Jumat, 8 Mei 2026

Konflik Amerika vs Iran

Intelijen AS: Rezim Iran Tetap Solid Meski Digempur Serangan AS–Israel

Laporan tersebut juga menyoroti kekompakan para pemimpin ulama Iran dalam menjaga stabilitas pemerintahan.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Tangkapan layar/Associated Press
DAMPAK SERANGAN AS-ISRAEL DI IRAN - Bendera Iran dikibarkan di antara reruntuhan gedung yang dihancurkan serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel di Teheran, Selasa (3/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Laporan intelijen Amerika Serikat menyebutkan bahwa pemerintahan Iran saat ini masih tetap kuat dan tidak berada dalam ancaman keruntuhan dalam waktu dekat
  • Menurut tiga sumber yang mengetahui isi laporan tersebut, penilaian intelijen AS secara konsisten menyimpulkan bahwa kepemimpinan di Teheran masih memegang kendali penuh atas masyarakat Iran.
  • Laporan tersebut juga menyoroti kekompakan para pemimpin ulama Iran dalam menjaga stabilitas pemerintahan.

 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON — Laporan intelijen Amerika Serikat menyebutkan bahwa pemerintahan Iran saat ini masih tetap kuat dan tidak berada dalam ancaman keruntuhan dalam waktu dekat, meskipun negara tersebut telah digempur serangan udara besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel selama hampir dua pekan.

Serangan militer itu dilaporkan dimulai pada 28 Februari dan menargetkan berbagai fasilitas strategis Iran.

Menurut tiga sumber yang mengetahui isi laporan tersebut, penilaian intelijen AS secara konsisten menyimpulkan bahwa kepemimpinan di Teheran masih memegang kendali penuh atas masyarakat Iran.

“Banyak laporan intelijen memberikan analisis konsisten bahwa rezim tersebut tidak dalam bahaya keruntuhan dan tetap mempertahankan kendali atas publik Iran,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan identitasnya, seperti dilaporkan Reuters, Jumat (13/3/2026).

Laporan tersebut juga menyoroti kekompakan para pemimpin ulama Iran dalam menjaga stabilitas pemerintahan.

Meski Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama serangan, yaitu 28 Februari, struktur kekuasaan negara itu disebut tetap bertahan.

Majelis Ahli, yang terdiri dari ulama senior Iran, awal pekan ini juga telah menunjuk putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi yang baru.

Selain itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) bersama para pemimpin sementara yang menggantikan pejabat yang tewas dalam serangan masih memegang kendali negara, meskipun puluhan perwira senior mereka dilaporkan menjadi korban.

Baca juga: Iran Buru 11.000 Tentara AS di Timur Tengah, IRGC Minta Warga Laporkan Keberadaan Mereka

Tekanan politik bagi Trump

Stabilnya pemerintahan Iran juga menjadi tantangan tersendiri bagi Presiden AS, Donald Trump.

Di tengah tekanan politik dalam negeri akibat melonjaknya harga minyak dunia, Trump mengisyaratkan kemungkinan untuk segera mengakhiri operasi militer tersebut.

Operasi ini disebut sebagai operasi militer terbesar AS sejak 2003.

Namun, para analis menilai akan sulit bagi Washington untuk menemukan jalan keluar yang dapat diterima jika pemerintahan Iran tetap bertahan kuat.

Di sisi lain, sejumlah pejabat Israel dalam diskusi tertutup juga mulai mempertanyakan apakah perang ini benar-benar dapat menjatuhkan rezim Iran.

Seorang pejabat senior Israel bahkan menyatakan kepada Reuters bahwa tidak ada jaminan pemerintahan Iran akan runtuh akibat konflik tersebut.

Hingga kini, Gedung Putih, CIA, dan Kantor Direktur Intelijen Nasional AS belum memberikan komentar resmi terkait laporan intelijen tersebut.

Baca juga: VIDEO Iran dan Hizbullah Pakai Serangan Kombo Gempur 3 Kota Israel

Potensi pemberontakan

Di tengah konflik yang berlangsung, kelompok milisi Kurdi Iran yang berbasis di Irak sempat berkonsultasi dengan pihak AS mengenai kemungkinan melancarkan serangan terhadap pasukan keamanan Iran di wilayah barat negara itu.

Ketua Partai Komala Kurdistan Iran, Abdullah Mohtadi, mengklaim puluhan ribu pemuda siap mengangkat senjata melawan pemerintah Iran apabila mendapat dukungan dari Amerika Serikat.

Ia juga mengaku melihat adanya tanda-tanda kelemahan pada unit Garda Revolusi Iran di wilayah Kurdistan.

“Kami telah menyaksikan tanda-tanda kelemahan yang nyata di wilayah Kurdi,” kata Mohtadi dalam sebuah wawancara.

Namun, penilaian intelijen AS meragukan kemampuan kelompok tersebut untuk mempertahankan perlawanan dalam jangka panjang.

Dua sumber menyebutkan bahwa milisi Kurdi dinilai kekurangan jumlah personel dan daya tempur untuk menghadapi kekuatan pemerintah Iran.

Presiden Trump sendiri sebelumnya menyatakan telah mengesampingkan opsi untuk menerjunkan kelompok Kurdi ke wilayah Iran sebagai bagian dari strategi militer AS.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved