Minggu, 24 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Ramadhan di Atas Lumpur dan Angka Kemiskinan Aceh

Aceh menjadi provinsi termiskin di Sumatera dan masih termasuk 10 besar termiskin secara nasional

Tayang:
SERAMBINEWS.COM/HO
M SHABRI Abd Majid, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)

Ramadhan tahun ini tidak turun di atas hamparan yang lapang. Ia hadir di tanah yang masih lembap oleh jejak banjir, di halaman yang baru saja dibersihkan dari lumpur, di rumah-rumah yang belum sepenuhnya pulih dari derasnya air akhir 2025. Di beberapa gampong, garis cokelat masih membekas di dinding—tanda bahwa air pernah lebih tinggi dari harapan. Ada keluarga yang belum kembali ke hunian tetap. Ada yang menata ulang kehidupan dari sisa yang terselamatkan. Ada yang menyimpan letih dalam senyum, karena hidup memang tak pernah menunggu luka sembuh sepenuhnya. Bencana mungkin telah berlalu dari layar berita, tetapi belum berlalu dari kehidupan.

Di atas luka itu, angka-angka berdiri tanpa emosi. Tingkat kemiskinan masih 12,22 persen—sekitar 703 ribu jiwa. Aceh menjadi provinsi termiskin di Sumatera dan masih termasuk 10 besar termiskin secara nasional. Di perdesaan, hampir satu dari tujuh warga hidup dalam keterbatasan. Lebih dari separuh tenaga kerja berada di sektor informal—tanpa kepastian pendapatan, tanpa perlindungan saat krisis datang.

Baca juga: 50.000 Hektare Sawah di Aceh Masih Tertutup Lumpur, Gubernur Mualem Khawatirkan Kemiskinan Baru

Struktur ekonomi yang bertumpu pada sektor primer dan perdagangan kecil menjadikan Aceh rentan terhadap negative supply shock (guncangan sisi penawaran). Ketika sawah rusak dan distribusi tersendat, harga bergerak naik, daya beli (purchasing power) melemah, dan yang pertama kali terhimpit adalah mereka yang paling rapuh.

Aceh memasuki Ramadhan bukan dari posisi kuat, melainkan dari posisi yang sedang bertahan. Namun Ramadhan tidak datang untuk menambah beban. Ia datang sebagai rahmat—rahmat yang bekerja, bukan sekadar dirayakan.

Solidaritas yang Menguatkan

Ramadhan menyatukan rasa. Kita sahur dalam gelap yang sama, menahan lapar di siang yang sama, dan berbuka dalam syukur yang sama. Kaya dan miskin berada dalam satu pengalaman kolektif. Saf tarawih merapatkan bahu tanpa melihat status. Di sanalah sekat sosial mencair.

Pengalaman bersama ini menumbuhkan empati yang nyata. Orang yang berkecukupan merasakan, meski sesaat, getir yang menjadi keseharian mereka yang kekurangan. Solidaritas tumbuh bukan karena slogan, melainkan karena pengalaman.

Dalam bahasa ekonomi pembangunan, social capital (modal sosial) menguat—dan itulah fondasi resilience (ketahanan) yang sering kali lebih kokoh daripada bantuan sesaat. Ramadhan menahan konsumsi pribadi di siang hari, tetapi memperluas kepedulian sosial di malam hari. Ia membatasi diri, namun memperluas tanggung jawab.

Sedekah yang Menggerakkan

Islam tidak membiarkan empati berhenti sebagai rasa. Ia menjadikannya sistem distribusi. Al-Qur’an menegaskan agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya (QS. Al-Hasyr: 7). Prinsip circulation of wealth (sirkulasi kekayaan) ini adalah fondasi keadilan.

Zakat fitrah diwajibkan agar tidak ada yang menyambut Idul Fitri dalam kekurangan. Sedekah di bulan Ramadhan dijanjikan pahala hingga tujuh ratus kali lipat sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 261. Janji spiritual ini melahirkan dorongan sosial yang konkret. Inilah the multiplier effect of sedekah (efek pengganda sedekah). Harta yang keluar dari satu tangan tidak hilang; ia berputar, menghidupkan warung kecil, membiayai usaha mikro, dan memperkuat permintaan di lapisan bawah.

Menjelang berbuka, jalanan Aceh menjadi ruang ekonomi rakyat kecil. Penjaja kolak, gorengan, bubur kanji, dan minuman sederhana berjejer. Permintaan meningkat. Uang berpindah tangan lebih cepat. Aktivitas kecil ini memperkuat demand side (sisi permintaan) ekonomi lokal. Mereka yang terdampak banjir menemukan kembali celah penghasilan. Usaha mikro yang sempat redup perlahan menyala kembali. Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya kering, ekonomi kecil bergerak—pelan, tetapi nyata.

Baca juga: Kemenag Aceh Perkirakan Ramadhan Jatuh pada Kamis 19 Februari

Nilai yang Menopang Ketahanan

Nilai maqashid al-shariah bekerja dalam diam. Penjagaan jiwa (hifz al-nafs) melalui pemenuhan kebutuhan dasar. Penjagaan harta (hifz al-mal) melalui distribusi yang adil. Penjagaan keturunan (hifz al-nasl) melalui martabat keluarga di hari raya. Ekonomi di sini bukan sekadar angka pertumbuhan, melainkan perwujudan keadilan yang dirasakan.

Aceh memiliki kearifan yang menopang nilai itu. Meugang sebelum Ramadhan adalah simbol bahwa tak satu pun rumah dibiarkan kosong. Gotong royong dan musyawarah gampong menjaga agar tak ada yang berjalan sendiri. Prinsip “hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut” menegaskan bahwa agama dan adat menyatu, bukan hanya dalam ritual, tetapi dalam tanggung jawab sosial.

Ibn Khaldun menyebut kekuatan masyarakat terletak pada ‘asabiyyah—solidaritas kolektif. Ketika kekayaan beredar luas dan kohesi terjaga, masyarakat memiliki daya tahan menghadapi krisis. Sebaliknya, ketika distribusi timpang dan akumulasi terkonsentrasi, kemunduran menjadi keniscayaan. Ramadhan memperkuat ‘asabiyyah itu bukan melalui retorika, tetapi melalui praktik berbagi yang nyata.

Rahmat yang Bekerja

Aceh mungkin masih menyandang status termiskin di Sumatera. Luka bencana belum sepenuhnya sembuh. Namun Ramadhan menghadirkan energi moral yang mempercepat redistribusi, memperluas peredaran, dan menggerakkan ekonomi akar rumput. Dan di sanalah rahmat itu bekerja. Di atas tanah yang masih menyimpan bekas air bah, Ramadhan menanamkan benih keadilan. Benih itu tumbuh melalui sedekah yang mengalir, melalui solidaritas yang tak padam, melalui harta yang beredar lebih luas daripada penumpukan. Ketika harta bergerak, daya beli menguat. Ketika empati hidup, ketimpangan melemah. Ketika nilai ditegakkan, fondasi diperkuat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved