Sabtu, 25 April 2026

Berita Internasional

Kobaran Api Melahap 1.000 Rumah Apung di Sabah Malaysia, 9 Ribu Warga Desa Air Terdampak

Lebih dari 9.000 warga kehilangan tempat tinggal, mayoritas dari komunitas adat dan warga tanpa kewarganegaraan.

Editor: Saifullah
for serambinews/IST
SERIBU RUMAH TERBAKAR - Ilustrrasi kebakaran hebat. Seribu rumah di Desa Air, Negara Bagian Sabah, Malaysia terbakar habis pada Minggu (19/4/2026) dini hari. 
Ringkasan Berita:
  • Kebakaran besar melanda permukiman pesisir Sandakan, Sabah, Malaysia, Minggu (19/4/2026) dini hari, menghanguskan sekitar 1.000 rumah apung.
  • Lebih dari 9.000 warga kehilangan tempat tinggal, mayoritas dari komunitas adat dan warga tanpa kewarganegaraan.
  • Meski tidak ada korban jiwa, pemerintah pusat bersama otoritas Sabah segera menyalurkan bantuan darurat dan menyiapkan akomodasi sementara bagi para korban.

 

Lebih dari 9.000 warga kehilangan tempat tinggal, mayoritas dari komunitas adat dan warga tanpa kewarganegaraan.

SERAMBINEWS.COM, SABAH - Kebakaran besar melanda permukiman pesisir di Sandakan, Sabah, Malaysia, Minggu (19/4/2026) dini hari.

Amukan ‘si jago merah’ ini menghanguskan sekitar 1.000 rumah apung dan membuat lebih dari 9.000 warga kehilangan tempat tinggal.

Permukiman yang dikenal sebagai “desa air” ini dihuni masyarakat adat dan warga tanpa kewarganegaraan.

Sehingga dampaknya sangat berat bagi komunitas rentan tersebut.

Api cepat menyebar karena rumah-rumah kayu dibangun rapat di atas air, ditambah angin kencang dan sulitnya akses mobil pemadam kebakaran. 

“Meski kerusakan yang terjadi sangat parah, namun otoritas memastikan tidak ada korban jiwa.

Ribuan warga kini membutuhkan bantuan darurat.

Baca juga: Satu Rumah di Gompong Ilie Banda Aceh Terbakar, 3 Mobil Pemadam Kebakaran di Kerahkan ke Lokasi

Sementara pemerintah pusat bersama otoritas Sabah bergerak menyediakan akomodasi sementara.

Perdana Menteri (PM) Malaysia, Anwar Ibrahim menegaskan, prioritas utama adalah keselamatan dan kebutuhan mendesak para korban. 

Tragedi ini sekaligus menyoroti kerentanan permukiman tradisional di atas air yang rawan kebakaran.

Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada penanganan darurat.

Tetapi juga menyiapkan solusi jangka panjang berupa pembangunan permukiman yang lebih aman dan tahan bencana.(*)

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved