Kupi Beungoh
Merdeka di Bendera, Gelap di Rumah Rakyat: PLN dan Janji yang Padam
Indonesia merdeka sejak 1945, tetapi dalam urusan listrik, sebagian rakyat masih hidup di bawah belas kasihan lilin.
Pada akhirnya, rakyat tidak meminta kemewahan. Rakyat hanya meminta listrik menyala dengan wajar. Jangan bicara kota pintar, ekonomi digital, hilirisasi, dan Indonesia emas, jika rumah rakyat masih mencari lilin. Jangan minta rakyat percaya pada masa depan, jika malam ini saja negara belum sanggup menjaga terang.
Maka pertanyaannya sederhana, tetapi menghujam: setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sampai kapan rakyat harus terus mengharap pada PLN, tetapi kecewa pada sistem yang sama?
Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id
| Retaker UKMPPD dan Sistem Pendidikan Dokter |
|
|---|
| Ketika Balai Pengajian Mulai Tergeser oleh Dunia Digital |
|
|---|
| Aceh - Sumatra Gelap: Alarm Krisis Listrik Nasional dan Jalan Ilmiah Menuju Energi 100 Persen Stabil |
|
|---|
| Di Antara Mimpi Allende dan Keteguhan Castro, Kemana Arah Perubahan Indonesia? |
|
|---|
| Pemilu Mendatang, Saatnya Aceh Menata Ulang Dapil |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)