Baru 45 Narapidana yang Kembali ke Lapas Kualasimpang, Tenggat Penyerahan Diri Berakhir 17 Mei |
|
|---|
| Tinjau Aceh Tamiang, Safrizal ZA Kebut Realisasi Huntap Korban Bencana |
|
|---|
| Pemkab Nagan Sudah Usul Pembangunan Kembali 2 Sekolah Hancur Diterjang Banjir di Beutong Ateuh |
|
|---|
| Tim BNPB Data Lokasi Pembangunan Rumah Korban Banjir di Bireuen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mahasiswa-Tuntut-DPRA-Bersuara-dalam-3x24-Jam.jpg)