Rupiah Menguat di Bawah Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penyebab dan Dampaknya
Rupiah menguat kembali ke bawah level Rp18.000 per dolar AS setelah sempat melemah sebelumnya.
Ringkasan Berita:
- Rupiah menguat didorong kenaikan BI Rate dan masuknya modal asing ke pasar keuangan domestik.
- Fundamental ekonomi Indonesia yang kuat turut menjaga kepercayaan investor.
- Risiko global seperti kebijakan The Fed dan konflik geopolitik masih membayangi pergerakan rupiah.
SERAMBINEWS.COM - Rupiah menguat kembali ke bawah level Rp18.000 per dolar AS setelah sempat melemah sebelumnya.
Penguatan ini didorong oleh kenaikan BI Rate oleh Bank Indonesia menjadi 5,50 persen.
Kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Kenaikan suku bunga membuat aset keuangan Indonesia lebih menarik bagi investor asing.
Arus modal asing masuk ke SRBI, SBN, dan obligasi internasional dalam jumlah besar.
Kondisi ekonomi Indonesia yang stabil turut memperkuat kepercayaan investor.
Baca juga: Rupiah Melemah dan Krisis Stok, Harga iPhone 17 Pro Max Naik Tajam
Meski menguat, rupiah masih menghadapi risiko dari faktor global seperti kebijakan The Fed dan geopolitik.
Ke depan, rupiah diperkirakan masih berpotensi menguat jika arus modal asing terus berlanjut.
Nilai tukar rupiah menguat dalam beberapa hari terakhir setelah sempat tertekan hingga menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah berada di level Rp 17.860 per dolar AS, menguat 129 poin atau 0,71 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 17.989 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga menguat ke level Rp 17.921 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.981 per dolar AS.
Lalu, apa yang menjadi penyebab rupiah menguat?
Kenaikan BI Rate jadi penopang utama.
Baca juga: Dolar Naik, Rupiah Melemah: Bagaimana Nasib Masyarakat Indonesia
Penguatan rupiah tidak lepas dari keputusan BI menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026.
Bersamaan dengan itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, terutama akibat perang di Timur Tengah.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai langkah BI menaikkan suku bunga memberikan bantalan terhadap rupiah.
Menurut dia, kombinasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan koordinasi yang kuat antara BI dan pemerintah berhasil meredakan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
"Defisit APBN masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat," ujar Josua.
Modal asing kembali masuk. Kenaikan BI Rate juga meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik, terutama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). (*)
| Asisten II Pemkab Aceh Singkil Jagokan Argentina Juara Piala Dunia, Ini Jadwal Tim Tango |
|
|---|
| Mahasiswa Pertanian USK Borong 5 Penghargaan di Ajang Kompetisi Nasional |
|
|---|
| Diduga Lecehkan Sejumlah Santriwati, Pengasuh Ponpes Diperiksa Polisi |
|
|---|
| Hakim Soroti Penangkapan Warga Medan Usai Beli Pertalite 25 Liter, Curigai Ada Kejanggalan |
|
|---|
| Konsultasi Keluarga di Mobil Klinik FDPeduli Ungkap Maraknya Konflik Rumah Tangga di Banda Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ilustrasi-harga-pelemahan-rupiah-terhadap-dolar.jpg)