Feature
Rita Novita, Raih Profesor di Usia Muda
Prof Dr Rita Novita MPd, Guru Besar UBBG yang baru saja dikukuhkan awal pekan ini, sekaligus menjadi salah satu profesor termuda di Aceh
Meraih jabatan tertinggi dalam akademik di usia kepala tiga, bukanlah sebuah kemustahilan. Itulah yang baru saja diraih oleh sosok perempuan bernama lengkap Prof Dr Rita Novita MPd, Guru Besar Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) yang baru saja dikukuhkan awal pekan ini, sekaligus menjadi salah satu profesor termuda di Aceh saat usianya baru menginjakkan 38 tahun.
“Syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan perkenaan-Nya sehingga saya dapat berdiri di sini, dalam forum yang agung dan penuh kehormatan, prosesi pengukuhan yang khidmat ini,” ujar Prof Rita saat dikukuhkan sebagai profesor di Plenary Hall UBBG, Banda Aceh, Senin (4/5/2026).
Putri dari pasangan almarhum H. M Jamin SPd dan Dra Darwati kelahiran Aceh Utara, November 1987 itu dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Bidang Ilmu Pendidikan Matematika (Pembelajaran Bilangan dan Aljabar).
Saat ini, ia menduduki jabatan sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Inovasi UBBG. Sebelum menjadi dosen tetap pada Prodi Pendidikan Matematika Universitas Bina Bangsa Getsempena sejak 2012, Rita pernah menjadi guru di MIN 6 Model Banda Aceh pada 2009 lalu, dan guru SMA Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) pada 2008 silam.
Prof Rita menyelesaikan S1 Pendidikan Matematika di Universitas Syiah Kuala (2005-2009), kemudian S2 di Universitas Sriwijaya (2010-2012) dan S3 bidang yang sama di Universitas Pendidikan Indonesia (2019-2023) yang seluruhnya mendapat predikat cum laude.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan seperti “Desain Didaktis Pembelajaran Pecahan Berdasarkan Teori Situasi Didaktis untuk Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar” dengan jabatan ketua dan pendanaan bersumber dari LPDP tahun 2020.
Ia juga pernah meneliti bersama tim dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Rich Task untuk Meningkatkan Kemampuan Mengajar Matematika Guru Sekolah Menengah Pertama” dengan pendanaan bersumber dari DP2M Dikti (penelitian hibah bersaing) tahun 2016-2017.
Dalam pidato pengukuhannya, Guru Besar UBBG itu menjelaskan, sejumlah kajian dalam bidang pendidikan matematika menunjukkan rendahnya pemahaman konsep matematis siswa lebih banyak dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang berorientasi prosedural dibandingkan konseptual.
“Pembelajaran cenderung menempatkan matematika sebagai sekumpulan aturan dan
algoritma yang harus dihafal, bukan sebagai sistem pengetahuan yang harus dipahami dan dikonstruksi secara aktif oleh peserta didik,” ungkap Prof Rita.
Fenomena ini selaras dengan kerangka teoritik konstruktivisme yang dikemukakan oleh Jean Piaget, yang menegaskan pengetahuan dibangun melalui proses asimilasi dan akomodasi secara aktif oleh individu. Demikian pula, perspektif sosiokultural dari Lev Vygotsky menekankan, pembelajaran yang bermakna terjadi melalui interaksi sosial dan mediasi yang tepat dalam zone of proximal development.
Namun demikian, dalam praktik pembelajaran di kelas, khususnya pada materi konsep bilangan, terutama bilangan rasional, pendekatan yang digunakan masih didominasi oleh pola pengajaran yang bersifat mekanistik, algoritmik, dan minimal refleksi.
“Guru lebih berfokus pada penyelesaian prosedur dibandingkan eksplorasi makna, serta kurang memberi ruang bagi siswa untuk mengonstruksi pemahaman melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan dialogis,” ucap Prof Rita.
Dampak dari praktik tersebut sangat signifikan, yakni munculnya kesenjangan antara kemampuan prosedural dan pemahaman konseptual. Peserta didik mungkin mampu melakukan operasi hitung secara benar, tetapi tidak memahami makna di balik prosedur tersebut.
Kemudian peserta didik mampu menghasilkan jawaban yang tepat, tetapi tidak mampu menjelaskan proses berpikirnya. Serta mampu menghafal algoritma, tetapi gagal membangun keterkaitan konseptual antar representasi matematika.
“Kondisi ini menunjukkan, pembelajaran matematika belum sepenuhnya berfungsi sebagai sarana pengembangan mathematical thinking, melainkan masih terjebak pada praktik reproduksi prosedur semata,” jelas Prof Rita.
Konsep bilangan merupakan fondasi utama dalam struktur matematika. Ia tidak sekadar berfungsi sebagai objek komputasi, melainkan sebagai basis bagi berkembangnya berbagai bentuk penalaran matematis, mulai dari aritmatika, aljabar, hingga berpikir proporsional.
Dalam perspektif pendidikan matematika, kualitas pemahaman terhadap konsep bilangan menjadi determinan utama bagi keberhasilan belajar matematika secara keseluruhan. Namun demikian, di balik posisinya yang fundamental, konsep bilangan, khususnya bilangan rasional, justru merupakan salah satu domain yang paling kompleks secara kognitif dan paling problematik dalam pembelajaran.
Pengukuhan Prof Sariakin
Pada kesempatan yang sama, Prof Dr Sariakin SPd MPd juga dikukuhkan menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan. Pria kelahiran Langkat, Oktober 1968, itu merupakan lulus S1 FKIP Bahasa Inggris Universitas Serambi Mekkah tahun 1996, kemudian melanjutkan S2 Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Malang 2006 dan S3 bidang yang sama di Universitas Negeri Medan tahun 2019.
“Merupakan suatu kehormatan, dan rasa syukur yang mendalam bagi saya untuk menyampaikan pidato pengukuhan sebagai guru besar,” ujar Prof Sariakin. Sejumlah penelitian pernah dilakukan bersama tim seperti “Model Pengembangan Program Bahasa Inggris Indoor and Outdoor dalam Meningkatkan Prestasi Sekolah dan Siswa Secara Menyeluruh” dengan sumber pendanaan berasal dari Dikti tahun 2012.
Dia juga pernah menerbitkan produk bahan ajar dalam bentuk cetak berupa Vocabulary Development untuk Prodi S1 tahun akademik 2023/2024. Kemudian menulis enam buku, salah satunya berjudul Master Your English: Teaching Materials for Non-English Department Students.
Prof Sariakin juga pernah menerima penghargaan Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun dari Presiden RI pada 2018. Sejumlah pengabdian kepada masyarakat pernah dilakukan, mulai dari Pelatihan Dan Pendampingan Optimalisasi Kinerja Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMPN 2 Peukan Bada Aceh Besar, hingga terbaru yakni Penguatan Kapasitas Administratif Sekolah dalam Mengelola Program Ekstrakurikuler di SD Negeri 61 Kota Banda Aceh pada tahun 2025 lalu.
Dalam pidato pengukuhannya, Guru Besar UBBG itu menjelaskan, momentum ini bukan sekadar bentuk pertanggungjawaban akademik atas amanah keilmuan yang diemban sebagai pemangku jabatan guru besar, melainkan juga merupakan wujud pengabdian spiritual kepada Allah SWT untuk senantiasa menuntut, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan bangsa, negara, serta masyarakat luas. “Saya meyakini ilmu yang diperoleh bukan hanya menjadi kehormatan pribadi, tetapi juga amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” ucap Prof Sariakin.(rn)
Rita Novita
Prof Dr Rita Novita MPd
Rita Novita Raih Profesor di Usia Muda
feature
features
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Fenomena Langka, Gumpalan Awan Turun ke Permukaan Tanah di Pidie |
|
|---|
| Persekat vs Persiraja Berakhir 1-1, Lantak Lanju Raih Poin di Tegal |
|
|---|
| Persekat Tegal vs Persiraja, Laga Tanpa Penentu, Gengsi Tetap Dijaga |
|
|---|
| Praja IPDN Nikmati Makan Siang Bersama Mendagri Tito dan Menko PMK Pratikno |
|
|---|
| Hilda Rahmazani, Raih 2 Juara Lomba Cerita Anak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Rita-Novita-MPd-guru-besar-kedua-di-lingkungan-UBBG-Banda-Aceh.jpg)