Selasa, 9 Juni 2026

Ramadhan 2026

Begini Kesimpulan Penetapan Awal Ramadhan 1447 H Hasil Kajian Ahli Falak Aceh

Kedua, tinggi hilal di atas ufuk barat pada hari Selasa tanggal 17 Februari 2026 M atau 29 Syakban 1447 H saat matahari terbenam

Tayang:
Penulis: Saiful Bahri | Editor: Nur Nihayati
IST
Tgk Ismail SSy MA 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Saiful Bahri I Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Dalam kajian ilmu falak, untuk mengetahui awal bulan Hijriah sangat tergantung pada kondisi hilal secara astronomis. 

Ada tiga data yang perlu diketahui secara astronomis, yaitu konjungsi, tinggi hilal, dan sudut elongasi bulan. 

Ahli falak Aceh, yang juga Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Dr Tgk Ismail S.Sy M.A,  Sabtu (10/1/2025) menjelaskan, data hilal di Indonesia untuk penentuan awal Ramadhan 1447 H saat matahari terbenam pada Selasa 17 Februari 2026 atau 29 Syakban 1447 H, yakni :

Pertama, konjungsi geosentrik atau ijtma’ yaitu peristiwa ketika nilai bujur ekliptika bulan sama dengan nilai ekliptika matahari dengan diandaikan pengamat berada di pusat bumi. 

Peristiwa ini kembali terjadi pada Selasa 17 Februari 2026 pukul 19.01.07 Wib. 

Baca juga: Gerhana Bulan Total akan Terjadi Pada 14 Ramadhan 1447 H, Ini Hasil Kajian Ahli Falak Aceh

Kedua, tinggi hilal di atas ufuk barat pada hari Selasa tanggal 17 Februari 2026 M atau 29 Syakban 1447 H saat matahari terbenam di seluruh Indonesia berkisar antara -01 derajat 01 menit 14 detik busur (tertinggi) di Tua Pejat, Sumatera Barat, sampai dengan -02 derajat 13 menit 43 detik busur (terendah) di Jayapura.

Ketiga, sudut elongasi bulan adalah jarak sudut antara pusat piringan bulan dengan pusat piringan matahari yang terbentuk saat matahari terbenam di tempat pengamatan. 

Nilai sudut elogasi Bulan saat Matahari terbenam pada hari Selasa 17 Februari 2026 atau 29 Syakban 1447 H di seluruh Indonesia berkisar antara 01 derajat 53 menit 24 detik busur (paling besar) di Jayapura, sampai 00 derajat 56 menit 19 detik busur (paling kecil) di Lhoknga, Aceh.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kondisi hilal di seluruh Indonesia belum wujud di atas ufuk Indonesia saat matahari terbenam Selasa 17 Februari 2026 atau 29 Syakban 1447 H dan belum terpenuhi kriteria awal bulan Hijriah yang dipakai oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. 

Atas dasar tersebut dapat dipastikan bahwa awal bulan Ramadhan 1447 H secara perhitungan ilmu falak jatuh pada hari Kamis,19 Februari 2026 dengan menggenapkan jumlah bilangan bulan Syakban 1447 H berjumlah 30 hari. 

Untuk diketahui, Forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada tahun 2021 resmi menetapkan kriteria baru dalam penentuan awal bulan Hijriah yang berfungsi sebagai pedoman penyusunan kalender Hijriah serta untuk verifikasi kesaksian dalam rukyah hilal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah. 

Mengacu pada kriteria tersebut, pergantian bulan dianggap sah dan hilal dinyatakan dapat dilihat apabila saat matahari terbenam pascakonjungsi, posisi bulan telah mencapai ketinggian minimal 3 derajat di atas ufuk barat serta memiliki besaran sudut elongasi bulan minimal 6,4 derajat.(*)

Baca juga: Ramadhan Semakin Dekat, Wagub Aceh Fadhlullah Minta Renovasi Rumah Ibadah Pascabanjir Dipercepat

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved