KUPI BEUNGOH
Rakyat tidak Pakai Dolar, Tapi Tetap Merasakan Getarnya
Ketika rupiah menyentuh level Rp17.600 per dolar AS, publik mulai cemas terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Negara wajib memastikan kebutuhan pokok rakyat terpenuhi serta mencegah monopoli dan permainan harga yang merugikan masyarakat.
Dalam Islam, pemimpin bukan sekadar pengatur administrasi negara, tetapi ra'in (pengurus rakyat) sekaligus junnah (pelindung).
Kesejahteraan rakyat adalah tanggung jawab langsung penguasa.
Negara tidak boleh membiarkan rakyat tercekik oleh mahalnya kebutuhan hidup, apalagi menyerahkan nasib mereka kepada mekanisme pasar.
Ketika rakyat sulit makan, sulit bekerja, dan sulit bertahan hidup, maka itu adalah tanda kegagalan negara menjalankan amanah kepemimpinan.
Hari ini, melemahnya rupiah seharusnya menjadi alarm bahwa ada yang salah dengan sistem ekonomi yang diterapkan.
Persoalan ini bukan sekadar naik-turunnya kurs mata uang, melainkan gambaran tentang rapuhnya sistem yang membiarkan rakyat kecil menjadi tameng pertama setiap krisis.
Selama kebijakan ekonomi masih berpijak pada logika kapitalisme dan kepentingan pasar, rakyat akan terus diposisikan sebagai pihak yang harus berkorban demi menjaga stabilitas semu.
Sementara para elite berbicara tentang pertumbuhan dan optimisme ekonomi, rakyat di bawah sibuk menghitung sisa uang untuk bertahan hidup esok hari.(*)
- Opini Adalah pendapat atau ulasan maupun pandangan masyarakat dengan tanggung jawab berada di tangan penulis
- Penulis Adalah Perawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh
| Aceh di Persimpangan: Ketika Mimpi Besar Tersandera Lemahnya Tata Kelola dan Krisis Prioritas Publik |
|
|---|
| Kita Punya Emas Energi, Tapi Mengapa Aceh Selalu Gelap? |
|
|---|
| Merdeka di Bendera, Gelap di Rumah Rakyat: PLN dan Janji yang Padam |
|
|---|
| Retaker UKMPPD dan Sistem Pendidikan Dokter |
|
|---|
| Ketika Balai Pengajian Mulai Tergeser oleh Dunia Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sarah-Ainun-PNS-di-RSJ-Aceh.jpg)