Citizen Reporter
Di Bawah Langit Sanliurfa: Ketika Api Menjadi Dingin dan Iman Menjadi Nyata
Cuaca dingin mulai terasa. Saya mengambil jaket yang sudah disiapkan di dalam koper. Suhu di luar diperkirakan sekitar 10 derajat Celsius.
Oleh: Dr. Siti Rahmah, S.H., M.Kn., CPM, CPArb *)
Melaporkan dari Turkiye
“ASSALAMUALAIKUM Sister, you and your husband to visit Turkiye. When is good time for you? End March? Beginning April? I will talk with Doctor Abizal according to you.”
demikian pesan WhatsApp dari Pak Melih kepada saya pada Januari lalu.
Beliau adalah Ketua Serhendi Vakfi untuk Indonesia sekaligus klien saya. Kami berada dalam satu tim dalam kegiatan wakaf di Aceh. Serhendi Vakfi berpusat di Adıyaman, Turkiye. Di sana terdapat seorang syeikh yang dijadikan panutan, yaitu Sheikh Syed Muhammad Saqi Al-Husseini, yang merupakan mursyid (pembimbing) dalam perkumpulan ini.
Serhendi Vakfi memiliki banyak perwakilan di berbagai negara di dunia, salah satunya Indonesia. Jika di Indonesia, Serhendi Vakfi dapat disamakan dengan sebuah organisasi. Di Indonesia, Serhendi hadir di Aceh dan Medan. Kegiatan mereka di Aceh dan Medan meliputi bidang pendidikan, zikir, ceramah, serta kegiatan sosial.
“Beberapa anak Aceh dikirimkan ke pesantren di Malaysia untuk belajar ilmu agama. Setelah dua tahun di sana, mereka akan melanjutkan studi ke Turkiye,” ujar Ustadz Abizal.
“Mereka sekolah gratis di sana,” tambahnya.
Kegiatan Serhendi Vakfi antara lain di bidang pendidikan. Mereka memiliki sekolah yang mirip pesantren untuk mendidik anak-anak muda menjadi ulama, yang mereka sebut sebagai madrasah. Terdapat sekitar 20 madrasah di Turkiye dan di luar Turkiye, dengan jumlah santri sebanyak 1.149 orang, salah satunya berada di Malaysia.
Selain itu, mereka memiliki kantor cabang di berbagai negara di dunia, sekitar 500 kantor cabang, yang mereka sebut dengan dergah. Tak hanya itu, Serhendi Vakfi juga memiliki 10 sekolah tahfiz Al-Qur’an, mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah ke atas, dan semuanya gratis.
Di bidang sosial, mereka aktif membantu korban bencana alam, menyalurkan paket Ramadan untuk fakir miskin, tidak hanya di Turkiye tetapi juga ke negara-negara lain yang membutuhkan.
Mereka juga mengirimkan hewan qurban ke negara-negara yang sedang dilanda perang atau konflik, seperti Palestina, Rohingya, Bangladesh, dan lainnya. Selain itu, mereka mengelola dana zakat dan sedekah.
Baca juga: Sanliurfa, Kota Para Nabi di Turkiye
Keseluruhan terdapat lima orang kafilah dari Aceh yang berangkat ke Turkiye, yaitu saya dan suami, Dr. Abizal, Ihsan, dan Halid. Kami berangkat pada sore hari tanggal 26 Maret 2026 dari Aceh menuju Turkiye, dengan transit di Kuala Lumpur. Di sana kami dijemput oleh tim dari perwakilan Serhendi Vakfi.
Kami menginap di sekretariat mereka dan melanjutkan penerbangan pagi menuju Turkiye pukul 09.30 waktu Kuala Lumpur. Kami diperkirakan tiba di Istanbul Sabiha Gökçen International Airport pukul 16.05 waktu Istanbul.
“Kita 11 jam di pesawat, Kak,” ucap Ustadz Abizal.
“Lama juga ya, Ustadz,” jawabku.
Ini bukan perjalanan jauh pertama ke luar negeri. Seperti biasa, jika tidak bisa tidur, saya akan menulis di pesawat.
Pukul 16.05 kami tiba di Turkiye. Kami disambut oleh tim Serhendi, dan setiap kafilah diberikan mawar merah sebagai lambang cinta.
“So we wanted to welcome like sahabat,” ujar Atil Yalcin.
Cuaca dingin mulai terasa. Saya mengambil jaket yang sudah disiapkan di dalam koper. Suhu di luar diperkirakan sekitar 10 derajat Celsius.
Seluruh kafilah dan tim Serhendi kemudian menuju Masjid Eyüp Sultan. Eyüp Sultan adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Kami tiba di sana menjelang waktu magrib. Kami melaksanakan salat magrib dan setelah itu berziarah ke makam Eyüp Sultan yang berada satu kompleks dengan masjid.
Lokasi Masjid Eyüp Sultan sangat strategis. Di sekitarnya terdapat hotel, kafe, toko suvenir, penjual makanan, apotek, toko pakaian, kurma, manisan, buah-buahan, air mancur, serta tempat duduk yang disediakan di sepanjang jalan.
Hotel kami tidak jauh dari masjid. Setiap masuk waktu salat, jika kami berada di hotel, kami selalu berusaha menunaikan salat di Masjid Eyüp Sultan. Setelah shalat, kami berziarah. Setiap kali saya ke masjid, selalu ada orang yang berdiri di pintu masuk membagikan manisan atau permen sebagai sedekah.
Ada banyak kucing di sini. Kucing-kucingnya sehat dan bersih, namun saya tidak menemukan kotorannya. Semuanya bersih di sini, terutama toilet di masjid dan restoran yang benar-benar terjaga kebersihannya. Hal ini mencerminkan kemurnian iman, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, yang benar-benar dipraktikkan di sini.
Pada hari Sabtu, 29 Maret, kami bersiap pukul 04.30 waktu Turkiye untuk menuju Istanbul Airport, bandara terbesar di Eropa. Kami berangkat menuju Şanlıurfa. Pesawat lepas landas pukul 08.30 waktu Turkiye dan tiba di Şanlıurfa pukul 09.30.
Kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Museum Şanlıurfa. Di dalamnya terdapat banyak lorong waktu yang dapat kita saksikan, mulai dari zaman Paleolitikum, Neolitikum, Kalkolitikum, Zaman Perunggu, hingga periode Islam.
Kami juga melihat mosaik, artefak, etnografi, patung Urfa, Zeytinlibahçe, peta, serta replika Göbekli Tepe yang tertata rapi.
Göbekli Tepe dianggap sebagai titik nol sejarah, tentang asal-usul peradaban, agama, dan transisi kehidupan menetap. Göbekli Tepe merupakan bangunan kuil tertua di dunia, didirikan lebih dari 11.000 tahun yang lalu.
Dari Museum Şanlıurfa, kami menuju Haleplibahçe dan Mosaic Museum, yang lokasinya berdekatan. Museum ini membuat saya merenung tentang bagaimana agama telah membentuk fondasi kehidupan sosial manusia.
Ribuan tahun sebelum peradaban modern lahir, manusia telah bersujud mencari Penciptanya. Nyata bahwa agama telah membawa peradaban di muka bumi.
Setelah itu, kami menuju Balıklıgöl, tempat Nabi Ibrahim AS dijatuhkan ke dalam api oleh Raja Namrud. Kisah Nabi Ibrahim tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim” (QS. Al-Anbiya: 69).
Di tepi kolam, kami tidak hanya melihat air jernih berisi ikan mas hitam yang dianggap suci, tetapi juga merasakan kesakralan ruang di mana api berubah menjadi air dan kayu bakar berubah menjadi ikan.
Mukjizat itu benar-benar terjadi atas kuasa Allah SWT. Kami juga melaksanakan salat di Masjid Halilurrahman (dibangun tahun 1211 M) serta mengunjungi gua tempat kelahiran Nabi Ibrahim AS.
Perjalanan ini adalah sebuah rihlah, menyusuri lorong-lorong kenabian dan menyaksikan bagaimana perjuangan para kekasih Allah ribuan tahun lalu, dengan taruhan nyawa dan penuh keikhlasan. Ia mengajarkan satu hal, iman tidak pernah letih. Iman terus mengalir dari satu generasi ke generasi lain, dari satu negeri ke negeri lainnya.
Şanlıurfa menghadirkan kesadaran bahwa ia bukan sekadar kota. Ia adalah musyahadah. Langit dan bumi terasa sangat dekat, doa-doa pun terasa lebih syahdu. Perjalanan sejati bukanlah tentang seberapa jauh kaki melangkah, melainkan seberapa dalam hati tersentuh.
Semoga kita semua dimampukan untuk terus menuliskan iman menjadi nyata, tidak hanya dalam cerita, tetapi juga dalam setiap denyut kehidupan.
*) PENULIS adalah Founder Akademi Warung Penulis dan saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Abulyatama.
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Iman Menjadi Nyata
Di Bawah Langit Sanliurfa
Sanliurfa
Serambinews
Serambinews.com
| Aceh Darussalam Aman: Dompet Hilang, Dikembalikan Utuh |
|
|---|
| Akademisi UIN Ar-Raniry Soroti Pentingnya Etika dan Kompetensi dalam Komunikasi Islam |
|
|---|
| Dari Sopir Truk Menjadi Pengusaha: Raja Khatami Berbagi Waktu untuk Bisnis Sambil Kuliah di UNIKI |
|
|---|
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/siti-rahmah-9iko.jpg)