Selasa, 7 April 2026

AS dan Israel Serang Iran

AS Targetkan Operasi Militer Darat di Iran Selama Berminggu-minggu

Ketegangan di Timur Tengah kian memanas. Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tenga

|
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/us navy
PASUKAN PENERJUN AS - Sekitar 1.000 tentara AS dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat diperkirakan akan dikerahkan dalam beberapa hari mendatang ke Timur Tengah, menurut sumber yang dikutip CNN, menambah kekuatan militer yang terus meningkat di kawasan tersebut seiring dengan upaya pemerintahan Trump dalam melakukan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri konflik. 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan di Timur Tengah kian memanas. Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah menyiapkan operasi darat terbatas di Iran yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu, di tengah perang yang telah memasuki pekan kelima.

Laporan The Washington Post menyebutkan, rencana Pentagon tidak mengarah pada invasi penuh, namun mencakup kemungkinan serangan oleh pasukan operasi khusus serta infanteri konvensional ke sejumlah titik strategis Iran, termasuk Pulau Kharg dan wilayah pesisir dekat Selat Hormuz.

Langkah ini dinilai berisiko tinggi. Pasukan AS berpotensi menghadapi serangan balik berupa drone, rudal, hingga ranjau improvisasi yang selama ini menjadi andalan militer Iran.

Baca juga: IRGC Klaim Hancurkan Pesawat Mata-mata Canggih AS E-3 AWACS di Pangkalan Saudi

Meski demikian, belum ada keputusan final dari Donald Trump terkait pelaksanaan rencana tersebut.

Gedung Putih menegaskan bahwa semua opsi masih dalam tahap persiapan untuk memberikan fleksibilitas maksimal kepada presiden sebagai panglima tertinggi.

Di sisi lain, pengerahan kekuatan militer terus berlangsung. Komando Pusat AS mengonfirmasi sekitar 3.500 personel tambahan telah tiba di Timur Tengah menggunakan kapal serbu amfibi USS Tripoli.

Pasukan ini terdiri dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 lengkap dengan dukungan pesawat tempur dan perlengkapan tempur amfibi.

Sumber internal menyebut, salah satu skenario yang dipertimbangkan adalah merebut Pulau Kharg pusat ekspor minyak utama Iran serta menghancurkan instalasi militer di sekitar Selat Hormuz yang dinilai mengancam jalur pelayaran global. 

Operasi ini diperkirakan bisa berlangsung dalam hitungan minggu hingga beberapa bulan.

Sementara itu, upaya diplomasi juga terus berjalan. Pakistan disebut menjadi mediator dengan menggelar pembicaraan yang melibatkan negara-negara kunci seperti Arab Saudi, Turki, dan Mesir.

Namun dari Teheran, respons keras mulai bermunculan. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuding AS memainkan “dua wajah”—berbicara soal negosiasi sambil diam-diam merancang serangan darat.

Ia bahkan memperingatkan bahwa rakyat Iran siap menghadapi pasukan AS jika benar-benar mendarat. “Rudal kami sudah siap,” tegasnya.

Ancaman juga datang dari Angkatan Laut Iran. Komandannya, Shahram Irani, menyatakan kapal induk USS Abraham Lincoln akan menjadi target jika memasuki jangkauan serangan.

Situasi semakin kompleks dengan potensi meluasnya konflik ke wilayah lain.

Iran disebut dapat membuka front baru di sekitar Selat Bab al-Mandeb, jalur vital perdagangan dunia di dekat Yaman.

Dengan eskalasi militer yang terus meningkat dan diplomasi yang berjalan di jalur rapuh, dunia kini menanti, apakah konflik ini akan berubah menjadi perang darat terbuka yang lebih luas, atau masih bisa diredam sebelum terlambat.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved