Kupi Beungoh
Merindukan Calon Rektor UIN Ar-Raniry Bervisi Internasional
Untuk itu, sejatinya UIN Ar-Raniry menggelar panggung penyampaian visi-misi dan goal yang ingin diraih oleh setiap kandidat.
Kelas internasional belum tersedia di UIN Ar-Raniry. UIN Ar-Raniry mesti mampu menghadirkan lebih banyak lagi mahasiswa asing, lalu membuka kelas-kelas internasional di setiap fakultas, sebagaimana tetangga, USK.
Rektor ke depan harus bisa memastikan kesiapan penggunaan teknologi, apalagi zaman semakin canggih. Tenaga pendidik harus bisa menguasai AI agar bisa mengawasi efektivitas akademik mahasiswa ini.
Tenaga pengajar jangan lagi hanya sebatas menugaskan mahasiswa untuk menyiapkan makalah lalu foto copy, membagi dan membacanya (bukan presentasi) di kelas. Dosen hanya duduk manis mendengar bacaan mahasiswa. Cara ini sudah kuno, tidak sesuai dengan kemajuan teknologi digital.
Keempat calon rektor juga harus bisa menanamkan nilai sinergisitas antara akademik, moral, dan teknologi kepada mahasiswa sehingga mahasiswa akan semakin bersemangat dalam mengikuti jenjang kuliah di UIN Ar-Raniry.
Menanti Visi-Misi Calon Rektor
Selama ini kita melihat banyak sekali calon pemimpin menyampaikan visi dan misinya dalam proses pemilihan. Mereka berkoar-koar akan membuat semuanya menjadi lebih baik, semuanya lebih hebat dan maju atau apalah slogan yang diucapkan.
Saya ingin menyampaikan kepada empat calon rektor agar menyampaikan visi-misi dan goal yang ingin dicapai.
Untuk itu, sejatinya UIN Ar-Raniry menggelar panggung penyampaian visi-misi dan goal yang ingin diraih oleh setiap kandidat.
Kita tahu level pemilihan kepada desa saja terdapat debat kandidat, masa level perguruan tinggi tak ada? Ini menjadi PR bagi ketua panitia pemilihan rektor.
Akhirnya, kita berharap pemilihan rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030 ini menjadi momentum kebangkitan mutu pendidikan keislaman di Aceh.
Mahasiswa UIN Ar-Raniry wajib dibekali dengan knowledges, experiences dan skills yang memadai sehingga mereka mampu bersaing di level daerah, nasional, regional dan internasional.
Untuk itu, kurikulum wajib dibenahi agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, keterampilan bahasa asing menjadi kewajiban agar mahasiswa tak gagap, jaringan nasional dan internasional mesti diperbanyak untuk dosen dan mahasiswa.
Selain itu, program internship (magang) di lembaga/perusahaan nasional dan internasional mesti diperkenalkan dan dalam durasi yang mencukupi, bukan sekedar magang-magangan alias ecek-ecek. Dari magang ini mahasiswa akan mengenal dunia kerja yang sesungguhnya.
Nah, dari empat kandidat calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2026, adakah calon yang bervisi internasional? Mari kita cermati latar belakang pendidikan, wawasan dan track record mereka di level global.
Semoga artikel sederhana ini menjadi catatan khusus bagi para kandidat rektor dan Menteri Agama RI sebagai pemegang mandat dalam memilih rektor di lingkungan UIN se-Indonesia. Menteri Agama RI saat ini, Prof KH Nasaruddin Umar, adalah ilmuwan terkemuka, teladan bangsa dan akan menimbang yang terbaik dari empat calon Rector UIN Ar-Raniry yang tersedia.
Selaku alumni UIN Ar-Raniry kami tentu merindukan lahirnya rektor yang bervisi internasional dalam memimpin almamater jantong hate rakyat Aceh ini pada periode 2026-2030. Insya Allah.
Penulis adalah Radja Fadlul Arabi, S.Hum, Alumni Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Radja-Fadlul-Arabi-SHum-Alumni-Fakultas-Adab-dan-Humaniora-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)