Pemulihan Aceh
Langkah Kecil di Sungai Deras, Jeritan Sunyi Warga Pining Pascabencana
Derita masyarakat Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, pascabencana banjir bandang kian menyayat hati.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Edi Laber I Gayo Lues
SERAMBINEWS.COM, BLANGKEJEREN – Derita masyarakat Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, pascabencana banjir bandang kian menyayat hati.
Hingga kini, jembatan penghubung di Pintu Rime yang hancur diterjang arus deras belum juga diperbaiki, memaksa anak-anak sekolah mempertaruhkan nyawa demi menuntut ilmu.
Setiap pagi, anak-anak berseragam harus menyeberangi sungai berarus deras dan keruh tanpa jembatan dan tanpa perlindungan. Di balik air yang tampak tenang, tersembunyi ancaman batu licin dan arus yang sewaktu-waktu bisa menyeret tubuh kecil mereka.
Kondisi ini menjadi potret pilu ketidakberdayaan masyarakat di wilayah pedalaman yang hingga kini masih menunggu uluran tangan pemerintah. Bencana yang telah berlalu berbulan-bulan seakan hanya menyisakan janji tanpa kepastian.
Baca juga: Remaja di Medan Ngaku Alami Kekerasan Saat Penangkapan hingga Kaki Ditembak, Polisi Membantah
Jamalul Hakim, warga Desa Pining, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas lambannya penanganan. Ia menilai kondisi tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap keselamatan warga, khususnya anak-anak.
“Kami tidak minta yang muluk-muluk. Kami hanya ingin jembatan agar anak-anak kami tidak harus bertaruh nyawa setiap hari. Janji sudah sering kami dengar, tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ujarnya kepada Serambinews.com, Selasa (31/03/2026).
Warga juga menyoroti belum adanya langkah nyata dari pihak terkait, termasuk instansi penanggulangan bencana. Kehadiran yang diharapkan mampu memberi solusi dinilai belum menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.
Tak hanya itu, sikap pihak perusahaan yang disebut-sebut terlibat dalam pembangunan juga dinilai belum menunjukkan tanggung jawab yang jelas. Hingga kini, belum terlihat progres maupun penjelasan terkait kelanjutan pembangunan jembatan tersebut.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: sampai kapan mereka harus bertahan dalam situasi penuh risiko ini? Di saat daerah lain mulai bangkit pascabencana, warga Pining masih berjibaku dengan keterbatasan yang mengancam keselamatan setiap hari.
Lebih dari sekadar infrastruktur yang rusak, situasi ini telah menyentuh sisi kemanusiaan. Anak-anak yang seharusnya belajar dengan aman kini dihadapkan pada pilihan sulit antara pendidikan dan keselamatan.
Masyarakat Pining tidak menuntut lebih. Mereka hanya berharap negara benar-benar hadir, bukan sekadar dalam janji, tetapi melalui tindakan nyata yang mampu mengakhiri penderitaan berkepanjangan ini.(*)
| Sudah 5 Bulan Terisolir, Warga Alue Wakie Nagan Raya Desak Pembangunan Jembatan Rangka Baja |
|
|---|
| Dijenguk Relawan Psikososial, Anak Penyintas Banjir di Aceh Tamiang Menangis Haru |
|
|---|
| Civil Insight USK Gaungkan Infrastruktur Tangguh, Aceh Bangkit Lebih Kuat Pascabencana |
|
|---|
| Rakit Masih Menjadi Alat Penyeberangan Korban Banjir Bandang di Sawang Aceh Utara |
|
|---|
| Bupati Gayo Lues Sambangi Kementerian PUPR Perjuangkan Pemulihan Infrastruktur Pascabencana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sungai-okl.jpg)