Kupi Beungoh
Merindukan Calon Rektor UIN Ar-Raniry Bervisi Internasional
Untuk itu, sejatinya UIN Ar-Raniry menggelar panggung penyampaian visi-misi dan goal yang ingin diraih oleh setiap kandidat.
Data di atas seharusnya menjadi tamparan keras bagi rektor dan elite kampus lainnya. Di tangan mereka, kampus secara tidak langsung telah menjadi “pabrik” pencipta pengangguran terbesar dalam masyarakat.
Kenyataan ini berbalik 360 derajat dari laporan “melangit” dan “dunia maya”, misalnya akreditasi unggul, masuk 14 universitas terbaik, FSH UIN Ar-Raniry mengalahkan FH Universitas Indonesia dan berita bercampur “permen” lainnya.
Untuk elite kampus, ketahuilah, yang sangat dibutuhkan mahasiswa, alumni dan orangtua yaitu keluaran dari kampus harus memiliki pengetahuan (knowledges), pengalaman (experiences) dan keterampilan (skills) tertentu yang mumpuni dan berdaya saing tinggi sehingga mereka tidak menganggur setelah ikut wisuda.
Kasihan orangtua mereka, telah mengeluarkan uang yang banyak demi selembar ijazah. Sementara mahasiswa menghabiskan masa antara 4 sampai 7 tahun, lalu hasilnya menjadi sarjana yang tak mempunyai skill dan kalah saing. Pilu!
Baca juga: Ini Fakta di Balik Gencatan Senjata 2 Minggu Antara AS dan Iran
Baca juga: Duduki Peringkat ke-14 Dunia SIR 2026, UIN Ar-Raniry Sabet Penghargaan Diktis
Tuntutan pada Kandidat Rektor UIN Ar-Raniry
Keempat kandidat Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030 di atas mesti mampu memenuhi tuntutan mahasiswa, alumni dan orangtua dalam menciptakan sarjana berdaya saing nasional dan internasional.
Rektor ke depan mesti mampu mewujudkan beberapa tuntutan, seperti mahasiswa dan alumni yang unggul dalam meneliti dan menulis, unggul dalam jaringan nasional, regional dan internasional, unggul dalam berwirausaha (entrepreneur).
Mahasiswa dan alumni UIN Ar-Raniry mesti berani berdiri dengan bahu tegap di hadapan sarjana dari universitas lain di Indonesia, termasuk alumni UI, ITB, UGM, dan lain-lain. Dunia kerja harus melihat UIN Ar-Raniry sebagai produsen sarjana terampil yang siap pakai, bukan hanya sekedar tinggi IPK, lalu menjadi peganggur.
Rektor mesti melakukan tracing berapa jumlah alumni UIN Ar-Raniry dan berapa persen yang mendapatkan pekerjaan yang sesuai latar belakang prodi. Daya serap alumni dalam dunia kerja adalah daya tarik paling kuat bagi sebuah universitas, mengalahkan sitasi karya ilmiah akademisi di jurnal maya.
Rektor tidak boleh lepas tangan atas keberadaan alumni yang sebagiannya terpaksa “jak u blang”, “jak u gle”, “jak u laot” hingga “meu-agen” atau jadi tukang parkir karena mereka kalah dalam persaingan.
Kandidat Mana yang Mampu?
Itulah beberapa harapan mahasiswa, alumni dan orangtua. Lalu siapakah kandidat rektor yang mampu mewujudkan semua goal itu?
Jawabannya tentu sangat ditentukan pada latar belakang pendidikan kandidat, berwawasan global, kemampuan managerial profesional dan berkeadilan (tidak primordial, nepotis) serta memiliki jaringan nasional dan internasional.
Penguasaan Teknologi dan Kelas Internasional
UIN Ar-Raniry baru saja meraih gelar prestasi “langit”, memiliki Fakultas Hukum terbaik kedua se-Indonesia berdasarkan artikel dosennya menurut Scimago, dua dosen FSH masuk dalam daftar 2 persen akademisi top dunia, yaitu Prof Muhammad Siddiq Armia PhD (calon rektor) dan Prof Dr Mursyid Djawas (wakil rektor).
Harus diakui, kedua pria tersebut (Siddiq Armia dan Mursyid Djawas) sungguh berkelas dan menjadi kebanggaan Aceh, Indonesia, bahkan dunia. Keduanya sangat layak menjadi teladan kampus.
Namun, sebagai mantan mahasiswa, saya melihat prestasi di atas tidaklah sebanding dengan pemberdayaan akademik bagi mahasiswa. Tak dapat dipungkiri, banyak mahasiswa dan alumni banyak yang tidak siap dalam penggunaan teknologi serta jaringan global.
Pembelajaran berbasis teknologi dan digital masih terbatas. Ruang-ruang belajar masih belum disiapkan dengan perangkat teknologi yang tinggal tekan tombol, misalnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Radja-Fadlul-Arabi-SHum-Alumni-Fakultas-Adab-dan-Humaniora-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)