Senin, 25 Mei 2026

Berita Aceh Tengah

Warga Reje Payung ‘Terisolir’ Jembatan Apung Hanyut Terbawa Banjir

Warga Kampung Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, alami kesulitan akibat terputusnya akses utama

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com
ILUSTRASI -- Jembatan apung 
Ringkasan Berita:
  • Warga Kampung Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, alami kesulitan akibat terputusnya akses utama
  • Sudah berkali-kali kami melakukan perbaikan secara bergotong royong, namun usaha kami terus terkendala karena kekurangan bahan dan alat
  • keberadaan jembatan apung tersebut merupakan urat nadi satu-satunya bagi mobilitas masyarakat untuk keluar masuk desa, baik untuk keperluan logistik maupun aktivitas sosial lainnya

“Jembatan ini sangat penting bagi warga. Anak-anak sekolah juga melintasi jalur ini setiap hari.” MULIA RIZKI, Panitia Penanganan Bencana Kampung Reje Payung

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON - Warga Kampung Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, alami kesulitan akibat terputusnya akses utama dan satu-satunya menuju wilayah mereka. 

Infrastruktur berupa jembatan apung yang sebelumnya dibangun secara swadaya dilaporkan hanyut diterjang luapan air sungai, beberapa waktu lalu.

Akibatnya, masyarakat setempat kini tidak lagi memiliki fasilitas jembatan untuk keluar masuk desa. Kondisi itu juga membuat para pelajar di sana mengalami kesulitan besar untuk menjangkau fasilitas pendidikan harian mereka. 

“Sudah berkali-kali kami melakukan perbaikan secara bergotong royong, namun usaha kami terus terkendala karena kekurangan bahan dan alat,” ucap Panitia Penanganan Bencana Kampung Reje Payung, Mulia Rizki, Sabtu (23/5/2026). 

Dikatakan, keberadaan jembatan apung tersebut merupakan urat nadi satu-satunya bagi mobilitas masyarakat untuk keluar masuk desa, baik untuk keperluan logistik maupun aktivitas sosial lainnya. Terlebih lagi, akses penyeberangan sungai itu juga menjadi jalur penting bagi para pelajar dari lima desa di wilayah Kecamatan Linge yang setiap hari harus menuju ke sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA yang kebetulan berlokasi di dalam Kampung Reje Payung. “Jembatan ini sangat penting bagi warga. Anak-anak sekolah juga melintasi jalur ini setiap hari,” tambahnya.

Mulia memaparkan, untuk bisa membangun kembali struktur jembatan darurat yang layak dan aman, pihak panitia desa saat ini sangat membutuhkan pasokan sejumlah material konstruksi pokok. Beberapa bahan yang mendesak diperlukan di antaranya adalah drum plastik warna biru sebanyak 300 buah, kawat licin sebanyak 3 gulung, besi behel pengikat drum, serta beberapa keping papan kayu tebal untuk lantai pijakan jembatan beserta balok broti penopang.

Akibat terbentur keterbatasan biaya kas desa, saat ini perwakilan masyarakat Kampung Reje Payung berinisiatif membuka pintu donasi terbuka dan sangat berharap adanya uluran tangan kasih dari para dermawan di luar daerah demi mempercepat proses pembangunan kembali. 

Berdasarkan hasil kalkulasi kasar dari kepanitiaan warga, proses pembangunan kembali jembatan apung darurat ini diperkirakan bakal menelan biaya total mencapai kisaran Rp 22.160.000. “Besar harapan kami, saudara-saudara di mana pun berada, agar dapat membantu kami memperbaiki kembali jembatan apung ini. Bantuan yang diberikan sangat berarti bagi masyarakat di sini, bukan hanya untuk jembatan tetapi juga untuk memulihkan perekonomian warga,” harapnya.(kompas.com)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved