Jumat, 5 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai : Bagian 1

Perang kontemporer hanya berubah bentuk menjadi lebih kompleks dan lebih mematikan menuju kepunahan manusia.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Serambinews.com/HO
Yunidar Z.A 

Oleh: Yunidar Z.A *)

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, dunia berharap memasuki era baru tanpa perang besar. Tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki menjadi pelajaran pahit tentang kehancuran total yang dapat ditimbulkan oleh konflik bersenjata, bahkan yang hidup lebih menderita dan iri kepada yang telah mati duluan.

Harapan itu kemudian diwujudkan melalui pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagai penjaga perdamaian dunia. Celakanya, realitas menunjukkan bahwa perang tidak pernah benar-benar berakhir, konon dalam hikayat masa lalu sudah ditulis kalau mau melenyapkan perang, lenyapkanlah manusia. Perang kontemporer hanya berubah bentuk menjadi lebih kompleks dan lebih mematikan menuju kepunahan manusia.

Kebijkan ugal – ugalan Netanyahu dan Donald Trump dalam menyerang Iran, membuktikan bahwa perang agresi Amerika Serikat, Israel ke Iran telah menimbulkan korban kemanusiaan yang sangat besar.

Data pemberitaan menunjukkan lebih dari 3.000 (tiga ribu) orang tewas hanya dalam waktu singkat, Bahkan satu lokasi di Iran, serangan Amerika - Israel terhadap sekolah dasar menyebabkan tragedia kemanusiaan lebih dari 165 anak dan staf para pendidik meninggal dunia dalam sekejap.

Lebih jauh lagi, data lain menunjukkan bahwa konflik kekerasan ini tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan kehidupan sosial masyarakat. Tercatat lebih dari 9.600 fasilitas sipil hancur, termasuk rumah tinggal, pusat kesehatan, sekolah, dan fasilitas ekonomi masyarakat. Ini berarti perang tidak hanya membunuh manusia. Tapi, juga menghancurkan masa depan generasi yang selamat.

Jika ditarik lebih luas, pola kehancuran ini bukan hal baru. Dalam konflik sebelumnya di Gaza, korban jiwa diperkirakan mencapai 100.000 hingga 126.000 orang, dengan sekitar 27 persen di antaranya adalah anak-anak dan kaum rentan, masyarakat sipil yang tidak ikutan perang.

Selain itu, sebagian besar infrastruktur dasar juga dibombardir seperti rumah, sekolah, perkantoran dan rumah sakit mengalami kerusakan masif. Hal ini menunjukkan bahwa korban utama perang modern bukan lagi tentara, melainkan masyarakat sipil.

Perang kontemporer juga membawa dampak serius terhadap lingkungan dan ekonomi global. Kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari (sekitar 25 % perdagangan minyak dunia) berada dalam ancaman jika konflik terus berlanjut.

Gangguan terhadap jalur pasok energi dunia ini dapat memicu krisis energi global, kenaikan harga minyak, inflasi, dan akan menciptakan masalah baru, kemiskinan di berbagai negara, termasuk negara berkembang dan negara terbelakang seperti di kawasan Asia Tenggara.

Selain itu, kerugian material militer juga sangat besar. Agresi Amerika – Israel ke Iran diperkirakan kerusakan aset militer Amerika Serikat saja mencapai USD 1,9 miliar, termasuk sistem radar dan pesawat tempur. Namun angka ini masih belum sebanding dengan kerugian sosial yang tidak dapat dihitung, korban jiwa, trauma, rasa sakit, luka, duka, kehilangan keluarga, dan kehancuran komunitas peradaban manusia.

Jika dibandingkan dengan bencana alam, dampak perang sering kali lebih sistematis dan berkelanjutan. Sebagai contoh, bencana banjir besar di Sumatra tahun 2025 menewaskan sekitar 969 orang dan memaksa lebih dari 1 juta orang mengungsi. Angka ini sangat besar, namun perang dalam waktu singkat dapat melampaui jumlah tersebut dan berlangsung jauh lebih lama, dengan dampak yang lebih kompleks dan sulit dipulihkan.

Inilah yang disebut sebagai perang total, perang yang tidak hanya menghancurkan peserta yang ikut perang (tentara), namuan juga menghancurkan manusia, lingkungan, ekologi, ekonomi, dan masa depan peradaban dunia.

Perang tidak lagi memiliki batas moral yang jelas. Sekolah, rumah sakit, pusat pemerintahan dan pemukiman sipil yang dahulu dilindungi kini menjadi sasaran. Teknologi modern justru mempercepat proses kehancuran, memungkinkan serangan dilakukan dari jarak jauh tanpa melihat langsung penderitaan korban.

Di sisi lain, media global (jaringan perang) sering kali membingkai perang sebagai tontonan strategis, publikasi jumlah rudal, kecanggihan senjata, dan kemenangan militer. Namun di balik itu, ada realitas yang jarang ditampilkan yaitu para korban, anak-anak yang kehilangan orang tua, masa depan, kematian saudara, hancurnya kehidupan, mata pencaharian, masyarakat yang kehilangan rumah, dan generasi yang tumbuh dalam trauma skala dukka berat.

Gairah perang lebih besar untuk didiskusikan, para pengamat dari para pihak berlawanan juga menjagokan jagoannya seolah – olah tidak mau ketinggalan berita, serangan-serangan yang mematikan, propaganda para pihak dan menghancurkan ruang publik, sekolah, rumah sakit, pasar, perkantoran, sumber-sumber kehidupan dan masa depan. Menjadi hal yang biasa saja. Kadang-kadang kita merasakan apakah soal perdamaian ini hanya obsesi baru yang membuat orang latah di seluruh dunia. 

Bagaimana membuat orang yakin bahwa perdamaian itu penting. Bayangkan penderitaaan korban perang akibat bom atom, korban Hiroshima dan Nagasaki yang tidak segera mati. Orang - orang dengan kulit terkelupas berjalan kian kemari tidak tentu arah sambil berteriak menanggil nama-nama saudaranya dan meminta air minum karena panas, dalam keadaan setengah gila mereka mual dan muntah-muntah serta rambut rontok karena radiasi, yang hidup lama menderita kangker  dan cacat seumur hidup juga keturunanya. 

Perang sebelum kemerdekaan dahulu di Indonesia juga penuh penderitaan yang kadang jarang diceritakan, seperti yang dirasakan penderitaan romusa, beribu orang mengindap busung lapar, berkudis, berkurap, berpakaian goni dan disisksa oleh Kenpeitai, diasing ke wilayah lain, banyak yang tidak dikehui kemana lenyapnya, termasuk para pejuang Aceh yang diasingkan ke Batavia, Jawa, Banten, Seumeudang Jawa Barat. Jangan lupa juga perang di Vietnam dengan korban-korban bom napalm dan herbisida, sampai sekarang anak-anak cacat masih dilahirkan, baik di Vietnam maupun di Amerika Serikat.

Oleh karena itu, upaya mengakhiri perang tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan militer atau keseimbangan kekuatan (balance of power). Perdamaian harus dibangun melalui kesadaran global bahwa perang adalah kerugian bersama (loss for all). Tidak ada pihak yang benar-benar menang. Bahkan negara yang tidak terlibat langsung pun akan terkena dampaknya melalui krisis ekonomi, energi, dan kemanusiaan.

Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi sangat penting, namun tidak cukup tanpa komitmen nyata dari negara-negara besar. Selain itu, masyarakat dunia juga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak diam terhadap penderitaan yang terjadi.

Pada akhirnya, perdamaian bukanlah sekadar idealisme. Tapi, kebutuhan nyata bagi keberlangsungan masa depan kehidupan manusia. Jika perang terus dibiarkan, maka yang hancur bukan hanya satu negara atau satu kawasan, namun masa depan peradaban manusia secara keseluruhan.

Apa yang dapat dilakukan untuk menghentikan perang. Mempromosikan pentingnya perdamaian, pendidikan perdamaian, mempublikasikan dampak akibat perang yang menghancurkan tempat tinggal, kematian, penderitaan yang hidup terkena bom, senjata api, ranjau, komunitas hilang, ketakutan, tidak adanya rasa aman, rasa sakit akibat kekerasan, trauma berkepanjangan, dan harcurnya peradaban manusia,

Perang total hanya akan menghasilkan kehancuran total. Sebaliknya, perdamaian adalah satu-satunya jalan menuju keberlanjutan, keadilan, dan kemanusiaan melanggengkan peradaban Civilized.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis..

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved