Jumat, 12 Juni 2026

Berita Aceh Singkil

Pemkab Singkil Diminta Dukung Pengembangan Ekowisata Burung Migran Berbasis Sains di Rawa Singkil

Salah satu fokus utama kolaborasi ini adalah pengembangan ekowisata burung migran berbasis sains (science-based ecotourism) di Rawa Singkil

Tayang:
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Tim akademik dan kader lapangan Konservasi Alam Aceh Singkil (KOAS) tengah melaksanakan serangkaian kegiatan teknis penelitian jalur migrasi burung di jalan lintas Singkil-Kayu Menang, Senin (12/1/2026). 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Dede Rosadi I Aceh Singkil 

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Pusat Riset Konservasi Gajah dan Biodiversitas Hutan Universitas Syiah Kuala (PKGB USK) dan Konservasi Alam Aceh Singkil (KOAS) melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama. 

Salah satu fokus utama kolaborasi ini adalah pengembangan ekowisata burung migran berbasis sains (science-based ecotourism) di Rawa Singkil. 

Langkah itu dilakukan lantaran Rawa Singkil, di Kabupaten Aceh Singkil, merupakan bagian dari jalur migrasi burung Asia-Australasia atau East Asian–Australasian Flyway. 

East Asian–Australasian Flyway merupakan salah satu jalur migrasi burung yang menghubungkan wilayah Siberia, Asia Timur, Asia Tenggara, hingga Australia.

Ribuan burung air dan burung rawa bergantung pada kawasan Rawa Singkil, sebagai habitat singgah, makan, dan berkembang biak.

"Penandatanganan perjanjian kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam penguatan pendekatan ilmiah terhadap pengelolaan keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Rawa Singkil," kata Founder KOAS Dio Fahmizan, ST, Senin (12/1/2026).

Menurutnya kerja sama tersebut untuk mengembangkan integrasi antara penelitian biodiversitas, pendidikan konservasi, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai fondasi bagi pengelolaan ekosistem yang berorientasi pada keberlanjutan ekologis dan kesejahteraan sosial.

Agar ekowisata burung migran dapat berkembang secara optimal ia meminta dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil.

Terutama dalam aspek pengakuan kawasan sebagai zona ekowisata konservasi.

Lalu integrasi hasil riset ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan kebijakan daerah serta pengembangan infrastruktur ringan yang ramah ekosistem.

Baca juga: Rawa Singkil Rute Migrasi Burung Asia- Australasia, USK dan KOAS Lakukan Penelitian

Dengan landasan riset dari USK dan keterlibatan aktif masyarakat lokal, Rawa Singkil diproyeksikan tidak hanya sebagai kawasan konservasi.

Tetapi sebagai laboratorium alam terbuka dan destinasi ekowisata ilmiah (scientific ecotourism) yang bernilai nasional dan internasional.

“Ini adalah upaya menggeser paradigma dari eksploitasi lahan menuju ekonomi pengetahuan dan jasa ekosistem,” tukas Dio.

Founder KOAS Dio Fahmizan, ST, menegaskan bahwa selama ini nilai strategis rawa Singkil dalam jaringan migrasi global belum diintegrasikan secara sistematis ke dalam perencanaan pembangunan daerah.

“Melalui kemitraan dengan PKGB USK, kami sedang membangun basis data ekologis dan spasial yang kuat agar ekowisata burung tidak dibangun atas asumsi, tetapi atas bukti ilmiah tentang pola migrasi, habitat kunci, dan daya dukung lingkungan,” kata Dio.

Menurut Dio, KOAS yang diketuai Muhammad Husein bersama tim akademik dan kader lapangan tengah melaksanakan serangkaian kegiatan teknis. 

Antara lain pelatihan identifikasi dan pemantauan burung migran (avian monitoring), pemetaan habitat dan titik pengamatan menggunakan teknologi GPS dan SIG.

Baca juga: Tujuh Bulan Kabur dari Rutan Singkil, Ini Kronologi Penangkapan DPO Terdakwa Pencurian

Kemudian penguatan kapasitas masyarakat sebagai pemandu ekowisata berbasis konservasi.

"Pendekatan ini mengikuti praktik internasional yang telah diterapkan di kawasan seperti Mai Po Wetlands, Hong Kong, di mana ekowisata burung dikelola sebagai instrumen konservasi, penelitian, dan ekonomi lokal secara simultan," ujarnya.

Prinsip ilmu pengetahuan dan tata kelola lingkungan

Sementara itu Kepala PKGB USK, Prof Dr Abdullah, SPd, MSi, dalam keterangan tertulis yang dikirim Dio kepada Serambinews.com mengatakan universitas memegang peran strategis dalam memastikan model pembangunan di kawasan sensitif ekologis seperti Rawa Singkil berjalan sesuai prinsip ilmu pengetahuan dan tata kelola lingkungan.

"Dengan MoU ini memungkinkan riset universitas berinteraksi langsung dengan realitas lapangan," ujarnya. 

Sehingga data yang dihasilkan tidak hanya untuk publikasi akademik, tetapi untuk memperkuat kebijakan daerah dan praktik pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.(*)

Baca juga: Tips Berpetualang ke Rawa Singkil, Habitat Orangutan Terpadat di Dunia

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved