Senin, 25 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Rakyat tidak Pakai Dolar, Tapi Tetap Merasakan Getarnya

Ketika rupiah menyentuh level Rp17.600 per dolar AS, publik mulai cemas terhadap stabilitas ekonomi nasional. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
Sarah Ainun, Perawat di RSJ Aceh 

Negara wajib memastikan kebutuhan pokok rakyat terpenuhi serta mencegah monopoli dan permainan harga yang merugikan masyarakat.

Dalam Islam, pemimpin bukan sekadar pengatur administrasi negara, tetapi ra'in (pengurus rakyat) sekaligus junnah (pelindung). 

Kesejahteraan rakyat adalah tanggung jawab langsung penguasa. 

Negara tidak boleh membiarkan rakyat tercekik oleh mahalnya kebutuhan hidup, apalagi menyerahkan nasib mereka kepada mekanisme pasar. 

Ketika rakyat sulit makan, sulit bekerja, dan sulit bertahan hidup, maka itu adalah tanda kegagalan negara menjalankan amanah kepemimpinan.

Hari ini, melemahnya rupiah seharusnya menjadi alarm bahwa ada yang salah dengan sistem ekonomi yang diterapkan. 

Persoalan ini bukan sekadar naik-turunnya kurs mata uang, melainkan gambaran tentang rapuhnya sistem yang membiarkan rakyat kecil menjadi tameng pertama setiap krisis. 

Selama kebijakan ekonomi masih berpijak pada logika kapitalisme dan kepentingan pasar, rakyat akan terus diposisikan sebagai pihak yang harus berkorban demi menjaga stabilitas semu. 

Sementara para elite berbicara tentang pertumbuhan dan optimisme ekonomi, rakyat di bawah sibuk menghitung sisa uang untuk bertahan hidup esok hari.(*)

  • Opini Adalah pendapat atau ulasan maupun pandangan masyarakat dengan tanggung jawab berada di tangan penulis
  • Penulis Adalah Perawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved