Senin, 25 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Refleksi NU 100 Tahun: Menjaga Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia

TEMA peringatan satu abad Nahdlatul Ulama Menjaga Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia adalah ikrar sejarah sekaligus kompas masa depan.

Tayang:
Editor: Yocerizal
Serambinews.com
Ketua PW GP Ansor Aceh, Azwar A Gani. 

Karena itu, menjaga Indonesia tetap merdeka berarti terus melawan segala bentuk ketidakadilan yang merendahkan martabat manusia—dengan cara yang bermartabat pula.

Ansor: Garda Terdepan NU dalam Merawat Indonesia

Dalam perjalanan panjang NU, Gerakan Pemuda Ansor hadir sebagai garda terdepan yang menjaga dan menghidupkan nilai-nilai ke-NU-an di ruang-ruang sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan. 

Ansor bukan sekadar organisasi kepemudaan, melainkan energi muda NU yang bergerak cepat, adaptif terhadap zaman, dan siap hadir ketika umat dan bangsa membutuhkan.

Sejarah mencatat, sejak masa mempertahankan kemerdekaan hingga menghadapi berbagai ancaman terhadap persatuan nasional, Ansor selalu berada di barisan depan. 

Melalui Barisan Ansor Serbaguna (Banser), kader Ansor menjaga rumah ibadah, ruang publik, dan simbol-simbol kebangsaan—sering kali tanpa sorotan, tanpa pamrih, dan dengan risiko yang tidak kecil.

Di era kontemporer, peran Ansor justru semakin relevan. Ketika polarisasi sosial mengeras, ketika hoaks dan ujaran kebencian meracuni ruang digital, Ansor hadir sebagai benteng moderasi. 

Anak-anak muda Ansor bergerak di akar rumput, mengedukasi masyarakat, merawat toleransi, dan memastikan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin hidup dalam praktik nyata, bukan berhenti sebagai jargon.

Baca juga: APBA 2026: Layakkah Aceh Menjadi “Juara Terburuk” Musabaqah Pengelola APBD Nasional?

Baca juga: VIDEO - Lebih 1.600 Korban Banjir Peusangan Bireuen Terima Bantuan Tunai Multiguna

Ansor adalah wajah NU di masa depan: bergerak lincah, berpikir terbuka, tetapi tetap berakar kuat pada tradisi. 

Dalam konteks peradaban mulia, Ansor memainkan peran strategis sebagai penjaga harmoni sosial sekaligus motor pengabdian kemanusiaan.

Tantangan Zaman dan Tanggung Jawab NU

Memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi membawa kemudahan sekaligus kerentanan. 

Informasi bergerak sangat cepat, tetapi kebijaksanaan sering tertinggal. Fragmentasi sosial menguat, sementara kepercayaan antarwarga dan terhadap institusi publik terus diuji.

Menghadapi situasi ini, NU tidak boleh kehilangan peran dasarnya: membangun kesadaran, menumbuhkan etika sosial, dan memperkuat daya tahan masyarakat. 

Pendidikan keagamaan yang mencerahkan, literasi sosial yang kritis, serta pembinaan karakter menjadi medan khidmah yang semakin penting. Nilai-nilai klasik NU—tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i‘tidal—harus terus diterjemahkan dalam bahasa zaman agar tetap hidup dan membumi.

Bagi negara, Nahdlatul Ulama adalah mitra strategis dalam menjaga keutuhan sosial dan kebangsaan. Basis sosial NU yang luas dan tingkat kepercayaan publik yang tinggi menjadikannya penopang penting kehidupan berbangsa. 

Dalam praktiknya, Ansor sering menjadi jembatan antara negara dan masyarakat akar rumput.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved