Sabtu, 11 April 2026

Berita Aceh Timur

Huntara di Aceh Timur Terbengkalai, Pekerja Kabur Karena tak Dibayar

Huntara sampai hari ini belum siap karena kontraktornya melarikan diri, informasi yang kami terima, para pekerja belum dibayar oleh pihak BNPB

Editor: mufti
Serambinews.com/HO/Dok. Plt Camat
Ilustrasi huntara 
Ringkasan Berita:
  • Huntara sampai hari ini belum siap karena kontraktornya melarikan diri, informasi yang kami terima, para pekerja belum dibayar oleh pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
  • Lebih miris lagi, tak hanya meninggalkan pekerjaan yang terbengkalai, para pekerja huntara itu juga meninggalkan beban utang di kedai-kedai milik warga setempat
  • Meskipun banyak pihak luar yang datang untuk melakukan pendataan dan peninjauan, realisasi bantuan fisik berupa tempat tinggal yang layak masih nihil

“Huntara sampai hari ini belum siap karena kontraktornya melarikan diri, informasi yang kami terima, para pekerja belum dibayar oleh pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sehingga mereka memilih meninggalkan pembangunan Huntara begitu saja.” AMRAN, Kepala Dusun Peulalu

SERAMBINEWS.COM, IDI - Suasana empat bulan pasca banjir di Dusun Peulalu, Gampong Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari masih memprihatinkan, pasca bencana banjir, korban masih menempati tenda BNPB akibat hunian sementara (huntara) terbengkalai ditinggal pekerja.

Kepala Dusun Peulalu, Amran, pada Selasa (17/3/2026), mengungkapkan bahwa mandeknya pembangunan ini diduga kuat karena masalah pengupahan.

"Huntara sampai hari ini belum siap karena kontraktornya melarikan diri, informasi yang kami terima, para pekerja belum dibayar oleh pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sehingga mereka memilih meninggalkan pembangunan Huntara begitu saja," ujar Amran, pada Selasa (17/3/2026).

Lebih miris lagi, tak hanya meninggalkan pekerjaan yang terbengkalai, para pekerja huntara itu juga meninggalkan beban utang di kedai-kedai milik warga setempat sebelum akhirnya menghilang. Kondisi di lapangan ini menunjukkan betapa memprihatinkan keseharian warga.

Intan Putriyani, salah satu warga terdampak mengaku para pekerja yang berasal dari Sumatera Utara itu banyak meninggalkan utang di warungnya, mereka pulang kampung dan tidak kembali lagi usai tidak dibayar oleh kontraktor.

"Utangnya juga banyak, utang rokok, minuman, pas diminta katanya belum ada uang karena belum dibayar sama toke," tuturnya.

Ia juga mengaku harus mengumpulkan sisa-sisa kayu bekas banjir untuk membangun barak darurat agar keluarganya bisa berteduh. "Sudah dua bulan saya tinggal di gubuk ini. Kami buat sendiri dari kayu bekas karena Huntara yang dijanjikan tak kunjung siap," keluh Intan.

Hal senada disampaikan oleh Murtini, warga lainnya yang mulai mengkhawatirkan kesehatan dan masa depan anak-anak di pengungsian.

"Kami sudah berbulan-bulan tidur di tenda. Kami mohon pemerintah tolong pikirkan nasib kami, terutama anak-anak. Jangan hanya datang mendata, tapi tidak ada kepastian kapan ini selesai," tegasnya.

Masyarakat Blang Seunong menilai Pemerintah Daerah juga abai terhadap mereka. Mereka mengaku belum pernah dikunjungi oleh pejabat pemerintah daerah. Meskipun banyak pihak luar yang datang untuk melakukan pendataan dan peninjauan, realisasi bantuan fisik berupa tempat tinggal yang layak masih nihil.(al)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved