Banda Aceh

Wali Nanggroe Aceh Serukan Penguatan Pendidikan Berbasis Keluarga dan Harmoni Budaya

Dia juga mengingatkan bahwa tidak ada teknologi atau fasilitas yang dapat menggantikan cinta dan kehangatan orang tua...

Editor: Eddy Fitriadi
For Serambinews.com
KUNJUNGI WALI NANGGROE - Kunjungan edukatif Komite Orang Tua Sekolah Bunga Matahari Intercultural School bersama para siswa ke Wali Nanggroe, Rabu (22/10/2025). 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH -  Dalam pidato yang penuh makna dan refleksi di Meuligoe Wali Nanggroe pada Selasa, 22 Oktober 2025, Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al-Haythar, menyerukan pentingnya memperkuat fondasi moral dan budaya dalam pendidikan. Ia menegaskan bahwa “anak yang cerdas tanpa kejujuran dan empati ibarat kapal tanpa arah.”

Dalam acara kunjungan edukatif Komite Orang Tua Sekolah Bunga Matahari Intercultural School, Wali Nanggroe menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas inisiatif sekolah tersebut yang dianggap sebagai momen penting untuk merefleksikan nilai-nilai bersama, budaya, dan tanggung jawab moral dalam membentuk generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.

Pendidikan dan Keluarga Sebagai Fondasi Peradaban

Wali Nanggroe menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga kekuatan keluarga. “Keberhasilan pendidikan tidak bergantung sepenuhnya pada sekolah, tetapi juga pada kekuatan rumah tangga dan keluarga,” ujarnya. “Orang tua adalah mitra sejati para guru. Keterlibatan aktif orang tua menumbuhkan rasa tanggung jawab, kasih sayang, dan pembentukan karakter anak.”

Dia juga mengingatkan bahwa tidak ada teknologi atau fasilitas yang dapat menggantikan cinta dan kehangatan orang tua, serta mengajak agar setiap rumah dijadikan sebagai sekolah pertama bagi anak-anak.

Menumbuhkan Generasi Toleran dan Berakar pada Budaya

Dalam kesempatan tersebut, Wali Nanggroe juga menekankan pentingnya pendidikan lintas budaya dan toleransi yang menjadi ciri khas Bunga Matahari Intercultural School. Ia menyebut sekolah ini memiliki peran penting dalam menumbuhkan semangat saling menghormati dan menghargai perbedaan.

“Aceh memiliki sejarah panjang dalam hubungan antarbudaya,” ujar beliau. “Sejak masa Kesultanan Aceh, daerah ini terbuka terhadap ilmu dan peradaban. Kita menjunjung tinggi prinsip ‘Adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala’ — adat mengikuti pemimpin, hukum mengikuti ulama. Budaya dan agama harus berjalan beriringan, saling menguatkan, bukan saling menjauh.”

Ia juga mengajak para siswa dan guru untuk melihat Aceh bukan sekadar sebagai tempat belajar sejarah, melainkan sebagai lingkungan hidup yang kaya akan kebijaksanaan, gotong royong, dan kasih sayang di antara masyarakatnya.

Pesan untuk Guru dan Siswa

Kepada para guru, Wali Nanggroe menyampaikan apresiasi yang tinggi atas dedikasi mereka sebagai pendidik dan pembimbing moral bangsa. “Guru sejati bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai, cinta tanah air, dan rasa tanggung jawab terhadap kemanusiaan,” katanya.

Kepada para siswa, ia berpesan agar belajar dengan tekun dan tidak takut bermimpi. “Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jangan takut bermimpi, tetapi pastikan setiap mimpi diiringi dengan keikhlasan dan usaha. Cintailah orang tuamu, hormati gurumu, dan jangan pernah melupakan akar budaya bangsa.”

Pendidikan Sebagai Jembatan Kemanusiaan dan Perdamaian

Di akhir sambutannya, Wali Nanggroe menyampaikan terima kasih kepada Komite Orang Tua dan seluruh keluarga besar Sekolah Bunga Matahari Intercultural atas kunjungan mereka ke Meuligoe Wali Nanggroe.

“Semoga kunjungan ini membawa pengetahuan, inspirasi, dan mempererat hubungan antara dunia pendidikan dan masyarakat Aceh,” ujar Wali Nanggroe.

“Mari kita jadikan pendidikan sebagai jembatan yang memperkuat kemanusiaan, perdamaian, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” pungkasnya.(rel/*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved