Info Haji Aceh
Dilarang Lepas di Jalan, Jamaah Haji Aceh ‘Saweu’ Unta di Kandang
Di Saudi Arabia, unta dilarang keras dilepaskan ke jalan raya karena dapat membahayakan keselamatan pengendara mobil dan sepeda motor.
Laporan Hasan Basri M Nur dari Makkah
Berbeda dengan daerah tertentu yang membolehkan ternak berkaki empat berkeliaran di jalanan dan fasilitas umum, di Saudi Arabia peternak unta diminta untuk menjaga ternaknya dengan baik.
Di Saudi Arabia, unta dilarang keras dilepaskan ke jalan raya karena dapat membahayakan keselamatan pengendara mobil dan sepeda motor. Pemerintah bahkan menetapkan aturan khusus mengenai ganti rugi jika terjadi kecelekaan lalu lintas yang diakibatkan oleh unta yang dilepaskan di jalanan. Dendanya tak tanggung-tanggung. Jika menimbulkan korban luka berat atau meninggal dunia, denda dapat mencapai 10.000 Saudi Arabia Riyal – setara Rp 48 juta -- atau hukuman penjara satu tahun atau kedua-duanya.
Aturan yang ketat ditambah kesadaran warga yang tinggi dan beradab berdampak pada tidak adanya ternak unta yang dilepas sehingga meuwoh-woh (berkeliaran) di jalanan, pasar, dan pemukiman warga. Juga tidak tampak tumpukan kotoran ternak di jalanan atau ternak yang makan tanaman milik orang lain. Warga Saudi menyadari bahwa yang demikian itu adalah perbuatan berdosa.
Unta bukanlah ternak murah. Harga bervariasi, antara Rp 40-100 juta per ekor. Susunya juga tergolong mahal. Inilah yang mendorong peternak unta sangat serius dalam merawat ternaknya. Meski Saudi dikenal sebagai “lumbung unta”, namun unta tak mudah ditemui di jalanan, sehingga ia menjadi salah satu daya tarik wisata bagi jamaah haji Indonesia.
Dua hari lalu, jamaah haji Aceh mengisi watu luang untuk tamasya ke Thaif sambil mengambil miqat umrah di Qarnul Manazil. Mereka menyediakan waktu khusus untuk “saweu” unta di kandang milik warga setempat. Jamaah terlihat bercengkrama dengan unta, menyentuh dan mencicipi susunya. Tak ketinggalan, banyak pula yang menunggang unta dan foto bersama unta.
Demikianlah, unta saja dapat menjadi objek wisata manakala mereka sulit ditemui di jalanan. Bayangkan seandainya lembu atau kerbau di daerah tertentu dirawat seperti unta, maka harga diri lembu pasti akan naik dan bisa menjadi objek wisata.
Pejabat daerah banyak yang ikut mengunjungi objek wisata unta. Tapi, anehnya, dari sekian pejabat daerah, belum ada yang bersedia mengadopsi model penertiban dan perawatan ternak ala Saudi Arabia di daerah yang mereka pimpin.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hasan-Basri-M-Nur-di-Mekkah.jpg)